Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments

Puisi sebagai Jembatan Membangun Perdamaian

Puisi sebagai Jembatan Membangun Perdamaian
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Pesan Damai, Aisyah, Maria, Zi Xing

Penulis : Tirmidzi Thahir AS, dkk

Penerbit : SKSP (Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban)

Cetakan : Cetakan 1, Februari 2018

Tebal : 322 Halaman

ISBN : 978-602-50771-6-6

Menulis puisi salah satu ben­tuk ekspresi mendalam hati nurani. Maka, puisi dapat digunakan dalam situasi dan kondisi apa pun. Dia menjadi solusi paling ampuh yang bisa mengatasi segala problematika masyarakat hari ini. Di dalamnya terdapat imajinasi dan majas yang—secara tidak langsung—menuntut pembaca dan pendengarnya agar selalu berpikir tentang kemanu­siaan dan segala yang melingkupinya.

Dengan berpuisi seseorang bebas bersuara dan mengungkapkan isi hatinya. Puisi adalah etika dan estetika yang menjembatani realita sosial. Gerakan menulis puisi tematik yang dilakukan oleh Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dalam buku ini mengangkat tema puisi dan perda­maian sangat urgen untuk diapresiasi, terutama pemerintah.

Melalui beberapa penyair dan penulis nasional, puisi menjelma se­bagai suara paling berharga untuk ke­manusiaan. Suara itu diejawantahkan melalui puisi dan terangkum rapi dalam buku antologi ini. Puisi dan per­damaian esensinya, dua entitas yang bisa saling berkolaborasi.

Puisi memang berawal dari hati nurani, sedangkan perdamaian juga harus disemai dari dalam hati nurani tiap-tiap individu. Untuk itulah, dalam pengantar buku dituliskan bahwa puisi dan perdamaian merupakan dua ru­ang saling melengkapi.

Ruang-ruang yang dibangun dalam penulisan puisi sebagai proyeksi dan imajinasi penyair atas fenomena sosial, ekonomi, agama, dan budaya yang se­ring kali mengalami distorsi antar-in­dividu maupun golongan. Sedangkan ruang yang dibangun dalam mencip­takan perdamaian adalah kesadaran kolektif seluruh anggota masyarakat.

Salah satu pelaku perdamai­an adalah seorang perempuan. Dia bisa menyemai perdamaian sebagai­mana ditulis Tirmidzi Thahir dalam puisinya tentang tiga gadis Rohingya yang sekaligus menjadi judul antologi ini.

Dalam bait puisinya dia menulis tentang perempuan muslim bernama Aisyah. “Suara Aisyah bagai Nada Harpa Kumala/bening matanya menunda purnama/gadis muslim yang berhasil menemukan surga di belan­tara dadanya/dari bibirnya mengalir tuak nirmaya/ langkahnya seperti belibis mabuk asmaraloka.

Di bait yang lainnya dia menuliskan tentang perempuan Buddha seperti dalam bait berikut. “Suara Zi Xing bagai dawai musim kawin/gadis bud­dhis bermata bulan sabit/senyumnya menjaring bidadari/jemari lentiknya harum mawar berduri/putih kulitnya mengiringi bunga melati.

Tak lupa Tirmidzi Thahir menu­liskan tentang perempuan Kristiani. “Suara Maria bagai rengek biola/dua telaga di bawah alisnya sesekali memanin gumpalan embun/gadis Kristiani mengerti benar kasih bunda Almasih/senyumnya menyimpan aroma melati/ tubuhnya menawan selusin peri (hal 04).

Buku ingin mengungkapkan ke­pada pembaca bahwa perdamaian tidak membedakan agama yang satu dengan lainnya. Tiga gadis itu berla­tar belakang agama berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa perdamai­an sebenarnya diajarkan oleh semua agama di dunia.

Hanya, penganutnya yang terlalu ekstrem, sehingga agama tidak lagi menebarkan pesan damai kepada seluruh umat manusia di dunia. Inilah yang perlu kita waspadai sebagai umat yang beragama.

Ini—menyitir judul puisi Darus Armedian dalam antologi ini—meru­pakan sejumlah masalah dari kepala manusia (hal 79). Puisi-puisi dalam antologi diharapkan dapat menjadi sebuah gerilya perdamaian. Dia bisa menjadi jembatan perdamaian. Diresensi Abd Warits, Mahasiswa Instika Sumenep

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment