Koran Jakarta | July 22 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi 2019 - Belum Ada “Grand Design” untuk Pacu Pertumbuhan Tinggi

Produktivitas Rendah, Pertumbuhan Macet di Level 5%

Produktivitas Rendah, Pertumbuhan Macet di Level 5%

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and
» Produktivitas sektor riil yang rendah tidak mampu mendukung kinerja ekspor.

» Kebijakan justru lemahkan sektor pertanian sebagai penyerap tenaga kerja terbesar.

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Sejak 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti terkunci dan sulit beranjak dari stagnasi di level 5 persen. Bahkan, hingga tahun ini pun pertumbuhan masih ditargetkan pada angka 5,3 persen. Sejumlah kalangan menilai pertumbuhan gagal melesat tinggi karena lebih banyak mengandalkan sektor konsumsi rumah tangga yang sebagian besar berasal dari impor, khususnya pangan dan barang konsumsi.

Di sisi lain, produktivitas nasional, khususnya sektor riil, relatif rendah sehingga tidak mampu memacu kinerja ekspor untuk mengimbangi laju impor. Akibatnya, net ekspor sebagai komponen pendorong pertumbuhan justru selalu negatif. Ekonom Indef, Achmad Heri Firdaus, mengatakan faktor yang paling menghambat pertumbuhan adalah defisit neraca perdagangan dari komponen net ekspor yang negatif.

“Harusnya, kalau net ekspor positif saja, kita bisa mencapai pertumbuhan 5,2 persen,” kata dia, di Jakarta, Kamis (3/1). Faktor kedua, investasi yang kurang optimal. Akibatnya, pertumbuhan industri atau sektor riil juga kurang optimal. Bahkan, pertumbuhan industri manufaktur di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ketika industri nggak optimal, kinerja ekspor juga lemah. Apa yang mau diekspor, barangnya nggak ada, itu-itu saja atau cuma sedikit. Akibatnya, impor yang naik sedemikian tinggi tidak terkompensasi oleh ekspor yang juga seharusnya lebih tinggi,” kata Heri. Beruntung, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi masih tertolong oleh konsumsi rumah tangga.

Oleh karena itu, konsumsi yang menyumbang lebih dari 50 persen perekonomian harus tetap dijaga agar tidak mereduksi pertumbuhan ekonomi. Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga menyebutkan bahwa penyebab stagnasi pertumbuhan ekonomi adalah masalah produktivitas.

Staf Ahli Menteri PPN bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur, Bambang Priyambodo, menjelaskan tingkat produktivitas Indonesia masih tertinggal dari negara lain. Masalahnya adalah transformasi struktural yang tecermin dari tenaga kerja di Indonesia. “Lebih dari 30 persen tenaga kerja bekerja di sektor pertanian.

Selain itu, juga masalah deindustrialisasi. Meskipun pangsa industri manufaktur kita masih tinggi, namun dibandingkan Malaysia dan Thailand, justru turun,” ungkap dia. Menurut Bambang, kinerja industri manufaktur yang memburuk juga berdampak pada kinerja perdagangan internasional. Setelah 40 tahun, ekspor kita masih didominasi oleh komoditas.

Ekonom Husen Sawit menilai perkembangan sektor riil terhambat karena minimnya dukungan pemerintah. Misalnya, pembangunan infrastruktur yang dibangun pemerintah ternyata tidak sejalan dengan perkembangan sektor riil. Husen juga menyoroti kinerja sektor pertanian.

Banyak usaha kecil pertanian tutup akibat kebijakan pemerintah yang justru melemahkan petani, seperti impor pangan yang masif dan penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET). “Jadi itu bikin nggak kondusif, industri sulit berkembang. Padahal, industri pertanian itu banyak menyerap tenaga kerja dan bersentuhan dengan angka kemiskinan,” tukas dia.

 

Tambal Sulam

 

Sementara itu, pemerintah memperkirakan sepanjang 2018 pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 5,15 persen, lebih rendah dari target APBN 2018 yang 5,4 persen. Kesulitan mencapai target itu karena pengaruh ketidakpastian ekonomi global. Sedangkan dalam APBN 2019, pertumbuhan ditargetkan sebesar 5,3 persen.

Menurut Heri, semua permasalahan pada pertumbuhan itu dipicu oleh kebijakan yang belum sejalan. Meskipun pemerintah sudah cukup banyak mengeluarkan kebijakan, tapi terkesan hanya tambal sulam atau hanya melihat secara jangka pendek saja.

“Jangka panjang oke, tapi nggak konsisten. Dua-tiga tahun berubah. Jadi grand design kebijakan itu belum terlihat dampak positifnya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” kata dia. 

 

ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment