Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments
Perang Dagang

Presiden Xi Jinping Bersedia Bertemu Trump di Osaka

Presiden Xi Jinping Bersedia Bertemu Trump di Osaka

Foto : NICOLAS ASFOURI/AFP
Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping
A   A   A   Pengaturan Font

BEJING – Presiden Tiongkok, Xi Jinping, berharap dapat mengatasi masalah mendasar antara Tiongkok- Amerika Serikat (AS) dalam pertemu­an dengan Presiden Donald Trump di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Jepang, pekan depan.

Menurut laporan media pemerin­tah Tiongkok dalam pembicaraan tele­pon antara kedua pemimpin, Xi me­nyatakan kesediaann untuk bertemu Trump. Sementara Trump juga mem­benarkan hal itu lewat Twitter.

“Saya bersedia bertemu dengan presiden selama KTT G20 di Osaka un­tuk bertukar pendapat tentang masa­lah mendasar pengembangan hubung­an AS-Tiongkok,” kata Xi, Rabu (19/6).

Keduanya akan bertemu pada per­temuan puncak G20 pada 28 dan 29 Juni di Osaka, Jepang. Pembicaraan mereka akan menjadi perkembangan positif pertama dalam hubungan per­dagangan Tiongkok-AS sejak buntu pada awal Mei lalu.

Seperti diketahui, hubungan Tiongkok-AS telah memburuk dengan cepat di bidang politik, ekonomi, dan militer. AS menyebut Tiongkok seba­gai pesaing strategis dan menuduh Beijing melakukan kegiatan spionase dan membahayakan keamanan na­sional. Keretakan semakin lebar sela­ma perang dagang yang telag dimulai sejak tahun lalu ketika Trump berjanji untuk mengakhiri ketidakseimbang­an perdagangan dengan Tiongkok.

Kabar soal pertemuan telah men­dongkrak saham global, di antaranya Wall Street menguat pada Selasa dan pasar saham Asia melonjak pada Rabu. Gedung Putih menyebutkan, kedua pemimpin ingin meningkatkan peme­rataan lapangan kerja bagi para petani, buruh, dan swasta melalui hubungan ekonomi yang adil dan timbal balik.

Harus Dijaga

Mantan juru runding perdagangan AS, Wendy Cutler, mengatakan, ha­rapan tentang kemajuan yang dapat dicapai dalam pertemuan kedua pe­mimpin itu harus dijaga.

“Mengambil satu halaman dari buku pedoman pertemuan terakhir mereka di Argentina, hasil yang opti­mal akan menjadi kesepakatan untuk melanjutkan pembicaraan, dengan panduan tingkat tinggi tentang bagai­mana mendekati isu-isu yang masih tersisa, ditambah dengan gencatan senjata sementara pada tarif, serta tindakan eskalasi lebih lanjut terkait perdagangan,” kata Cutler, yang juga menjadi Wakil Presiden di Institut Kebijakan Masyarakat Asia.

“Tapi, ini sama sekali tidak men­jamin hasil. Satu kartu liar adalah seberapa kuat Beijing akan menekan beberapa tindakan yang diambil ter­hadap Huawei sebagai harga untuk kesepakatan dagang, dan bagaimana Trump akan merespons. Dengan kekecewaan komunitas keamanan nasional, Presiden AS mengatakan bahwa dia mungkin siap untuk me­lakukan itu,” tambahnya.

Pakar dari Universitas Bisnis Inter­nasional dan Ekonomi di Beijing, Cui Fan, mengatakan ada ruang Tiongkok ingin bekerja sama dengan AS. “Ketika industri Tiongkok ditingkatkan, per­saingan antara Tiongkok dan AS akan menjadi biasa dalam jangka panjang,” tukasnya. SCMP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment