Protokol Kesehatan Penumpang Pesawat | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Protokol Kesehatan Penumpang Pesawat

Protokol Kesehatan Penumpang Pesawat

Foto : ANTARA/HO-INACA
Ketua Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja (kanan) dan Direktur Operasional dan Pelayanan Angkasa Pura II Muhammad Wasid (kiri) saat kegiatan Safe Travel Campaign.
A   A   A   Pengaturan Font

Dunia penerbangan mulai beranjak ramai. Setelah selama tiga bulan lebih mati suri karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kini beberapa bandara mulai sibuk. Masyarakat sudah berani bepergian, baik untuk urusan bisnis, urusan pribadi, maupun untuk berwisata setelah selama masa PSBB banyak diam di rumah.

PT Angkasa Pura II (AP II) melalui program Safe Travel Campaign: Safe Airport for Safe Travel Experience berhasil menarik minat masyarakat untuk bepergian menggunakan pesawat dengan tetap menjaga protokol kesehatan Covid-19. Selama periode 1–6 Agustus 2020, jumlah penumpang pesawat dari 19 bandar udara yang dikelolanya meningkat 41 persen dibanding periode 1–6 Juli 2020. Selama periode 1–6 Agustus tersebut terdapat 4.500 traffic pesawat yang mengangkut sekitar 400.000 penumpang. Pihak AP II berjanji akan terus menjaga kepercayaan masyarakat sehingga bandara yang dikelolanya bisa optimal dalam menjaga konektivitas dan turut mendukung pemulihan ekonomi nasional.              

Senada dengan AP II, PT Angkasa Pura I (AP I) pun menerapkan protokol kesehatan guna melindungi pengguna jasa. Mereka menyediakan fasilitas rapid test di 11 bandara yang dikelolanya. Hal itu selain untuk meningkatkan kepercayaan, juga untuk memudahkan masyarakat yang ingin bepergian selama masa adaptasi kebiasaan baru. AP I mencatat pertumbuhan jumlah penumpang meningkat 110 persen selama bulan Juli, sebanyak 1.363.912 penumpang dibanding periode Juni 2020 sebanyak 648.567 penumpang.

Garuda Indonesia tidak mau ketinggalan. Satu-satunya maskapai Indonesia yang masuk dalam kategori Five Star Airline versi perusahaan riset yang berbasis di Inggris, Skytrax, memberikan kenyamanan dan jaminan kesehatan bagi pelanggannya dengan teknologi High Efficiency Particulate Arrestors (HEPA) filter. Melalui alat itu, sirkulasi di dalam pesawat tidak stagnan, fore aft rendah, dan dapat dipastikan suplai udara di dalam kabin terfilter dengan baik.

Sayangnya, langkah brilian AP I, AP II, maupun Garuda Indonesia tersebut tidak diikuti oleh stakeholder lain, seperti maskapai non-garuda maupun penumpang itu sendiri. Kalau toh menerapkan protokol kesehatan, tapi tidak dilakukan secara konsisten.

Dalam penerbangan Jakarta–Malang dengan salah satu maskapai, akhir Juli lalu, protokol kesehatan diterapkan dengan baik. Bangku tengah sengaja dikosongkan, yang diisi hanya tempat duduk di jendela dan lorong saja. Penumpang maksimal hanya 2/3 saja dari kapasitas tempat duduk yang tersedia. Namum selang tiga hari, dalam penerbangan Banyuwangi–Jakarta, masih maskapai yang sama, semua tempat duduk diisi penuh. Penerbangan siang hari itu ternyata digabung dengan penerbangan pagi hari dari maskapai yang masih satu grup dengannya. Praktis protokol kesehatan tidak dilakukan. Penumpang berdesakan, tidak ada pembatas, dan juga tidak ada face shield.

Banyak penumpang khawatir dengan kondisi itu. Mereka takut tertular sehingga muncul klaster penularan Covid-19 baru dalam penerbangan tersebut. Tetapi apa boleh buat, penerbangan dari Banyuwangi–Jakarta hari itu hanya ada satu, tidak ada pilihan. Itu hanya beberapa contoh tidak diterapkannya protokol kesehatan dalam penerbangan. Tentu banyak hal serupa terjadi dalam penerbangan rute lain.

Tapi, sebenarnya yang harus perduli dan harus mengikuti protokol kesehatan adalah penumpang itu sendiri. Langkah-langkah AP I, AP II, dan Garuda Indonesia untuk membuat penumpang pesawat nyaman dan aman, tidak berguna sama sekali jika penjumpang, yaitu pihak yang hendak diselamatkan dari penularan Covid-19, justru tidak peduli dengan itu semua.

Sebagai contoh, saat hendak turun atau keluar dari pesawat, cabin crew mengatur sedemikian rupa agar jarak antarpenumpang (physical distancing) selalu terjaga, tetapi kenyataanya banyak yang tidak sabar. Mereka berebutan keluar meski belum ada perintah atau tanda dari cabin crew. Kalau itu yang terjadi, sia-sialah semua yang dilakukan pihak lain. Mencegah penularan Covid-19 di dunia penerbangan tidak bisa dilakukan oleh satu, dua, atau beberapa stakeholder, tapi harus semua. Hanya dengan itu, tidak akan muncul klaster baru penularan Covid-19 dari dunia penerbangan. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment