Koran Jakarta | May 22 2019
No Comments

Rekreasi Jiwa

Rekreasi Jiwa

Foto : koran jakarta/aloysius widiyatmaka
A   A   A   Pengaturan Font

Manusia utuh harus sehat jiwa dan raga. Rekreasi selalu untuk menyegarkan jiwa dan raga tanpa terpisah-pisah. Namun yang terjadi, kerap kali orang melupakan kesehatan jiwa. Padahal jiwa juga memerlukan refreshing. Inilah yang bisa para pelancong lakukan di “Danau” Kemuning, Patok, Gunungkidul, DIY.

Kepenatan sering disalahtafsirkan bahwa itu hanya menyangkut badani. Padahal lebih-lebih kelelahan kerja menimpa batin atau psikis daripada fisik. Kelela­han fisik jauh lebih mudah disembuhkan dibanding kepenatan psikis. Lelah fisik cukup relaksasi seperti tidur, istirahat, atau dipijat. Setelah itu badan manusia akar kem­bali segar.

Namun, kefatikan psikis bisa jauh lebih sulit dan perlu waktu untuk menyembuhkan dan menyegarkan kembali. Sebab situasi ini memerlukan banyak cara dan menyangkut kerohanian seseorang. Salah satu yang dilakukan orang za­man dulu untuk menyehatkan kerohanian dengan retret tiga atau empat hari. Retret biasa mengambil tempat yang sunyi jauh dari kebisingan sehari-hari. Tujuannya agar orang bisa fokus “memperbaiki” kerusakan-kerusakan batin.

Kali ini, edisi wisata men­coba mengingatkan bahwa masyarakat juga perlu mema­suki daerah kesunyian untuk menghirup keheningan alam di Danau Kemuning, Patok, Gunungkidul, DIY. Suasana­nya benar-benar tenang, adem, dan semilir terutama pada pagi dan sore hari. Me­mang dalam musim panas pada siang hari juga panas.

Danau Kemuning cukup unik terutama lokasinya yang berada di tengah hutan jati. Untuk sampai ke lokasi, warga Jakarta dapat naik pesa­wat Garuda Indonesia atau Sriwijaya Air dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Ban­dara Adisucipto Yogyakarta. Dari sini bisa dilanjutkan ber­kendara sekitar satu setengah jam bila kondisi lalu lintas lancar. Bila macet bisa sampai dua jam.

Dari Jalan Raya Patok, wisatawan harus mema­suki jalan sempit tapi sudah dibeton kiri-kanan walau sudah banyak rusak. Mulailah perjalanan yang di kiri dan kanannya penuh kehijauan terutama pohon jati. Ini menghapus “asumsi” lama bahwa Gunungkidul itu ger­sang. Daerah ini benar-benar subur dan hijau.

Setelah beberapa waktu perjalanan “di tengah” hu­tan, akhirnya sampailah ke gerbang Desa Kemuning. Ini “satu-satunya” desa di dekat Danau Kemuning. Leng­kapnya danau ini terletak di Pedukuhan Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Sudah Lama

Sebenarnya danau yang luasnya hanya satu hektare lebih dan kedalaman tiga meteran ini sudah lama eksis. Kemudian diperbaiki dan dijadikan destinasi wisata pada 10 Juni 2012. Posisinya berada di luar dari Kemuning. Air yang terkumpul sepertinya berasal dari hutan milik Per­hutani dan Wanagama. Sekali lagi, pada pagi hari udaranya sejuk. Suasananya asri karena pohon-pohon yang ada di sekeliling cukup lebat, hijau, dan rapat.

Wisata di sini memang berbeda dari tempat lain. Namun, justru biasanya ini yang dicari karena orang tidak mau hanya yang serba-main stream. Anak zaman now maunya serbaberbeda. Me­nikmati keheningan, kes­ejukan pagi, kehijauan, dan kenyunyian. Itulah yang bisa dinikmati. Ini sesuatu yang semakin langka, tapi bisa ditemukan di Danau Kemun­ing.

“Danau Kemuning benar-benar segar, lepas dari hiruk-pikuk kota. Hati jadi damai,” cerita orang yang pernah me­ngunjungi Danau Kemuning, Susan (30). Dia merasa perlu ke tempat-tempat kesunyian seperti Danau Kemuning un­tuk penyegaran batin.

Bahkan kendaraan pun tidak ada. Hanya mereka yang sengaja ke danau. Juga tidak ada angkutan umum. Jadi un­tuk ke sini harus naik sepeda motor atau mobil sendiri. Lokasi jauh dari kota sehingga sulit atau tidak bisa menemu­kan angkutan online. Selain itu, perlu juga membawa bekal makan minum sendiri kalau datang pada hari-hari biasa. Sebab di danau ini tidak ada pedagang. Me­mang warung-warung kecil di Dusun Kemuning ada yang jual minuman dan makanan kecil.

Tidak ada pedagang karena dalam keseharian memang tidak banyak orang datang be­rekreasi. Paling-paling hanya anak-anak remaja yang me­madu kasih atau rekreasi yang sifatnya dadakan. Tidak ba­nyak turis yang datang pada hari biasa. Sabtu-Minggu ma­sih lumayan. Ada juga yang berkunjung, namun tidak banyak. “Nanti pada kegiatan besar yang diadakan panitia baru banyak wisatawan yang datang,” kata Dukuh Kemun­ing, Suhardi. wid/G-1

Lomba Mancing atau Makan Siang

Walau sehari-hari tidak banyak yang berkunjung atau berekreasi di “danau” atau telaga Kemuning, secara peri­odik diadakan kegiatan yang mendatangkan begitu banyak masyarakat sekitar Yogyakar­ta. Menurut Kepala Dukuh Kemuning, Suhardi, kegiatan yang banyak mendatangkan wisatawan antara lain acara “lomba mancing”.

“Lomba mancing diadakan tiap empat bulan,” katanya. Lomba mancing diadakan em­pat bulan sekali agar ikan-ikan membesar. Maka, tidak boleh ada yang memancing pada hari-hari biasa. Kalau sudah umur empat bulan, ikan yang ada di danau sudah besar. Ikan penghuni Danau Kemuning, antara lain nila, gurami, kotes, dan lele. Masyarakat sekitar Yogyakarta banyak ikut setiap diadakan lomba mancing.

Banyak ikan mencapai berat lebih dari satu kilo. Mereka membayar untuk ikut lomba mancing dan ikannya dapat dibawa pulang. Dalam kegiatan lomba mancing ini, biasanya juga disertai acara-acara ikutannya yang diadakan warga seperti pameran hasil kerajinan.

Makan Siang

Di luar berbagai kegiatan yang diadakan masyarakat setempat, banyak kantor atau instansi di daerah Gunung­kidul yang sengaja mengada­kan makan siang bersama. Kegiatan makan siang bisa dilakukan karena di samping danau sudah ada pendopo yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, termasuk makan siang.

“Instansi banyak yang memesan ingkung dan nasi ke warga Kemuning. Kemudi­an, ingkung dan nasi dibawa ke pendopo samping danau untuk disantap. Mereka makan sambil menikmati keindahan danau,” kata Suhardi. Me­nurutnya, paket ingkung dan nasi untuk empat sampai enam orang harganya 200.000 rupiah. Ini ingkung ayam kampung.

Menurut dukuh muda ini, masyarakat Kemuning juga menyediakan penginapan. Jadi, pengunjung yang bermi­nat beristirahat bisa menginap di Kemuning. Hanya, lebih baik bila menginformasikan lebih dulu kalau mau mengi­nap agar disiapkan guest house-nya. Mereka akan di­terima dengan baik. Disiapkan penginapan dan makanannya.

Ini sekaligus membantu pe­masukan masyarakat Kemun­ing. Walau “di tengah” hutan, warga di Kemuning juga sudah bisa menikmati listrik. Jadi, penerangan tidak masalah. Ra­ta-rata masyarakatnya bertani ladang. Walau ada juga yang menjadi pekerja kantor.

Jadi, para wisatawan dapat memasukkan Danau Kemun­ing ke dalam daftar kunjungan wisata pada hari-hari libur. Apalagi lokasinya sejalur de­ngan tempat-tempat rekreasi lain di Gunungkidul seperti Goa Pindul. Malahan untuk mereka yang datang dari Yog­yakarta, danau ini tidak terlalu jauh.

Untuk oleh-oleh, turis bisa memesan “wedang secang” yang menyegarkan. Bahkan, bila memberi tahu lebih dulu juga bisa membawa ingkung untuk dibawa pulang. Jadi, apalagi, silakan mencoba wisa­ta yang berbeda. wid/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment