Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments
WAWANCARA

Ravik Karsidi

Ravik Karsidi

Foto : Koran Jakarta/Eko Sugiarto Putro
A   A   A   Pengaturan Font
Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Ravik Karsidi, memasuki masa akhir kepemimpinannya pada awal 2019 ini. Dua periode kepemimpinan Ravik, banyak dinilai sebagai periode penting UNS dalam meletakkan landasan yang kuat untuk menyusul kampus-kampus terbaik. Sangat disadari bahwa tantangan ke depan tidak ringan.

Dengan moto Mangesthi Luhur Ambangun Nagara, UNS terus berusaha menggembleng sebanyak 32.931 mahasiswanya (data per 12 Juli 2018) itu sebaiknya-baiknya. Dengan 11 fakultas dan satu pascasarjana, kini UNS memiliki cukup banyak program studi. Tercatat 65 program sarjana, 26 program vokasi, empat program profesi, 42 program magister, 16 program doktoral, dan 14 program pendidikan spesialis dokter.Untuk mengetahui apa saja yang telah dan harus dilakukan oleh jajaran pimpinan UNS ke depan, wartawan Koran Jakarta, Eko Sugiarto Putro berkesempatan mewawancarai Rektor UNS, Ravik Karsidi, di Kampus UNS, Solo, beberapa waktu lalu. Berikut petikan selengkapnya.

Apa yang paling membuat Anda bangga selama memimpin UNS dua periode?

Membangun suatu organisasi pendidikan hingga seperti saat ini, bukanlah seperti membalik tangan. Maka ada yang saya sebut sebagai kerja budaya. Budaya akademik di Solo ini kan tidak seperti Yogyakarta. Ini kota bisnis. Membangun budaya akademik di Solo itu tugas setengah mati susahnya. Maka yang saya sentuh pertama adalah budaya kerja.

Bisa dijelaskan upaya tersebut?

Ada enam budaya aktif yang harus melekat pada setiap orang yang terlibat di UNS. Kami juga terapkan remunerasi, termasuk sebagai PTN pertama yang melakukan remunerasi di lingkungan PTN Dikti. UGM malah di belakang kami. Nah, mengubah struktur gaji ini saya dilawan 83 orang yang merupakan para pimpinan fakultas atau kepala program studi (Kaprodi). Kaprodi sebelumnya bisa menguji skripsi hingga 420 kali setahun. Ada honor tiap menguji.

Pertanyaannya, lalu bagaimana kualitas lulusannya kalau sebanyak itu mengujinya? Hampir tiga ribu karyawan dan hanya 83 karyawan, yang rata-rata profesor, dan punya suara besar, yang melawan. Tapi dengan penjelasan yang tepat, akhirnya ya mau menerima dan justru happy dan nyaman semua. Kalau mau akselerasi, maka sisi budayanya harus digarap.

Apa sebenarnya brand UNS?

Visi kami menjadi unggul di tingkat internasional, tapi tetap berpijak pada budaya nasional. Sebenarnya kalau disebut, ini adalah kampus budaya. Kami ingin menjadi pusat pengembangan ilmu dan teknologi, unggul di tingkat internasional berdasar nilai luhur nasional. Maka kami kembangkan Institute Javanologi. Bahkan kami sudah berani memberikan award pada dunia internasional, pada siapa yang kami anggap peduli pada budaya Jawa.

Kami membuat Javanese Culture Metric, di mana mulai tahun ini kami merangking 68 universitas di dunia yang punya studi Jawa. Oktober besok rangking kami akan keluar. Kalau UI merangking green campus, kami merangking budaya Jawa. Kemarin ada 23 ribu naskah kuno dari Museum Tropen, karena di sana tidak dirawat kami bawa pulang ke sini.

Apa catatan Anda untuk calon rektor berikutnya?

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), peta jalan sampai 2031 UNS menjadi World Class University itu dilanjutkan sesuai tahapannnya. Secara kelembagaan, UNS dari PTN biasa menjadi BLU lalu dinobatkan jadi PTN BLU terbaik pada 20 Desember kemarin. Menteri sudah menulis surat pada Presiden untuk menerbitkan PTNBH untuk UNS.

Apa yang ingin Anda tuntaskan?

Sebelum saya diganti, saya inginnya sistem informasi kampus sebagai big data sudah selesai. Identitas tunggal, jadi dari absen, jadwal, sampai informasi ruang kelas yang kosong mana saya bisa lihat dari komputer saya. Sistem informasi big data ini penting sekali ya.

Soal informasi ini vital ya. Dulu saat pertama saya menjadi rektor, tembok antarfakultas itu tinggi sekali, berarti banyak penguasa di masing-masing tembok. Nah, saya membuat Sentralisasi Administrasi Desentralisasi Akademik (SADA). Akademik urusan Anda, tapi administrasi harus lewat saya. Anda silakan mengusulkan, nanti kami yang distribusikan.

Bagaimana hasil dari SADA tersebut?

Dari sisi pendapatan ada fakultas basah dan kering. Fakultas kering nggak bisa melakukan apa-apa. FIB, Pertanian, kering. Sekarang tidak mencolok. Itu yang kami sebut dengan analisa struktur biaya, logis atau tidak sebuah pengeluaran. Nah, dinding antarfakultas itu sekarang telah runtuh. Kata kuncinya adalah resource sharing antarfakultas.

Dulu perpustakaan juga sendiri-sendiri di ruang Kaprodi, sekarang saya bangun perpustakaan delapan lantai. Laboratorium juga sama. Laboratorium teknik dulu susah untuk dipinjam pertanian. Ada fakultas baru, Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) belum punya laboratorium komputer, bisa saja minjam milik Ilmu Komputer FMIPA.

Terobosan ini mendapat respons dari kementerian?

Iya. Saya mendapat award dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) karena terobosan-terobosan seperti itu. Harapan saya, ini bisa dilanjutkan oleh rektor ke depan, selalu ada terobosan.

Setiap kali ada reshuffle kabinet Jokowi, Anda selalu disebut-sebut sebagai calon menteri, apakah siap terjun ke politik setelah purnatugas rektor UNS?

Dulu oleh Bapak, saya itu cuma disuruh jadi guru. Kebetulan saya hidup di kampung yang banyak guru. Ada 103 orang sekampung itu guru, guru SD, agama, dan lain-lain. Kampung saya di Sumber Lawang, Sragen. Nah, sekarang saya sudah jadi guru dan sudah jadi guru besar, ya sudah cukup. Sudah melampaui. Tapi kalau ada tugas lain yang dianggap saya masih mampu, ya tentu akan berusaha menerima amanah. Apa yang di depan saya, jadi amanah, ya taklakoni sebaik-baiknya. Yang penting sehat.

Pertanyaan lain, Anda menjadi pemimpin Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) pertama, bagaimana kisahnya?

Ini adalah lembaga permanen yang mengurusi tes masuk PTN. Saya diminta oleh para rektor dan Menteri untuk mengelola lembaga ini. Jadi, posisi saya ya sebagai perintis. Kenapa dipilih, tentu terkait dengan keterlibatan saya di SNMPTN yang lalu. Pernah menjadi bendahara dua tahun, jadi ketua juga dua tahun. Jadi ya mudah-mudahan lancar.

Apa saja kegiatan LTMPT?

Kegiatannya dua. Pertama, melakukan seleksi melalui jalur yang dulu dikenal sebagai jalur raport atau undangan. Tapi yang membedakan dengan tahun lalu, saat ini kuotanya sedikit diturunkan. 50 persen untuk yang terakreditasi A, 30 persen untuk B, C, dan yang tak terakreditasi hanya dapat jatah 5 persen. Kuotanya juga diturunkan, dulu minimum 30 persen, sekarang maksimum hanya 20 persen dari seluruh kuota.

Sisanya dialihkan menjadi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) semua. Nah, yang kedua adalah seleksi SBMPTN, di mana ada perubahan cukup drastis dibanding dengan ujian sebelumnya.

Apa saja perubahannya?

Pertama, dulu ujian berbasis kertas cetak sekarang berbasis komputer, ujian tulis berbasis komputer. Kedua, kalau dulu pelaksanaan tes hanya satu kali bersama-sama di seluruh Indonesia dengan waktu pendek hanya sekitar tiga jam. Nah, sekarang waktu tes kita distribusikan selama 10 hari dengan total 20 sesi atau dalam sehari ada dua sesi yakni pagi dan siang.

Dampak yang akan langsung terasa adalah menurunnya stres siswa dan orang tua karena tidak akan ada lagi mobilisasi massa besar-besaran dalam satu hari untuk mengikuti SBMPTN. Semua bisa memilih kapan mau tes. Ini tampak sepele, tapi pada siswa dan orang tua ini akan jadi perubahan besar.

Perubahan yang lain, sampai tahun lalu, tes hanya tahu lulus atau tidak. Tahun ini, ujian hari ini nilainya akan keluar 10 hari kemudian. Nilai yang keluar tidak hanya total skor, tapi juga nilai masing-masing komponen atau mata pelajaran. Jadi, nanti si siswa dan orang tua bisa tahu di mana tinggi dan rendahnya, apakah di fisika, bahasa, kimia, matematika, sehingga bisa lebih tepat dalam memilih jurusan.

Model ini juga membantu orang tua mengetahui bakat anak?

Orang tua maunya si anak masuk kedokteran, padahal ternyata biologi dan kimianya jelek. Nah, sekarang ketahuan di awal, sebelum mendaftar jurusan sudah ketahuan nilai-nilainya. Hal itu tentu akan membuat orang sadar di mana potensinya. Nilai hasil tes inilah yang akan digunakan untuk mendaftar ke PTN. Tidak seperti sekarang, daftar baru tes. Bayarnya hanya di tes, untuk pendaftaran ke PTN, gratis. Dengan metoda ujian yang baru ini harapannya masyarakat, baik orang tua maupun siswa sadar diri, di mana kemampuannya. Jangan hanya sekadar gengsi kuliah. Kalau nilai tidak cukup untuk universitas kan bisa ke vokasi.

Model ini berguna juga bagi pihak perguruan tinggi?

Bagi rektor dan perguruan tinggi, ini bagian dari tes prediksi. Bisa memilihkan siswa dengan lebih tepat. Karena jika jurusan tidak tepat, semester bisa lebih dari 10, dari sisi efisiensi kasihan bagi adik di bawahnya. Yang kedua, teman PTS pun bisa memanfaatkan ini, pendaftaran hanya melampirkan hasil tes ini dia sudah tidak usah nyeleksi, sudah bisa. Bagi siswa, bisa ikuti kesempatan tes dua kali dalam satu tahun. Yang terbaik mana kan bisa dipilih. Misal yang pertama flu berat, bisa mengulang.

Bagaimana dengan risiko konsentrasi siswa terbaik di satu PTN karena nilai sudah keluar dulu, bagi yang nilainya bagus tentu akan sangat percaya diri masuk PTN terbaik?

Semua dibatasi oleh kuota dan berapa jumlah kuota yang tersedia kan bisa diakses oleh calon mahasiswa. Katakanlah Teknik Industri ITB, kuota hanya 60, tetap ada risiko tidak lolos meski nilai tes si anak sudah bagus sekali. Maka, tetap saja milih jurusan boleh dua, saintek semua atau saintek sosial humaniora. Pilihan satu dan dua.

Menurut saya, yang paling harus dibuat menyesuaikan diri adalah teman-teman bimbingan belajar. Biasanya kan memprediksi bahkan menjamin bisa lolos ke sebuah jurusan di PTN. Nah, sekarang si siswa sudah tahu berapa nilai ujiannya sehingga cara siswa memilih jurusan juga akan sangat berbeda dengan era sebelumnya.

Bagaimana metoda tesnya?

Akan ada dua tes yakni tes potensi scholastic dan potensi akademik. Scholastik ini untuk mengetahui potensi kecerdasan. Dalam rangka membuat keadilan. Selama ini orang-orang kota yang punya fasilitas banyak, punya banyak kesempatan bimbingan tes. Beda dengan orang luar Jawa misalnya. Tes scholastic ini akan mampu menjelaskan, meski fasilitas kurang tapi kecerdasannya tetap akan terbaca.

Nah, tetap ada mata uji potensi akademik. Fisika, kimia, biologi itu yang akan masih bisa “dibimbingan-teskan”. Tapi sekarang, saya harap orang tua jangan terlalu berharap banyak sama bimbingan tes. Orientasi pendidikan jangan hanya menghafal. Percuma. Karena pola soal juga akan berubah dan tidak mengejar hafalan, namun pemahaman.

Bagaimana pola soalnya?

Saat ini kami menyiapkan seri tes banyak sekali. Jadi di hari yang sama di lokasi yang sama, lembar soal akan berbeda. Percuma cari bocoran. Mau ikut tes di akhir pun tidak akan berbeda dengan yang ikut tes awal. Karena soalnya beda, tapi setara dalam tingkat kesulitannya.

Ingat tahun kemarin soal matematika pada mengeluh, tahun ini kami akan tetap siapkan soal seperti itu. High order thinking skill. Model pertanyaannya tidak semata-mata abcd, tapi analisis. Kami kan gudangnya ahli. Seluruh Indonesia kami kumpulkan. Tapi kami tidak berpikir hanya di langit. Soal ini hasil audiensi dengan para guru. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment