Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments

Rehat di Banaran

Rehat di Banaran

Foto : koran jakarta/aloysius widiyatmaka
A   A   A   Pengaturan Font

Jalan Tol terbukti “memperpendek” jarak, sehingga orang makin mudah bepergian. Selain itu, waktu juga dipersingkat dengan adanya jalan tol. Kalau ada yang “nyinyir”, jalan tol memecah persatuan warga di kiri dan kanan jalan tol, hanyalah orang yang kepalanya penuh pandangan negatif.

Demikian juga Trans Jawa telah mempersingkat waktu tempuh. Misalnya, dari Jakarta ke Solo dulu ditempuh sekitar 12 jam. Kini setelah jalan tol nyambung dari Jakarta ke Surabaya, maka dari Jakarta ke Solo cukup enam jam saja. Dari Jakarta ke Semarang, tentu lebih singkat lagi, mungkin cukup lima jam.

Maka, bagi warga Jabodetabek yang ingin berekreasi ke Semarang, hanya memerlukan waktu lima jam sudah sampai lokasi. Salah satu destinasi yang bisa dilirik adalah “Kampoeng Kopi Banaran” (KKB). Tempatnya hanya beberapa ratus meter dari eksit Tol Bawen. Di sini, wisatawan juga bisa beristirahat dan bersantai.

Kawasan KKB berada di Jl Raya Semarang–Solo, KM 35. Lokasi ini milik PT Perkebunan (PTP) IX yang memanfaatkan areal perkebunan seluas 400 hektare dan dijadikan destinasi wisata. Kalau mau terbang, para turis dari Jakarta dapat berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, naik pesawat Garuda Indonesia atau Sriwijaya dengan tujuan Bandara Ahmad Yani, Semarang. Dari Ahmad Yani bisa dilanjutkan naik taksi ke lokasi, sekitar 30 menit, kalau tidak macet.

Sebelum eksplorasi di “bagian belakang” para pelancong dapat beristirahat dulu di bagian depan sambil menikmati berbagai menu, terutama ngopi tentu saja. Produk dari sini telah menembus pasar dunia, di antaranya diekspor ke Italia, Amerika, Jepang, dan Tiongkok. Komoditas yang ditanam di Kebun Getas Afdeling Assinan dengan ketinggian 500–600 meter di atas permukaan laut ini berjenis robusta. Di saat siang memang lumayan panas, tetapi kalau pagi atau sore cukup sejuk dengan tingkat suhu bisa berada di level 23 derajat Celsius, paling dingin, sedangkan dalam kondisi panas bisa mencapai 27 derajat Celsius.

Areal ini dirintis sejak awal abad 20. Hasilnya memang kebanyakan untuk tujuan ekspor. Sebagian kecil disisakan untuk konsumsi lokal. Lokasinya asyik karena didukung suasana yang memang ideal dalam tingkat ketinggian dan kesejukan.

Nama Banaran sendiri diambil dari sebuah dusun di Semarang, tempat pabrik berada. Seluruh hasil panen dibawa ke pabrik di Banaran yang terletak di Desa Gemawang, Jambu, Kabupaten Semarang. Begitulah jadinya “terbit” nama tersebut. Belakangan memang ada cabang di beberapa tempat.

Harga menunya pun sangat terjangkau mulai dari 9.000 rupiah secangkir. Hanya, sekarang tempat ini menjadi restoran biasa karena menu “apa saja” tersedia. Ini mulai dari makanan ringan sampai berat. Buku menunya pun besar dan tebal. Jadi, jangan kaget, tempat ini bukan kafe (lagi), tapi lebih tepat disebut restoran Banaran.

Taman Bermain

Masih di restoran ini, di halaman belakang terdapat tempat bermain anak-anak. Saat orang tua ngopi, anak-anak bisa bermain di taman tersebut. Di situ terdapat ayunan, kuda-kudaan, dan tempat mainan lainnya yang disediakan untuk anak-anak.

“Tempat ini enak untuk transit. Orang dewasa bisa menyantap makanan atau minum-minum. Sementara itu, anak-anak bisa bermain sama suster,” kata Ny Titin yang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Bekasi. Menurutnya, dengan sudah menyambungnya tol dari Jakarta ke Surabaya, semua serbamudah. Banaran ini pas bener. Dua setengah jam dari Yogyakarta pas waktu istirahat. Dari sini masuk ke tol lagi tidak jauh dan langsung bablas ke Bekasi.

Namun, bagi wisatawan yang mau mengenal betul KKB dianjurkan mampir sejenak ke Museum Kopi Banaran (MKB). Hanya, turis harus beranjak karena berbeda lokasi. MKB berada di Desa Gemawang, daerah Jambu, Kabupaten Semarang. Malahan kalau ke sini, pelancong bisa juga langsung mampir ke pabriknya karena hanya bersebelahan.

Sejarah produk ini tersaji di MKB. Banyak jenisnya di Indonesia yang dapat ditemukan di sini, tentu termasuk pengolahnya. Ini mulai dari alat tradisional seperti alu. Alat itu aslinya untuk menumbuk padi, tapi akhirnya juga buat menumbuk kopi. Komoditas tersebut dari berbagai daerah bisa disimak di sini. Baru dari MKB, orang akan menyadari betapa kayanya negeri ini akan barang ekspor yang satu ini.

Maka, sangat ironi kalau banyak kopi asing menyerbu kafe-kafe di Indonesia. Bisa jadi yang dijual kafe-kafe “asing” itu berasal dari sini, diolah, dan dijual di sini lagi dengan harga berlipat-lipat. Maka sudah tepat, saat Presiden Joko Widodo mendukung pengembangan industri ini secara nasional. wid/G-1

Area Transit yang Tepat

Gerbang area wisata Kampoeng Kopi Banaran (KKB) adalah restoran yang sekaligus tempat bersantap dan minum. Setelah rehat sejenak di restoran dan anak-anak puas rekreasi di Taman Bermain, saatnya wisatawan menjelajah hutan atau kebun kopi yang seluas 400 hektare.

Untuk menjelajah disediakan mobil yang disebut kereta wisata. Mobil bisa diisi lima sampai enam orang. Ini memudahkan bagi lansia atau mereka yang tidak mau berjalan kaki. Tapi kalau memang mau berolahraga, bisa juga menyusuri kebun dengan berjalan kaki. Apalagi untuk menggunakan kereta mesti membayar. Biasa, tidak ada yang gratis, zaman sekarang. Untuk naik kereta ini harus membayar 60.000 rupiah.

Di bagian belakang atau kebun kopi masyarakat bisa mengadakan gathering, coffee walk, atau out bound. Ada juga flying fox, berkeliling dengan bersepeda atau jelajah kebun menggunakan ATV. Wisata agro tersebut menyajikan panorama perkebunan yang luas menghijau dengan pohon-pohon yang cukup tinggi karena usianya banyak yang sudah di atas 60 tahun. Maklum, kebun ini sudah dikelola sejak zaman Belanda dengan udara sejuk dan segar.

Untuk anak-anak bisa menjadi pelajaran ekstraruang sekolah dan langsung melihat pohon atau biji kopi. Pilihan tersebut bisa menjadi wisata edukasi secara riil guna mengenalkannya kepada anak-anak. Apalagi, selain itu, juga ada perkebunan buah naga, jeruk, dan duku. Mungkin selama ini anak-anak hanya makan buahnya, tak pernah melihat pohonnya.

Lokasi ini baik untuk coffee walk bagi mereka yang biasa berjalan pagi hari, atau menikmati kehijauan dengan latar bawah danau Rawapening di kejauhan. Sekarang tengah ngetren wisata alam, KKB ini bisa menjadi alternatif.

KKB lumayan cocok untuk rekreasi keluarga, juga pertemuan atau gathering kantor. Mereka bisa memanfaatkan alam terbuka dengan pemandangan kehijauan dan udara sejuk, atau sekadar acara temu kangen sesama almamater dalam rangka “reuni”.

Nah, semua tinggal memilih. Wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya yang mau ke Solo atau Yogyakarta bisa transit sambil rehat di KKB. Atau sebaliknya, mereka yang mau ke Jakarta dan sekitarnya pun juga bisa mampir di sini. Selain dapat menjadi tempat rehat, KKB juga alternatif rekreasi murah meriah. wid/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment