RI Jangan Terlalu Terbuai Jadi Negara Maju | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 17 2021
No Comments
Proyeksi Ekonomi I Tanpa Resesi, Ekonomi Hanya Tumbuh di Kisaran 5 Persen

RI Jangan Terlalu Terbuai Jadi Negara Maju

RI Jangan Terlalu Terbuai Jadi Negara Maju

Foto : Sumber: Bank Dunia – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

>> Dengan masuk resesi ekonomi, seharusnya semakin realistis bahwa sulit keluar dari middle income trap.

>> Masalah fundamental masih menumpuk termasuk mental birokrat dan aparat hukum yang kerap merongrong pengusaha.

 

JAKARTA – Target Indonesia Emas dengan harapan menjadi salah satu negara yang maju kala berumur 100 ta­hun atau 2045 mendatang jangan men­jadi mimpi yang menyebabkan semua elemen bangsa terbuai. Sebab, untuk menjadi sebuah negara maju, Indonesia harus melakukan berbagai perbaikan secara fundamental yang dikenal de­ngan reformasi struktural.

Peneliti Ekonomi dari Center of Re­form on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet , yang diminta pendapatnya di Jakarta, Jumat (27/11), mengatakan saat ini harus realistis di mana dalam kondisi normal tanpa ada krisis Indonesia hanya tumbuh di kisaran 5 persen atau dalam kategori negara berpendapatan mene­ngah. Makanya, selalu diingatkan agar tidak terjebak dalam middle income trap.

“Itu dalam kondisi normal, apalagi dengan masuk resesi ekonomi akibat Covid-19, ekonomi malah berkontraksi dua kuartal berturut-turut, jadi sema­kin runyam untuk menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 8 persen,” kata Rendy.

Kondisi RI kian sulit dengan melihat tren deindustrialisasi dini serta masih menumpuknya permasalahan funda­mental ekonomi, seperti minimnya du­kungan sektor keuangan, biaya logistik yang tinggi, kredit usaha, dan mental birokrat, serta aparat hukum yang sering merongrong pelaku usaha dengan ber­bagai pajak siluman yang tidak jelas.

“Masih banyak pekerjaan rumah un­tuk mencapai target itu,” tegas Rendy.

Belajar dari pengalaman negara lain yang sudah lulus menjadi negara maju dan berhasil lepas dari jebakan kelas menengah seperti Korea Selatan, se­tidaknya ada dua pelajaran yang bisa ditiru dari Negeri Ginseng itu.

Pertama, pada saat akhirnya naik ke­las ke high income, pertumbuhan eko­nominya berada di kisaran 9 hingga 10 persen. Kedua, pertumbuhan itu bisa di­capai salah satunya dengan mendorong industri manufaktur, di saat Korsel naik kelas share industri manufakturnya ber­ada di kisaran 25 persen terhadap Pro­duk Domestik Bruto (PDB).

Tak hanya itu, industri manufakturnya pun, tambahnya, akhirnya berkembang menjadi industri manufaktur dengan ni­lai tambah yang tinggi. “Untuk bisa lepas dari jebakan kelas menengah tentu harus mendorong pertumbuhannya rata-rata di kisaran 8–9 persen dan juga menjadi­kan industri manufaktur sebagai engine of growth,” kata Yusuf Rendy.

“Middle Income Trap”

Dalam kesempatan terpisah, Men­teri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengatakan untuk menda­patkan status negara maju maka per­tumbuhan ekonomi Indonesia wajib tinggi. Menkeu memperkirakan eko­nomi Indonesia harus tumbuh 8 persen year on year (yoy) secara berkelanjutan jika ingin luput dari jebakan pendapat­an menengah atau middle income trap.

Untuk menjadi negara maju, Indone­sia, jelas Menkeu, bisa belajar dari ne­gara lain seperti Singapura yang meng­alami lompatan pertumbuhan ekonomi sejak 1971 hingga 1979 dengan besaran yang terjaga di level 8 persen. Bahkan, tetap terjaga di level 8 persen sampai ta­hun 1990. Sehingga Singapura pun bisa keluar dari middle income trap.

“Oleh karena itu, kita perlu benar-be­nar bekerja secara detail dan betul-betul memiliki determinasi, untuk mengatasi masalah struktural yang biasanya meng­hambat negara lebih maju pendapatan­nya,” kata Menkeu dalam seminar ber­tajuk Indonesia Emas 2045: Lulus dari Middle Income Trap, pada Jumat (27/11).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa sta­bilitas ekonomi makro harus konsisten dijaga. Meski diakui syaratnya memang tidaklah mudah. Selain itu, hal yang fun­damental harus ditingkatkan yaitu kua­litas sumber daya manusia.

Kemudian, infrastruktur masih sa­ngat dibutuhkan meskipun Indonesia sudah melakukan pembangunan yang cukup banyak.

Hal yang tak kalah penting kata Men­keu adalah urusan birokrasi di Indone­sia yang diakuinya masih berbelit-belit, sehingga perlu untuk disederhanakan agar terjadi transformasi ekonomi.

Sebelumnya, Menkeu juga mengata­kan pandemi Covid-19 tidak mengubah target Indonesia untuk bisa menjadi ne­gara maju pada tahun 2045 mendatang. “Dalam 25 tahun lagi, harapannya In­donesia masuk dalam empat negara de­ngan perekonomian terbesar di dunia,” tutup Menkeu. n ers/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment