Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments
Suara Daerah

Rekayasa Transportasi Berhasil Urai Kemacetan Mudik di Jatim

Rekayasa Transportasi Berhasil Urai Kemacetan Mudik di Jatim

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Fenomena pulang kampung atau mudik identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan seperti Idul Fitri. Mudik yang memiliki dimensi keagamaan sekaligus sosial, telah menjadi peristiwa yang sangat semarak, mengingat terjadi perpindahan manusia setiap tahun yang mencapai sekitar 17 juta jiwa.

Besarnya jumlah pemudik, terutama pada dua hari menjelang Lebaran, menimbulkan persoalan klasik yang tidak mudah dipecahkan. Persoalan tersebut, antara lain kemacetan, kecelakaan, kenaikan harga, dan inflasi hingga potensi arus urbanisasi pada arus balik.

Jawa Timur (Jatim) dengan jumlah penduduk mencapai 44.176.759 jiwa juga menghadapi permasalahan serupa. Namun demikian, mobilitas mudik yang terjadi di provinsi paling timur di Pulau Jawa ini tidak sebesar Jakarta, yang banyak dihuni kaum pendatang dari seluruh penjuru Nusantara.

Untuk mengetahui apa yang telah dilakukan dan yang perlu diperbaiki ke depan dalam penanganan arus mudik di wilayah tersebut, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesempatan mewawancarai Gubernur Jatim, Soekarwo, di Surabaya, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Pelaksanaan program mudik dan balik bareng di Jatim?

Pada prinsipnya, di Jatim program tersebut berjalan lancar. Dengan penggunaan sarana transportasi umum dalam program itu, telah cukup berhasil mengurai kepadatan arus mudik maupun balik. Masalah yang timbul (kemacetan arus mudik dan balik) lebih banyak terjadi di sekitar Jakarta dan Jawa Barat.

Bagaimana dengan penggunaan proyek tol Surabaya Kertosono selama masa mudik?

Kami mengapresiasi positif adanya tol fungsional Surabaya–Mojokerto (Sumo) dan Mojokerto–Kertosono yang menjadi solusi mengatasi kepadatan mobilitas transportasi di jalan utama saat arus mudik dan balik dari Surabaya. Istilahnya tol yang difungsionalkan saat arus mudik dan balik di Jatim kemarin relatif lancar, tanpa kemacetan dan kecelakaan di jalan nasional dan provinsi relatif menurun.

Tolnya memang belum sempurna 100 persen, namun dengan penjagaan dan pengamanan, jalan bisa dibuka satu lajur menggunakan manajemen pengarusan jalan, diatur pada saat mudik dari timur ke barat, sedangkan untuk balik dari barat ke timur. Jadi ada rekayasa transportasi untuk mengatasi kemacetan sehingga bisa mengurai kemacetan lalu lintas yang tahun lalu di pertigaan Mengkreng sempat terhenti delapan jam.

Harapannya bagaimana?

Kami berharap kepada operator jalan tol Sumo hingga jalan tol Kertosono–Madiun untuk segera melanjutkan pembangunannya sehingga Lebaran tahun depan benar-benar bisa dioperasionalkan, bukan fungsional lagi. Masih fungsional saja sudah ada manfaatnya, apalagi nanti kalau sudah operasional, tentu lebih terasa dampaknya.

Bagaimana dengan ruas jalan lainnya?

Selain tol Surabaya–Mojokerto hingga Mojokerto–Jombang–Kertosono bisa dioperasikan penuh tahun depan. Harapan kami ruas tol Pandaan–Malang, Rembang–Pasuruan Kota, dan Kertosono–Wilangan pada Lebaran tahun depan, tiga ruas jalan tol itu sudah bisa difungsikan.

Bagaimana soal kecelakaan?

Pada hari Jumat dan Sabtu (dua minggu lalu,) kami bersama Polda Jatim mengevaluasi. Prinsip dasarnya menurun, tapi kualitas korban (meninggal meningkat). Tapi, bukan ada pada arteri provinsi dan jalan negara. Kecelakaan lebih banyak terjadi di kabupaten dan antarkecamatan, sementara di jalan arteri provinsi dan jalan negara sangat rendah.

Evaluasi bersama yang dilakukan Polda Jatim untuk kecelakaan, terutama dengan korban meninggal, banyak terjadi pada ruas antarkecamatan dan kabupaten. Kecalakaan justru pada daerah yang infrastrukturnya baik, dengan banyaknya anak belum cukup umur yang mengendarai kendaraan.

Memang pada kawasan itu di luar pantauan polantas, ditambah kesadaran keluarga dalam pengawasan anak yang kurang.

Upaya untuk menekan kecelakaan di kawasan pedesaan?

Kontrol terhadap pemberian surat izin mengemudi (SIM) dan kepedulian keluarga pada anak belum cukup umur yang dibiarkan naik sepeda motor. Sebagian kejadian kecelakaan itu adalah sepeda motor yang dibawa oleh kerabatnya yang mudik dari perkotaan, lalu mereka gunakan. Karena belum mahir, lalu terjadi kecelakaan.

Terkait potensi urbanisasi yang pada arus balik?

Urbanisasi karena inflasi di pedesaan meningkat memang ada tahun lalu, tapi tahun ini inflasinya rendah. Sebetulnya, urbanisasi di Jatim relatif kecil. Sebagai indikasinya korelasi positif, berapa anak dari pasangan yang berusia subur, sudah saya hitung mulai 2008. Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) kalau rata-rata awal 0,71 dan pada tahun-tahun terakhir ini turun menjadi 0,61.

Artinya, pasangan usia suburnya 1,9 maka rendahnya LPP ini mengindikasikan kaum ibunya sebagian besar bekerja di pedesaan. Kalau orang menganggur biasanya anaknya banyak. Kalau perempuannya bekerja, otomatis anaknya akan sedikit dan memilih tetap tinggal di desa daripada tidak jelas ke kota.

Upaya untuk menekan urbanisasi?

Berbagai langkah dilakukan, di antaranya dengan fokus membangun pedesaan. Irigasi pertanian serta perluasan lahan produktif. Kami mengusulkan agar dana desa juga memperhitungkan pemberdayaan masyarakat desa melalui skema penyaluran spesific grant agar tidak semata proyek fisik. N-3

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment