Koran Jakarta | May 23 2017
No Comments

Prospek Cerah Demokrasi Digital

Prospek Cerah Demokrasi Digital

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul               : Demokrasi di Tangan Netizen Tantangan dan Prospek Demokrasi Digital

Penulis            : Dr Ir Fayakhun Andriadi, MKom

Penerbit          : Rmbooks

Terbit             : Oktober 2016

Tebal             : 349 halaman

ISBN              : 978-602-793662-1

Memasuki era digital, kini informasi semakin kompleks. Dampak kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, demokrasi juga bergerak dengan wajah baru melalui berbagai perubahan. Buku Demokrasi di Tangan NetizenTantangan dan Prospek Demokrasi Digital secara khusus mengupas berdemokrasi di era digital.

Keterlibatan media elektronik dengan jejaring sosialnya, seperti Facebook, Twitter, Instagram dan lain-lain membawa kehidupan berdemokrasi menuju arah yang lebih terbuka. Masyarakat dijamin bebas berpendapat. Pengguna internet dapat mengekspresikan diri selama tidak bertentangan dengan undang-undang. Melalui demokrasi digital pula inforamsi politik dapat diproduksi secara bebas dan disebarkan ke ruang publik.

Dengan demikian, revolusi informasi yang ditandai dengan lahirnya era teknologi digital, telah mengubah seluruh aspek kehidupan politik, ekonomi, budaya, sosial, pertahanan-keamanan, dan lainnya. Tak ada yang bisa lari atau sembunyi dari efek digitalisasi (halaman 4).

Era digital dan demokrasi berjalan beriringan semakin menemukan kesamaan karakteristik. Dua kesamaan yang paling penting adalah transparansi dan liberalisasi yang membuat teknologi digital dan demokrasi  klop.

Demokrasi digital adalah sebuah revolusi yang  menawarkan terobosan dan memunculkan tantangan baru bagi praktik demokrasi tradisional atau konvensional, terutama bagi pemerintah. Partisipasi politik berbasis media sosial bukan teoretik atau konseptual belaka. Basis fakta konsep ini sudah ada. Di Amerika Serikat fenomena ini telah dipraktikkan. Di Indonesia, ada beberapa fenomena kuatnya pemanfaatan media sosial sebagai alat partisipasi politik (halaman 308).

Polarisasi politik dalam demokrasi digital ini dapat dilihat dalam pemilihan presiden tahun 2014, bahkan menjelang Pilkada DKI saat ini. Kasus dugaan penistaan agama yang menyeret calon gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok contoh elite-elite politik yang berkepentingan memoblisasi massa melalui kampanye di jejaring media sosial. Mereka mampu menggerakkan solidaritas berbasis identitas keagamaan ini lintas daerah untuk turun ke jalan. Ini terlepas kepentingan elite diartikulasikan dalam kasus ini. Namun demokrasi digital nyata di hadapan.

Yang melek internet akan menyaksikan gegap gempita pengguna media sosial yang saling mendukung atau menolak calon tertentu. Penggunaan media sosial secara tidak langsung mengubah dan memengaruhi proses demokratisasi politik.

Di era digital seorang presiden ataupun kepala daerah tidak lagi mengandalkan tatap muka langsung. Interaksinya kini bisa berlangsung di media sosial. Dengan pola komunikasi seperti ini,  penyampaian kebijakan ataupun program secara tradisional mulai ditinggalkan. Sebab melalui internet pesan akan lebih efektif dan cepat diterima.

Publik juga bisa langsung menyampaikan aspirasi, tanpa harus bertemu langsung penguasa. Namun, perlu diingat juga bahwa kehadiran media sosial dapat merusak demokrasi jika masyarakat tidak hati-hati dan bijak menggunakannya. Ketidakhati-hatian akan membuat masyarakat mudah termakan berita fitnah (hoax) seperti akhir-akhir ini.

Buku ini berisi pesan, masyarakat agar berhati-hati meggunakan internet. Sebab, masa depan demokrasi digital ada di tangan masyarakat itu sendiri.

Diresensi Wardatul Hasanah, Mahasiswi Jurusan Filsafat UIN Jakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment