Koran Jakarta | December 15 2017
No Comments

Putaran Ke-2: Kecemasan, Juga Harapan

Putaran Ke-2: Kecemasan, Juga Harapan

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Pilkada yang mendebarkan dan juga meriah,  ternyata belum selesai. Masih ada lanjutan, masih ada putaran ke-2 yang akan dilaksanakan nanti 12 April 2017. Juga menyisakan pertanyaan lanjutan: apakah ada debat lagi, apakah ada hari  libur lagi, dan masih ada teriakan ala “wahai rakyatku”, atau jenis jenis tak terduga di media sosial. Dua pasang calon yang akan berlaga kali ini, paslon Ahok-Jarot dengan Anies-Sandi, tak memberi kesempatan untuk ragu . Pilih salah satu, mengemohi yang lain. Dalam bahasa lirik puisi, terpisahkan antara “kota yes” dengan “kota no”. Pemilih tak sempat dibimbangkan suka ini, tapi juga mau yang itu. Rasanya tak ada kesempatan, dan sebaiknya begitu, untuk menjadi golput, golongan yang tak mempergunakan hak pilihnya.

Putaran ke-2 berarti  memperpanjang kecemasan—bagi yang kemarin cemas. Memang ini pilkada yang rada-rada aneh. Pilkada bukan berdasarkan pilihan yang disukai, melainkan karena kecemasan  yang bukan dipilih yang menang. Dengan kata lain, kecemasan atau kalau memakai kata ketakutan, masih akan panjang. Bukan sesuatu yang normal pada umumnya jika coblosan dilakukan karena dorongan ketakutan. Ini bukan lagi “perjuangan masih panjang”, atau “ketakutan masih panjang”, yang mencemaskan. Kita bisa memakai  istilah yang lebih menentramkan. Misalnya, yang menetralkan, seperti “harapan masih panjang”, atau “masih ada harapan”.

Kondisi ini yang terdengar, secara samar atau dalam bentuk kelakar, bagaimana jika pemenang yang ini dan bukan yang itu. Bagaimana dengan kelompok yang selama ini begana, dan tidak beginu. Artinya, yang diperhitungkan adalah kalau memilih ini, berarti begini. Dan sebaliknya. Ini yang sedang berlangsung, dan akan menunjukkan gejala-gejala sampai kemudian memasuki “minggu tenang”.

Pilkada serentak ini beritanya seakan dimonopoli yang terjadi di ibu kota Jakarta. Memang dari sono-nya begitu. Jakarta adalah pusat kegiatan politik, ekonomi, keamanan, juga gosip. Jakarta bukan hanya gambaran “Indonesia kecil” melainkan juga “Indonesia ke depan”. Bahkan, untuk menjadi gubernur DKI Jakarta pun tidak sekadar menang, melainkan harus di atas separuh. Itu sebabnya ada putaran ke-2. Yang kalau pesertanya dua paslon, pasti ada yang lebih separuh, kecuali kalau bisa betul-betul sama jumlahnya.

Apakah pada putaran ke-2, semua kecemasan berakhir, dan semua harapan mewujud? Inilah yang secara optimistis ingin menjadi pegangan penduduk Jakarta yang melaksanakan pemilihan. Karenanya yang diharapkan bukan lagi pembeda yang  “tak  terdamaikan”,  melainkan justru kembali dalam kebersamaan dalam persaudaraan.  Sebab jika ini yang tercapai, berarti putaran ke-2 ini benar-benar mendewasakan, benar-benar hasil suatu proses demokrasi yang maksimal. Sebaliknya , jika yang terjadi adalah pembeda, posisi berlawanan atau bahkan permusuhan, putaran ini bukan hanya sia-sia, melainkan memperpanjang kecemasan. Kecemasan pada ketidak-pastian, ketidakpuasan, dan pada saat itu apa pun bisa menjadi alasan. Ada kecurangan masif, ada rekayasa, ada dan ada alasan lain—yang bukan tidak mungkin benar adanya, atau benar sebagian kecil atau sebagian besar.  Yang kesemua ini bermuara pada: ketidak-percayaan. Tidak percaya pada siapa pun yang menjadi pemenang, dan kecurigaan terus menyertai. Tidak percaya bahwa sudah ada pemenangnya.

Ini yang menambah cemas, tapi juga memperkuat harapan. Bahwa masyarakat—termasuk elite politik, termasuk para petinggi, para yang berkuasa—pada akhirnya sadar bahwa menerima pilihan terbanyak adalah yang terbaik, selama dilakukan dengan benar sesuai standar. Dan pada saat itulah putaran ke-2  mengakhiri kecemasan yang tak selesai di putaran sebelumnya.

Semoga ga-ga-ga-ga.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment