Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Strategi Bisnis

Revolusi Produk Otomotif Tiongkok Kian Mengglobal

Revolusi Produk Otomotif Tiongkok Kian Mengglobal

Foto : ANTARA News/Gilang Galiartha
Produk Tiongkok - Mobil buatan Tiongkok, Sokon Glory 580 yang diluncurkan di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, pekan lalu (19/4).
A   A   A   Pengaturan Font

BEIJING – Ambisi Tiongkok menjadi produsen otomotif kelas dunia kian tak terbendung. Terbukti, baru-baru ini kendaraan jenis Sport Utility Vehicle (SUV) hibrida buatan Negeri Tirai Bambu itu dipamerkan pada pertemuan penggemar otomotif di Amsterdam, Belanda.

Rencananya, mobil buatan Tiongkok itu akan diproduksi di Eropa Barat untuk dijual di benua itu dan ditargetkan bisa tampil pada ruang pamer kendaraan di Amerika Serikat.

Itulah rencana besar miliarder Li Shufu, pendiri Geely Group yang sempat memproduksi kulkas pada 1980-an, kemudian menanamkan saham pada Volvo, Lotus, London Black Cabs, dan di Daimler AG.

Li memelopori ambisi Tiongkok untuk tampil sejajar dengan tiga besar industri mobil global AS, Jerman, dan Jepang. Kehadiran Tiongkok membuat kelompok negara produsen itu menjadi Empat Besar.

“Saya ingin seluruh dunia mengetahui keberhasilan Geely dan mobil buatan Tiongkok lainnya. Impian Geely adalah menjadi perusahaan global.

Untuk melakukan itu, kita harus ekspansi,” kata Li seperti dikutip Bloomberg News, Selasa (24/4) Li tidak sendiri, setidaknya empat produsen mobil dan tiga perusahaan rintisan asal Tiongkok lain, SF Motors Inc, NIO, dan Byton, akan menjual mobil di AS mulai tahun depan.

Pada saat yang sama, BYD Co yang didukung oleh Warren Buffett sedang menyiapkan bus listrik di California, Baidu Inc bekerja sama dengan Microsoft Corp, TomTom NV dan Nvidia Corp untuk mengembangkan kendaraan swakemudi.

Sementara TuSimple Inc yang berbasis di Beijing sedang menguji coba anjungan tambang otonom besar di Arizona.

Industri otomotif berkembang saat Tiongkok meluncurkan kebijakan pembatasan kepemilikan asing sebesar 50 persen selama dua dasawarsa ke depan.

“Sekarang keadaan mereka lebih baik daripada sebelumnya. Mereka sudah banyak menghabiskan waktu bekerja sama dengan produsen internasional, dan kini semakin dewasa,” kata kepala peneliti otomotif BMI Research London, Anna-Marie Baisden.

Bukan hanya otomotif, Tiongkok dalam industri ponsel pintar juga telah bergeser dari teknologi dasar ponsel flip ke komputer seukuran tangan.

Kini, Tiongkok akan mendominasi industri manufaktur, mengalahkan produsen dominan dari Finlandia, Swedia, AS, Jepang, dan Jerman.

Bahkan, Gartner Inc menegasakan, tiga dari lima pembuat ponsel pintar terbesar di dunia tahun lalu adalah orang Tiongkok. Namun, kelanjutannya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk lebih sukses.

Hal itu disebabkan kesetiaan konsumen pada merek yang telah ada sejak Henry Ford memulai debutnya dengan kendaraan T Model pada 1908.

Di sinilah Tiongkok dituntut mampu mengubah keyakinan warga Midwesterners di AS menjual pickup Ford F-150 atau warga Tokyo beralih dari Toyota.

“Para pembuat mobil Tiongkok berniat untuk datang. Tetapi, apa yang akan mereka tawarkan? Apa alasan membeli mobil buatan mereka?” kata pejabat JD Power, Doug Betts. AFP/dari berbagai sumber/ ils/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment