Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments
Produksi Pertanian - Kebutuhan Pangan Rata-rata Tumbuh Sekitar 3% per Tahun

RI Berisiko Alami Krisis Pangan

RI Berisiko Alami Krisis Pangan

Foto : Sumber:BPS
A   A   A   Pengaturan Font

Indonesia perlu belajar dari India yang kini berhasil meningkatkan produksi pertanian tanpa menambah lahan melainkan dengan teknologi dan sistem.

JAKARTA – Indonesia rentan terjebak dalam krisis pangan ke depan akibat lonjakan populasi, penurunan luas lahan pertanian, dan dampak perubahan iklim. Karenanya, peningkatan produktivitas pangan perlu didorong, terutama melalui intensifikasi pertanian dengan implementasi teknologi. Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Kementerian Pertanian (Kementan) fokus mendorong modernisasi pertanian melalui implemenasi teknologi untuk menggenjot produksi.

Hal ini untuk mengantisipasi pertambahan populasi, kekurangan lahan pertanian serta peningkatan arus urbanisasi. “Kita harus fokus terapkan teknologi untuk genjot produksi. Jangan terus-terusan libatkan TNI!” tegasnya dalam acara Jakarta Food Security Summit di Jakarta, Kamis (8/3). Dalam acara tersebut hadir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani serta ribuan stakeholder terkait.

JK melanjutkan, saat ini, sektor pertanian menghadapi sejumlah persoalan, seperti penuruan produktivitas dan jumah petani. Wapres mencontohkan produksi padi di Indonesia hanya mencapai lima ton per hektar (ha), kalah jauh dibandingkan negara lain yang mencapai delapan ton per ha. Di sisi lain, jumlah pekerja pertanian terus turun. Pada 10 tahun lalu, jumlah petani 42 persen dari total pekerja di Indonesia.

Namun, kini hanya tinggal sekitar 31 persen. Penurunan itu disebabkan penghasilan petani yang terus anjlok. Selain pertanian, laju pertambahan penduduk di Indonesia dinilai relatif cepat, sekitar 1,5 persen per tahun. Bahkan, penduduk RI diproyeksikan mencapai 306 juta jiwa pada 2045 dengan mayoritas berada pada kelompok usia produktif. Kondisi itu berarti kebutuhan pangan rata-rata tumbuh sekitar tiga persen per tahun. Hal itu tentunya bisa menjadi ancaman bagi RI apabila pangan sebagai kebutuhan fundamental tak bisa menopang laju pertumbuhan penduduk. “Kita perlu belajar dari India, jika dahulu impor gandum, sekarang ekspor gandum tanpa menambah lahan. Karenanya pacu produksi dengan teknologi dan sistem,” kata JK.

Beri Pendampingan

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky O Widjaja mengatakan, atas dasar itulah, pelaku usaha membangun kemitraan dengan petani dan membentuk klaster pertanian. Caranya melalui skema closed up atau rantai kemitraan terintegrasi yang menghubungkan petani, koperasi, perusahaan selaku pembeli yang menyerap komoditas pangan (off taker) sekaligus penjamin pendanaan dan perbankan. Ini merupakan upaya kita untuk menggenjot produksi untuk semua sektor pertanian termasuk holtikultura, sapi perah, sapi potong, padi dan sebagainya. ers/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment