Putusan Brexit di Tangan Parlemen | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Politik Inggris l PM Johnson Butuh 319 Suara di Parlemen Bagi Loloskan Kesepakatan Brexit

Putusan Brexit di Tangan Parlemen

Putusan Brexit di Tangan Parlemen

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Setelah Uni Eropa menyetujui kesepakatan Brexit terbaru, PM Boris Johnson harus menghadapi parlemen Inggris dan membujuk mereka agar mau menyetujui kesepakatan perceraian itu dan melaksanakan Brexit pada 31 Oktober.

LONDON – Seorang pejabat dari Kantor Perdana Menteri Inggris di Downing Street, London, pada Jumat (18/10) menyatakan bahwa Perdana Menteri Boris Johnson akan terus berupaya untuk membujuk anggota parlemen agar mereka mau menerima proposal kesepakatan keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa (Brexit) terbaru.


Hal itu dilakukan PM Johnson sebelum parlemen Inggris melaksanakan voting atas proposal itu pada akhir pekan ini.
Bujukan Johnson pada anggota parlemen Inggris dilakukan setelah sebelumnya ia berhasil menggolkan kesepakatan Brexit yang baru dengan Uni Eropa (UE) pada Kamis (17/10). Dengan keberhasilan itu, maka janji PM Johnson untuk melaksanakan Brexit pada 31 Oktober, tinggal selangkah lagi.
Walau telah disetujui UE, kesepakatan Brexit yang baru harus mendapat persetujuan Majelis Rendah di parlemen yang akan menggelar sidang pada Sabtu (19/10) untuk memperdebatkan isi dari kesepakatan Brexit.


Sejauh ini masih banyak anggota parlemen Inggris menentang isi dari kesepakatan Brexit yang baru itu.
“Saya amat yakin bahwa mitra saya di parlemen bisa menyetujui isi dari kesepakatan yang baru dan kemudian mereka akan meloloskan kesepakatan pada Sabtu, walau sejumlah analis memperkirakan akan ada hasil voting yang amat ketat,” kata PM Johnson dalam konferensi pers di Brussels, Belgia, pada Kamis (17/10). “Inilah saatnya bagi Inggris sebagai pendukung demokrasi untuk segera melaksanakan Brexit pada 31 Oktober mendatang,” imbuh dia.


Saat ini PM Johnson tak menguasai mayoritas di parlemen sementara partai-partai oposisi telah menentang kesepakatan Brexit terbaru, bahkan anggota parlemen sekutunya dari Partai Persatuan Demokratik dari Irlandia Utara (DUP), telah menyatakan tak mau menyokong syarat-syarat dari kesepakatan itu. PM Johnson membutuhkan dukungan dari anggota parlemen sebanyak minimal 319 suara agar bisa mengamankan kesepakatan Brexit terbaru.


Jika Majelis Rendah di parlemen menolak kesepakatan Brexit yang baru, maka PM Johnson akan dipaksa mematuhi undang-undang agar meminta UE menunda pelaksanaan Brexit untuk ketiga kalinya. Sebelumnya Johnson mengatakan bahwa dirinya lebih baik mati di got daripada harus meminta lagi penundaan pelaksanaan Brexit.


Sikap Eropa
Menanggapi opsi jika Brexit harus ditunda lagi, Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, mengatakan bahwa UE merasa keberatan jika proses Brexit yang telah berjalan selama 3 tahun itu harus diperpanjang lagi. “Jika putusan ditunda atas permintaan London, maka putusan akhir akan ada ditangan para pemimpin negara anggota UE,” kata Juncker.


Tanggapan terkait ini telah disampaikan PM Luksembourg, Xavier Bettel, yang pada Jumat menyatakan bahwa opsi saat ini bukan Brexit atau tanpa Brexit, namun ada kesepakatan atau tidak ada kesepakatan.
Kesepakatan Brexit terbaru yang berhasil dikompromikan Inggris dan UE pada Kamis lalu menyepakati untuk tetap membuka perbatasan antara Irlandia Utara yang merupakan wilayah dari Inggris dengan Irlandia yang merupakan negara anggota UE.


“Kesepakatan ini semakin mendekati kesepakatan final yang kami harapkan,” kata Presiden Dewan UE, Donald Tusk, tak lama setelah para petinggi UE menyatakan dukungan pada isi kesepakatan Brexit yang baru. ang/AFP/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment