Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments
Pencemaran Kali

Ratusan Ikan Ditemukan Mati di Kali Bekasi

Ratusan Ikan Ditemukan Mati di Kali Bekasi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

BEKASI - Ratusan ikan jenis bandaraya atau sapu-sapu ditemukan mati mengambang di bantaran Kali Bekasi, Jawa Barat, Rabu siang, diduga akibat terkontaminasi limbah.

“Lokasinya ada di pertemuan Sungai Cileungsi dengan Kali Bekasi di kawasan Curug Parigi Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi sekitar pukul 12.30 WIB,” kata Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) Puarman, di Bekasi, Rabu (12/9).

Menurut dia, temuan tersebut terjadi saat pihaknya melakukan observasi sungai menjelang pelaksanaan program “Bersih-Bersih Sungai” secara serentak di Indonesia pada Oktober 2018.

Ikan tersebut tampak mengambang secara berkerumun di sejumlah bantaran sungai yang mengeluarkan bau amis yang menyengat.

Pihaknya menduga, ikan tersebut mati akibat keracunan limbah industri yang sejak dua pekan terakhir mencemari aliran Sungai Cileungsi dan Kali Bekasi.

Indikasi tersebut disampaikan Puarman pascatemuan sebuah pipa pembuangan limbah yang tersembunyi di dasar sungai pada Senin (27/8) tepatnya di Kampung Bojong, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor yang mengarah ke Curug Parigi.

Pipa yang tertanam di dasar sungai itu berdiameter sekitar 70 centimeter yang sengaja disembunyikan pemiliknya di dalam aliran sungai.

Pipa dari sebuah perusahaan pakaian tersebut nampak secara kasat mata karena situasi debit sungai yang saat ini sedang menyusut akibat kemarau panjang.

Puarman mengaku telah melaporkan temuan ikan mati itu kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi untuk segera dilakukan penelusuran.
Secara terpisah, Kepala Dinas LH Kota Bekasi Jumhana Luthfi mengatakan segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan menelusuri spenyebab matinya ikan tersebut.

“Bisa saja ikan-ikan itu mati akibat mabok karena terjadi turbulensi aliran sungai dekat air terjun Curug Parigi di musim kemarau ini, atau bisa juga pengaruh limbah industri,” katanya.

Pihaknya hingga kini belum bisa membuat keseimpulan sebelum sampel air sungai yang diduga terkontaminasi limbah sudah benar-benar terdeteksi laboratorium. Diakui Jumhana, pihaknya saat ini tengah mengalami kekurangan personel pemantau sungai. “Yang menjadi masalah sekarang, kami kekurangan orang untuk memantau. Kami sudah bentuk pasukan ‘Katak’ beranggotakan 30 orang. Selama ini, mereka menyusuri sungai sambil angkut sampah,” katanya.

Namun sebanyak 30 personel yang dimulikinya saat ini masih dirasa kurang dan akan kembali ditambah pada 2019 untuk peningkatan kemampuan komunikasi,” katanya.

Sementara itu, kalangan ibu rumah tangga yang tergabung dalam Komunitas Srikandi Sayang Sungai (S3) menyuarakan keresahannya terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pencemaran Sungai Cileungsi di hulu Kali Bekasi dalam beberapa pekan terakhir.

“Pencemaran sungai ini diduga kuat akibat pengaruh limbah pabrik di sekitarnya. Air dan udara yang tadinya bersih, sekarang tercemar berat, berwarna hitam dan baunya menyengat,” kata Ketua Komunitas S3, Septiana.

Menurut dia, situasi Sungai Cileungsi yang menjadi hulu Kali Bekasi sudah sangat jauh dari kelayakan untuk pemanfaatan kebutuhan rumah tangga.

Menurut dia, situasi tersebut juga diperkuat dengan hasil tes laboratorium yang menyebutkan Sungai Cileungsi positif tercemar limbah.
Untuk itu, Komunitas S3 berinisiatif melakukan Aksi Damai di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, pada Kamis (13/9) 2018 guna melaporkan kondisi sungai yang sangat memprihatinkan.

 

Ant/P-5

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment