Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments
Perang Dagang

Proteksionisme Bakal Ganggu Pertumbuhan Global

Proteksionisme Bakal Ganggu Pertumbuhan Global

Foto : AFP/NHAC NGUYEN
Wakil PM Tiongkok, Hu Chunhua
A   A   A   Pengaturan Font

HANOI - Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Hu Chunhua, menyatakan bahwa proteksionisme merupakan ancaman serius bagi pertumbuhan global. “Beberapa langkah proteksionis dan unilateral dari negara-negara individual sangat melemahkan rezim perdagangan multilateral yang berbasis peraturan.

Hal ini merupakan bahaya yang paling serius bagi ekonomi dunia. Mengisolasi diri sendiri tidak akan berujung ke mana-mana dan hanya keterbukaan yang mencerminkan arah maju,” kata Hu dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) regional ASEAN, di Hanoi, Vietnam, Rabu (12/9).

Hu tidak menyebut pihak yang dimaksud proteksionisme adalah Amerika Serikat (AS) yang dipimpin Presiden Donald Trump. Dia hanya menegaskan untuk berhati-hati dengan negara-negara yang berjalan sendiri dan memutarbalikkan sistem perdagangan global.

Ketegangan antara Tiongkok dan AS kian memanas setelah kedua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia itu semakin dekat melakukan perang dagang habis-habisan melalui saling memberlakukan tarif impor tambahan senilai miliaran dollar AS.

Bahkan, pada pekan lalu Presiden Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor pada barang-barang Tiongkok ke AS senilai lebih dari 500 miliar dollar AS, sebagai bagian dari kampanye “1st America”.

Isu perang dagang mendominasi di WEF, sebab para pemimpin Asia Tenggara menganggap defisit perdagangan disebabkan tekanan AS yang berada di bawah kekuasaan Trump.

 

Beralih dari Tiongkok

 

Negara-negara Asia Tenggara memantau ketat perselisihan antara Washington dan Beijing, disebabkan beberapa negara ingin mendapatkan keuntungan dari kejatuhan yang dialami negara lain. “Kami akan bekerja sama dengan mitra yang sehaluan untuk memperkuat sistem perdagangan internasional berbasis aturan.

Keadaan itu dapat mendorong pertumbuhan dan stabilitas, tetapi dengan tekanan,” kata PM Singapura, Lee Hsien Loong. Diperoleh laporan, peningkatan biaya tenaga kerja di Tiongkok telah menguntungkan negara-negara seperti Vietnam dan Kamboja, tempat produk-produk seperti sepatu Adidas, pakaian H & M, dan ponsel Samsung diproduksi dengan biaya murah.

Perang dagang telah mempercepat beberapa perusahaan Tiongkok beralih ke negara-negara itu dalam upaya menghindari tarif impor AS. “Negara-negara ASEAN tidak ingin menghitung jumlah ayam sebelum telur menetas. Tapi, saya kira mereka melihat sebagai keuntungan, karena terjadi pemindahan proses manufaktur ke Asia Tenggara dari Tiongkok,” kata managing partner Baker McKenzie di Vietnam, Fred Burke. 

 

AFP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment