Koran Jakarta | June 26 2017
No Comments

Relevansi Semangat Kartini

Relevansi Semangat Kartini

Foto : koran jakarta /ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Erni Damayanti

Banyak peringatan yang senantiasa dirayakan bangsa Indonesia. Salah satunya peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April. Apa sebenarnya yang mau ditimba dari setiap peringatan tersebut? Tentu salah satunya mencoba mengambil pelajaran yang baik untuk diaplikasikan dan disesuaikan dengan zaman sekarang.

Pertanyaannya, apakah kejadian yang telah begitu lama, masih cocok atau relevan dengan era gadget sekarang? Dunia telah berkembang begitu keras dan cepat. Apakah ini tidak dilihat sebagai jalan mundur andai bangsa Indonesia mengambil pelajaran dari wanita yang lahir lebih dari satu abad lalu?

Zaman boleh berkembang dan berubah. Ada perubahan secepat apa pun, namun tetap banyak nilai yang langgeng seperti iman, harapan, dan cinta. Zaman musnah pun ketiganya tetap tinggal. Semua itu mengandung nilai kejujuran dan keadilan. Itulah yang juga dimiliki RA Kartini. Siapakah Raden Ajeng Kartini ini? Sekadar mengingat sosok Kartini, dia lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879.

Putri pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan MA Ngasirah ini oleh ayahnya dilarang bersekolah sebagaimana adat Jawa pada waktu itu yang tidak membolehkan wanita menempuh pendidikan. Wanita hanya konco wingking (tugas di dapur) tak perlu pandai. Namun, setelah dipersunting Joyonegoro, Adipati Rembang, Kartini diberi kebebasan, termasuk untuk mengembangkan pendidikan. Kelak dalam rangka mengembangkan pendidikan, Putri Rembang ini mendirikan tempat belajar atau semacam “sekolah” di banyak tempat di Jawa.

Selama masa “kegelapan”, Kartini banyak berkoresponden dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri, khususnya yang ada di negeri Belanda. Tentu pada zaman itu sesuatu yang luar biasa dengan jarak ribuan kilometer untuk bersurat-menyurat. Namun kenyataannya, Kartini dapat mengirim surat kepada teman-teman di Belanda. Kelak, surat-suratnya dibukukan oleh Abendanon dengan judul asli Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini menginspirasi banyak kaum wanita, bahkan juga pria. 

Kartini memang akhinya wafat pada usia 25, tanggal 17 September 1904. Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964, pejuang ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Kepres itu juga menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini pada tanggal tersebut, yang juga jatuh pada hari ini.

Di tengah hiruk-pikuk politik dalam negeri, masihkah semangat Kartini dapat diunduh sebagai kekayaan bangsa? Tentu saja sangat bisa karena kemuliaan semangat untuk membebaskan bangsanya dari kebodohan bisa terus digaungkan. Sebab hingga kini, masih banyak masyarakat yang tertindas kebodohan sehingga banyak melahirkan kemiskinan. 

Tidak selalu benar, namun kebodohan dekat sekali dengan kemiskinan. Tetapi, orang bodoh bukan berarti orang jahat. Dia malahan tulus dan suci, namun sering disalahgunakan dan diperalat orang-orang pandai. 

Bukan Tujuan

Tentu bukan tujuan Kartini untuk membuat pandai bangsa, lalu ternyata banyak yang menyalahgunakan kepintarannya justru untuk membodohi sesamanya. Kartini tentu sedih melihat banyak orang cerdik pandai akhirnya menjadi jahat.

Tidak hanya bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan dan kegigihan Kartini membuka mata bangsa agar mengutamakan pendidikan sederajat bagi kaum wanita. Bangsa lain juga menghormatinya. Hal itu bisa dilihat dari banyak tempat memberi nama Jalan Kartini, seperti di Utrecht, Venlo, Amsterdam, dan Harleem. Untuk mengabadikan jasa-jasanya, komponis WR Supratman menulis lagu Ibu Kita Kartini.

Seluruh bangsa, tak hanya kaum wanita, harus berterima kasih kepada Kartini karena berkat keprihatinan dan kegigihannya, perempuan memperoleh kesetaraan pendidikan dengan kaum Adam. Kartini bersemangat membebaskan kaumnya dari kebodohan dan dinomorduakan di bawah subordinasi pria. 

Kini, semangat membebaskan Kartini tersebut telah berbuah. Namun sayang, tidak sedikit kaum wanita menyalahgunakan kepandaian yang dirintis Kartini. Kepintarannya bukan untuk membangun kesejahteraan sekaum, tapi malah untuk memperalat orang lain demi kepentingannya.

Sekarang banyak perempuan negeri ini berpendidikan tinggi. Bahkan, sudah ada yang pernah menjadi presiden. Negara seperti Amerika Serikat saja belum pernah memiliki presiden perempuan. Padahal, Amerika adalah negara maju dengan tingkat pendidikan luar biasa, baik pria maupun wanita.

Itu semua berkat kerja keras, keprihatinan, dan kepedulian Kartini. Visi Kartini jauh melampau usia dan zamannya. Dia berpikir andai terus saja bangsa Indonesia terbelakang di bidang pendidikan, terutama wanitanya, mungkin negara akan terus terbelakang sampai kapan pun. 

Pilkada putaran kedua DKI Jakarta baru saja selesai. Ramai-ramai pilkada menjadi bagian perjuangan kaum wanita juga. Semoga makin banyak kaum wanita menjadi pemimpin, tetapi pemimpin yang jujur dan adil. Jangan menjadi politisi lalu ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi . Hal itu bertolak belakang dengan tujuan perjuangan Kartini.

Kartini memiliki spirit ingin menghapus kebodohan yang menjadi sumber kemiskinan. Kartini ingin menghapus kegelapan dan kebodohan kaum wanita pribumi. Hasil jerih payahnya tak boleh dilewatkan begitu saja. Cita-cita dan visinya untuk menghapus perbudakan (kebodohan, kemiskinan, dan penindasan) harus terus direaktualisasikan. Cita-citanya harus dihidupkan kembali disesuaikan zaman agar terus menginspirasi bangsa Indonesia.

Wanita-wanita Indonesia harus mampu menyerap aspirasi dari semangat Kartini yang ingin membebaskan kaumnya dari perbudakan perbedaan gender dan kebodohan. Kini, wanita Indonesia sudah banyak yang pandai. Mereka tinggal mengikuti semangat Kartini sebagai wanita sejati yang memikul dan menjalankan keluhuran: hormat pada pengabdian dan menjaga diri dari eksploitasi. Wanita Indonesia harus menjauhi eksploitasi. Jangan sampai juga perempuan membiarkan dan menjajakan agar dirinya dieksploitasi.

Dalam perjalanan, tidak sedikit wanita jatuh ke dunia hitam dan obat-obat terlarang. Mereka tidak menghargai kehidupannya dengan menghamba pada obat terlarang. Ini sangat memprihatinkan karena dari dalam diri bakal lahir generasi-generasi berikut.

Wanita harus suci dalam arti menghormati dan setia pada janji pernikahan. Hidup dalam ketaatan dalam berumah tangga. 

Penulis Aktivis Sosial Kemasyrakatan

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment