Presiden Minta Belanja Negara Digenjot di Kuartal III-2020 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments

Presiden Minta Belanja Negara Digenjot di Kuartal III-2020

Presiden Minta Belanja Negara Digenjot di Kuartal III-2020

Foto : ANTARA/HAFIDZ MUBARAK A
DANA UNTUK KOPERASI | Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) dan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (dua dari kiri) bersiap menghadiri acara penyaluran dana bergulir untuk koperasi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (23/7). Pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah menyiapkan dana bergulir sebesar 1 triliun rupiah untuk disalurkan kepada koperasi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional yang terdampak Covid-19.
A   A   A   Pengaturan Font

» Kontraksi ekonomi di kuartal II berpotensi berlanjut ke kuartal III-2020.

» Kebijakan fiskal dan moneter diharapkan efektif mendukung pemulihan.

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajaran kementerian/ lembaga di sektor perekonomian untuk bekerja keras memanfaatkan momen­tum pemulihan ekonomi pada kuartal III-2020. Jika tidak meningkat maka kon­disi ekonomi pada kuartal selanjutnya berpotensi lebih sulit.

“Kita berharap di kuartal ketiga, kita sudah harus naik lagi. Kalau enggak, enggak ngerti lagi saya, betapa akan le­bih sulit kita,” kata Kepala Negara dalam acara penyaluran dana bergulir untuk koperasi dalam rangka Pemulihan Eko­nomi Nasional (PEN).

Presiden pun meminta untuk memu­lihkan konsumsi masyarakat dan ekspor yang sudah terjadi di Juli 2020. Momen­tum tersebut dapat dimanfaatkan se­baik-baiknya oleh pelaku usaha dan juga lembaga pembiayaan, termasuk koperasi untuk mengungkit perekonomian.

Jajaran menteri dan pimpinan lem­baga negara diminta mempercepat pe­nyaluran anggaran agar memberi efek berganda ke sektor riil. “Saya sampaikan ini juga kepada semua menteri agar be­lanja APBN di tiga bulan ini (Juli, Agus­tus, September-red). Kesempatan kita ada di sini,” kata Presiden.

Kepala Negara memperkirakan pada kuartal II-2020 ekonomi akan terkon­traksi ke level negatif 4,3 persen. Namun di kuartal III- 2020, diyakini Indonesia akan memasuki masa pemulihan. “Kita hanya punya waktu untuk mengungkit ini di Juli, Agustus, September. Kalau kita bisa mengungkit ini, insya Allah kuartal keempat lebih mudah, tahun de­pan lebih mudah,” kata Presiden Jokowi.

Dikatakan, perbaikan konsumsi dito­pang realisasi bantuan sosial, seperti Ban­tuan Langsung Tunai (BLT) dana desa, bantuan sosial sembako, dan jaring pen­gaman sosial lainnya. “Saya senang sudah ada angka-angka yang baik, konsumsi su­dah mulai terungkit naik. Artinya, mung­kin peredaran uang di bawah karena ada BLT desa, bansos tunai, bansos sembako, itu akan sangat mempengaruhi daya beli dan konsumsi rumah tangga, konsumsi masyarakat,” tambah Presiden.

Kinerja ekspor sendiri, kata Jokowi, juga mulai membaik dibandingkan re­alisasi pada Mei dan Juni 2020. Momen­tum perbaikan ekonomi itu diharapkan bisa manfaatkan sebaik-baiknya oleh lembaga pembiayaan dan juga pelaku usaha, termasuk koperasi.

Beberapa lembaga internasional me­nyatakan ekonomi global pada 2020 akan terkontraksi ke level negatif. Bank Dunia menyatakan ekonomi global akan me­nurun hingga minus 5 persen, sedangkan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan per­ekonomian akan terjerembap ke minus 6 sampai minus 7,6 persen.

Berpotensi Resesi

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menyatakan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan berkontraksi pada kuartal atau triwulan II-2020, bisa ber­lanjut kuartal III-2020. “Ada kemung­kinan masih negatif,” kata Kepala De­partemen Kebijakan Makroprudensial BI, Juda Agung, di Jakarta, Kamis (23/7).

Potensi kontraksi ekonomi dua kuartal berturut-turut atau resesi dapat terjadi karena berbagai sektor korpo­rasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) maupun rumah tangga belum menunjukkan tanda-tanda pertumbuh­an signifikan akibat dampak Covid-19.

Sebab itu, dia berharap berbagai kebi­jakan fiskal maupun moneter yang sudah dirumuskan oleh otoritas terkait dapat berjalan efektif agar pemulihan ekonomi dapat segera berjalan. “Ini balapan de­ngan waktu, bagaimana kebijakan pe­merintah dan Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) dapat efektif untuk mencegah terjadinya risiko resesi yang dalam,” kata Juda seperti dikutip Antara.

Sebelumnya, pemerintah memper­kirakan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2020 akan berada di zona negatif yaitu antara minus 5,08 persen–minus 3,54 per­sen dengan titik tengah minus 4,3 persen.

Pemerintah bersama BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Lembaga Pen­jamin Simpanan (LPS) sudah melakukan sinergi berbagai kebijakan agar ketidak­pastian akibat pandemi tidak memper­lambat pertumbuhan ekonomi. Kebijak­an itu antara lain mulai dari menambah anggaran untuk belanja penanganan Co­vid-19 dan program PEN, hingga melaku­kan restrukturisasi kredit untuk UMKM.

Melalui kebijakan tersebut, pereko­nomian diperkirakan dapat mulai pulih pada triwulan III dan IV-2020, dengan catatan tidak ada gelombang kedua Co­vid-19. Dengan demikian, pemerintah mengharapkan pertumbuhan ekonomi pada akhir 2020 bisa berada pada kisaran minus 0,4 hingga 1,0 persen. n fdl/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment