Koran Jakarta | November 19 2019
No Comments
Penyusunan Kabinet

Presiden Ingin Profesional Muda Masuk Kabinet

Presiden Ingin Profesional Muda Masuk Kabinet

Foto : ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
TINJAU PASAR BARU - Presiden Joko Widodo berjalan di sela-sela wawancara khusus dengan salah satu media asing, di Pasar Baru, Jakarta, Jumat (12/7). Kunjungan Presiden itu bertujuan menunjukan bahwa kegiatan ekonomi khususnya perdagangan dan retail di Jakarta masih berjalan cukup baik.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin ka­langan muda profesional ikut membantu dirinya dalam menyukseskan pemerintahan lima tahun ke depan dengan menjadi menteri. Oleh karena itu, Presiden meminta partai politik ikut membantu memberikan masukan dalam pe­nyusunan kabinet kerja jilid II 2019–2024

“Saya minta dari partai juga ada yang muda (diajukan jadi menteri). Ada dari profesional juga. Kalau enggak ada dari partai, ya kita cari sendiri. Profesional muda kan seka­rang banyak banget,” kata Presiden usai membuka Pamer­an Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2019, di Jakarta Con­vention Center (JCC), Sena­yan, Jakarta, Jumat (12/7).

Permintaan tersebut, lan­jut Presiden, bukan tanpa alasan. Sebab, dirinya me­ngaku sudah memiliki kom­posisi dalam menentukan para menteri yang nantinya duduk di kabinet kerja jilid II.

“Ya, kira-kira (kompo­sisi) 60:40 atau 50:50. Kira-kira itu,” ucap Presiden, se­raya menambahkan bahwa dalam waktu dekat akan se­gera diumumkan.

Mengenai menteri ber­usia muda, Jokowi telah beberapa kali menyinggungnya. Dalam sebuah wawancara khusus, Presiden sempat menyinggung bahwa Kabinet Kerja Jilid II bisa saja diisi oleh anak muda di bawah 30 tahun. De­ngan keterlibatan kaum milenial, dia berharap dapat menye­suaikan kebijakan pemerintah dengan perubahan global.

“Dunia makin dinamis, membutuhkan warna anak-anak muda yang dinamis, energik, menyesuaikan per­ubahan zaman dengan cepat. Kira-kira itu bayangannya. Bisa saja nanti ada menteri berusia 20 tahun, 25 tahun, bisa saja,” kata Jokowi.

Sementara itu, ketika ditanya apakah dalam penyu­sunan komposisi kabinet ke depan banyak menteri di Kabinet Kerja jilid I dipertahankan, Presiden mengiyakan. Namun, ia tidak mau merincinya. “Banyak,” jawab mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Bahkan, lanjut Presiden, tidak menutup kemungkinan bagi para menteri yang saat ini namanya disebut-sebut da­lam kasus hukum akan akan dipertimbangkan, seperti di Menteri Agama. Namun, semuanya akan melalui proses. “Ya nanti dilihat. Semua hal mesti kita pertimbangkan,” tu­tup Presiden Jokowi.

Diketahui, setelah dilantik sebagai presiden periode 2014– 2019, Presiden Jokowi langsung mengumumkan susunan Kabinet Kerja yang resmi dibentuk pada 27 Oktober 2014.

Susunan kabinet ini berasal dari kalangan profesional dan usulan partai pengusung Jokowi-Jusuf Kalla pada Pil­pres 2014, yakni PDI Perjuangan, PKB, Partai NasDem, dan Partai Hanura. Komposisi bertambah setelah PPP, PAN, dan Partai Golkar, yang bergabung setelah pilpres.

Pandangan Mega

Wacana kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin yang akan diisi dengan menteri dari kalangan muda mendapat tang­gapan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soe­karnoputri. Dia menilai bisa saja menteri itu dari kalangan anak muda, namun dipastikan memang bisa bekerja.

Begitu pun yang berusia tua, namun berpengalaman dan bisa bekerja, tak seharusnya ditolak. Hal itu disampai­kan Megawati di sela-sela kunjungan kerjanya ke Beijing, Tiongkok, Rabu (10/7).

Megawati mengatakan, di zaman Bung Karno atau Pre­siden pertama RI, ada anggota kabinet yang masih muda, tapi memang pintar dan menguasai masalah. “Ini yang saya lihat kelemahan kita dewasa ini. Orang disodor-sodorkan, tapi tidak mengerti secara praktis tata pemerintahan,” kata Megawati, dalam keterangan tertulisnya. fdl/Ant/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment