Koran Jakarta | June 26 2019
No Comments
Kebijakan Energi - Pemerintah Tak Konsisten Bangun Energi Baru Terbarukan

RI Defisit Minyak Bumi tapi Tak Serius Garap Tenaga Surya

RI Defisit Minyak Bumi tapi Tak Serius Garap Tenaga Surya

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
>>Arab Saudi membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan kapasitas 200 gigawatt (GW).

>> Indonesia diperkirakan tidak mampu produksi minyak dalam 11- 12 tahun ke depan.

JAKARTA – Indonesia bakal mengalami kesulitan bahan baku energi karena dinilai lamban mengambil keputusan terkait pengembangan energi baru terbarukan. Indonesia juga terkesan tidak belajar dari negara lain yang telah meninggalkan energi fosil untuk beralih ke energi baru terbarukan.

Bahkan, Arab Saudi yang mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia justru sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 200 gigawatt (GW) pada tahun 2030. Pengamat energi dari Universitas Brawijaya Malang, Nurhuda, mengatakan langkah Arab Saudi membangun PLTS menunjukkan negara kerajaan itu sadar bahwa masa depan bahan bakar fosil akan segera berakhir.

“Perpindahan ke energi terbarukan adalah keniscayaan, sebetulnya semua negara menyadari itu. Hanya saja bangsa kita tidak suka tantangan, lebih suka hidup dalam harmoni, sehingga menghindari risiko konflik dari perpindahan itu,” kata Nurhuda saat dihubungi, Jumat (30/3).

Menurutnya, sudah seharusnya pemerintah mengembangkan energi baru terbarukan agar Indonesia tidak mengalami krisi energi, “Kebergantungan pada energi fosil menyebabkan bangsa Indonesia tersandera untuk mengembangkan potensi yang ada. Selain itu, pemerintah kita memang sering kurang konsisten pada roadmap EBT yang sudah dicanangkan sendiri, dari dulu selalu inkonsistensi yang jadi masalah,” pungkas dia.

Seperti diketahui, pada Rabu lalu, anak usaha SoftBank Group Corp Jepang, Vision Fund, mengumumkan akan berinvestasi di perusahaan energi surya Arab Saudi. Proyek tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 200 gigawatt (GW) pada 2030. Dengan demikian, kapasitas global akan bertambah sekitar 400 GW dan tidak jauh berbeda dengan kapasitas pembangkit listrik nuklir dunia yang mencapai 390 GW pada 2016.

CEO Softbank, Masayoshi Son, mengatakan proyek tahap awal akan dimulai dengan kapasitas sebesar 7,2 GW dengan biaya lima miliar dollar AS. Dari dana tersebut, Vision Fund berkontribusi satu miliar dollar AS dan empat miliar dollar AS lainnya dari pendanaan lain. Secara keseluruhan, proyek tersebut akan memakan biaya sebesar 200 miliar dollar AS.

Dana itu termasuk panel surya, penyimpanan baterai, dan fasilitas produksi panel surya di Arab Saudi. Diperoleh informasi, kesepakatan antara SoftBank dan Arab Saudi dilakukan lewat penandatanganan nota kesepahaman di New York, AS, pada Selasa (27/3). “Ini adalah langkah besar dalam sejarah manusia.

Ini langkah yang tegas dan berisiko dan kami berharap bisa melakukannya dengan sukses,” ujar Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Arab Saudi tengah berupaya melakukan diversifikasi atas penerimaan negara. Selama ini, negara Timur Tengah itu hanya mengandalkan minyak.

 

Berhenti Produksi

 

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Indonesia saat ini hanya memiliki cadangan minyak bumi 3,3 miliar barel. Ini artinya, dengan asumsi produksi minyak konstan 800 ribu barel per hari (bph), Indonesia tidak mampu memproduksi minyak lagi dalam 11 hingga 12 tahun ke depan.

“Mungkin (berhenti berproduksi) dalam 11–12 tahun ke depan, karena produksi akan turun. Tahun depan, mungkin turun menjadi 700 ribu bph dan seterusnya,” ujar Wakil Menteri ESDM, Archandra Tahar, beberapa waktu lalu. Bila dibandingkan dengan cadangan minyak dunia, milik Indonesia hanya setara dengan 0,2 persen.

Reserve Replacement Ratio (RRR) Indonesia juga dinilai masih rendah karena hanya sebesar 50 persen. “Kita (Indonesia) dua kali lebih banyak mengambil daripada menemukan, sementara negara-negara tetangga RRR-nya banyak yang di atas 100 persen,” imbuhnya. 

 

Ant/SB/YK/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment