Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Antisipasi Bencana - BPBD Garut Ungsikan Warga Terdampak Tanah Longsor

Ribuan Personel Tagana Disiagakan

Ribuan Personel Tagana Disiagakan

Foto : ANTARA/Seno
A   A   A   Pengaturan Font
Puluhan ribu Tagana dan sahabat Tagana telah siap membantu evakuasi dan penanganan korban bencana alam akibat cuaca ekstrem.

 

SURABAYA - Kementerian Sosial menyiagakan sebanyak 35.766 personel taruna siaga bencana (Tagana) untuk menghadapi cuaca ekstrem seperti meningkatnya intensitas curah hujan yang berpotensi terjadinya banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Indonesia.


“Kami sudah melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam dengan menggelar apel siaga Tagana di sejumlah daerah, seperti Tomohon, Minahasa, Sulawesi Selatan, pada bulan Oktober 2017, dengan mengundang seluruh Tagana di Indonesia untuk melakukan mitigasi bencana bersama-sama,”

kata Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, seusai pemberian santunan korban longsor di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (17/11).


Tagana yang tersebar di seluruh Indonesia tersebut, kata Mensos, siap dikerahkan untuk membantu evakuasi dan penanganan korban bencana alam akibat cuaca ekstrem. Selain Tagana, juga telah disiagakan sahabat Tagana yang kini berjumlah 63.140 orang.


“Tidak ada yang ingin bencana terjadi, tapi bagaimanapun antisipasi dan kewaspadaan harus tetap dilakukan. Tagana selalu siap diterjunkan kapan pun dibutuhkan. Maksimal satu jam setelah kejadian harus sudah berada di lokasi,” tuturnya.


Khofifah mengatakan Tagana yang disiagakan Kemensos tidak sekadar memiliki kemampuan evakuasi saat bencana, namun juga layanan psikososial untuk korban bencana alam tersebut dan sedikitnya terdapat 5.300 Tagana yang menjadi Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP).


“Untuk para korban juga ada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan trauma healing dan trauma konseling melalui layanan dukungan psikososial tersebut, sehingga Tim LDP bergerak untuk memberikan layanan tersebut,” katanya.


Mensos mengatakan bencana alam yang sering terjadi setiap kali musim hujan, antara lain banjir, angin puting beliung, tanah longsor, dan banjir rob sehingga mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaannya terutama warga yang tinggal di wilayah rawan bencana.


Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mencatat ada 323 kabupaten/kota di Indonesia yang rawan bencana alam dan sekitar 71 kabupaten di antaranya termasuk zona merah. “Puluhan kabupaten zona merah itu menjadi prioritas penanggulangan bencana bagi Kemensos,” tandasnya.


Diterjang Banjir


Sementara itu, dari Tasikmalaya, Jawa Barat, dilaporkan bahwa sejumlah warga di Kecamatan Pupahiang terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara dan masjid karena rumahnya rusak akibat diterjang banjir yang disebabkan irigasi jebol, Kamis (16/11) malam.


Jajang (33), warga yang terdampak banjir, menuturkan hujan deras mengguyur wilayah Puspahiang menyebabkan saluran irigasi jebol, kemudian airnya masuk ke permukiman penduduk.


Ia menyampaikan, sebelumnya terdengar suara gemuruh air. Warga kaget melihat air yang mengalir deras di luar rumah, kemudian banyak yang berteriak meminta tolong. “Saat melihat ke luar rumah ternyata air begitu deras, seperti banjir bandang. Warga kaget dan bertetiak meminta pertolongan,” kata Jajang.


Secara terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, mengungsikan warga yang terdampak tanah longsor untuk menghindari bahaya bencana alam longsor susulan di Kecamatan, Singajaya, Garut, Jawa Barat.


“Seluruh korban dievakuasi ke tempat yang lebih aman dan tinggal bersama tetangga dan keluarga terdekat,” kata Kepala Pelaksana BPBD Garut, Dadi Zakaria.


Ia menuturkan hujan deras mengguyur wilayah selatan Garut memicu terjadinya bencana alam tanah longsor di Kampung Cipongpok, Desa Sukamulya, Kecamatan Singajaya.


Bencana longsor itu, kata dia, menyebabkan satu rumah rusak, dan 10 rumah warga lainnya terancam bahaya longsor susulan.


Sementara itu, Kepala BPBD Cianjur, Ahmad Rifai Azhari, mengatakan sejak awal November pihaknya telah mencanangkan gerakan untuk mewaspadai banjir dan longsor, terlebih menjelang puncak musim penghujan.


Sejak keluarnya surat edaran tanggap darurat bencana, BPBD terus bergerak melakukan pengawasan dan antisipasi bencana. SB/Ant/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment