Rakyat Kesulitan Peroleh BBM dan Pangan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Krisis di Bolivia

Rakyat Kesulitan Peroleh BBM dan Pangan

Rakyat Kesulitan Peroleh BBM dan Pangan

Foto : AFP/AIZAR RALDES
KELANGKAAN PANGAN | Warga hendak membeli daging di sebuah kios yang hampir kosong di pasar terbuka di Rodriguez Market, La Paz, Bolivia, pada Sabtu (16/11) lalu. Kelangkaan bahan pangan mulai terasa sejak lengsernya mantan Presiden Evo Morales yang memicu kekisruhan politik sejak pekan lalu.
A   A   A   Pengaturan Font

LA PAZ – Seorang pengemu­di taksi Bolivia bernama Carlos Lara mengaku telah tiga malam tidur di kendaraannya yang te­ngah antre di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan ia berharap agar mobil tangki bensin bisa menembus barisan demonstran pendukung man­tan Presiden Evo Molaes yang menghambat laju distribusi ba­han bakar minyak (BBM) di Ibu Kota Bolivia, La Paz.

“Tak ada BBM artinya tak ada pekerjaan,” kata Lara, 72 tahun, pada Minggu (17/11). “Petugas SPBU berkata pasok­an BBM mungkin akan tiba es­ok, namun hingga kini mereka belum juga tiba,” imbuh dia.

Keluhan Lara itu disampaikan saat massa pendukung Morales memblokade jalan yang mengarah ke La Paz sehing­ga menyebabkan banyak SPBU tak mendapat pasokan BBM.

Tak hanya mengganggu pa­sokan BBM, pemblokadean ja­lan juga telah menyebabkan pasokan hasil pertanian dari wilayah timur Bolivia juga ter­henti. Akibatnya persediaan bahan makanan di La Paz pun mulai langka.

Kepala polisi Bolivia yang baru, Kolonel Rodolfo Monte­ro mengatakan bahwa aparat­nya telah mencoba berdialog dengan demonstran dan mem­bujuk mereka agar menghen­tikan blokade. Namun sayang­nya hingga saat ini dialog sama sekali tak membuahkan hasil.

Lara menyatakan tak me­nyalahkan mengapa demon­stran harus turun ke jalan dan menurutnya pemerintahan in­terim pimpinan presiden se­mentara Jeanine Anez telah membuat kesalahan besar dan bisa segera menenangkan se­mua pihak tanpa harus me­ngerahkan tentara dan poli­si untuk meredakan aksi un­juk rasa di Kota Cochabamba yang warganya merupakan pe­nyokong fanatik Morales.

Sejak lengsernya Morales dari jabatan Presiden Boliv­ia pada pekan lalu, La Paz ja­di medan utama aksi unjuk ra­sa yang memicu krisis politik. Morales mundur sepekan lalu setelah terjadi protes berdarah yang menuding telah terjadi­nya kecurangan hingga ia me­menangkan pilpres lalu.

Harga-harga Naik

Tak hanya BBM yang langka, ternyata pasokan pangan pun mulai susah diperoleh di pa­sar-pasar yang ada La Paz. Jika pun ada pedagang yang masih menjual dagangannya, harga pangan dilaporkan sudah me­rangkak naik.

“Saya mengerti tuntutan yang disuarakan demonstran dan mengapa mereka harus memblokade akses jalanan,” ka­ta Maria, seorang penjual bum­bu di pasar terbuka di Mercado Rodriguez, La Paz. “Namun be­gitu saya tak mau menaikkan harga dagangan saya walau ter­jadi krisis,” imbuh dia.

Namun tak semua orang mau bermurah hati seperti Ma­ria. Gualberto Albornoz, se­orang pembeli mengeluhkan harga pisang yang ia beli te­lah mengalami kenaikan har­ga dua kali lipat. Atas terjadi­nya kenaikan harga pangan itu Albornoz menyalahkan peng­unjuk rasa pendukung Mo­rales dengan mengatakan bah­wa mereka tak mengerti bahwa semuanya telah berakhir.

“Kita punya pemerintahan dan kita akan menggelar kem­bali pemilu untuk memilih pre­siden dan anggota kongres,” pungkas dia. ang/AFP/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment