Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments
Penataan Tanah Abang

Pro Kontra Larangan Pejalan Kaki di Jalan Jatibaru

Pro Kontra Larangan Pejalan Kaki di Jalan Jatibaru

Foto : Koran Jakarta/John Abimanyu
Langgar Aturan I Pejalan kaki menggunakan trotoar Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (10/2). Sebagian warga masih tetap melintas di trotoar Jalan Jati Baru, meski Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah melarangnya sejak Kamis (7/2).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Aturan yang melarang pejalan kaki melintas di Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, menuai tanggapan pro dan kontra dari para pejalan kaki.

Pantauan Koran Jakarta tampak trotoar Jalan Jatibaru, Tanah Abang, masih dilalui sejumlah pejalan kaki yang hendak menggunakan jasa KRL di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sejumlah masyarakat merasa keberatan larangan pejalan kaki melintas di trotoar Jalan Jatibaru, Jakarta Pusat. Salah satunya, Siti Khotimah, mengaku dirinya tidak setuju jika ada larangan tersebut. Karena menyulitkan pejalan kaki yang lain jika ingin berpindah akses.

“Kalau nanti dilarang melintas akses lewat atas, maka kami sulit untuk pindah kendaraan. Jadi, saya tidak setuju dengan adanya larangan tersebut,” kata Siti Kotimah ditemui di Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (10/2).

Hal berbeda juga diungkapan oleh Santi mengungkapkan dengan adanya skybridge ini memudahkannya untuk melintas dari stasiun menuju ke pasar. “Kalau menurut saya, saya setuju jika trotoar ditutup dan semua pejalan kaki dapat melalui skybridge. Karena akses langsung mudah dilalui tanpa harus berdesak-desakan dengan orang lain,” jelasnya.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, mengaku dirinya menolak peraturan Pemprov DKI yang melarang pejalan kaki yang melintas di trotoar Jalan Jatibaru Tanah Abang.

“Saat orang keluar dari stasiun (Tanah Abang), jangan melarang dibatasi untuk melintas di trotoar dibawahnya,” ujar Alfred.

Alfred menyarankan agar para pedagang kaki lima ditempatkan di atas skybridge untuk berjualan. Sedangkan pejalan kaki harus leluasa di troatar di bawahnya.

“Jadi jangan dipaksakan adanya hak pejalan kaki tadinya ditrotoar kenapa dihilangkan atau dilarang untuk melintas,” lanjutnya.

Sementara, Direktur Utama Perumda Pembangunan Sarana Jaya, Yoory C, mengatakan ketertiban dari masyarakat menjadi indikator kesiapan skybridge untuk diresmikan.

“Belum (akan peresmian). Kan kita masih ada hal yang terus-menerus diperbaiki. Maksudnya gini lho, sampai betul-betul masyarakat perilakunya berubah, ya tidak ada lagi yang nyeberang atau melintasi trotoar di bawah,” tandasnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah melakukan pengaturan ulang jalur pejalan kaki di bawah kolong Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) atau skybridge di Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kebijakan tersebut resmi diberlakukan hari ini Kamis (7/2). john/P-5

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment