Koran Jakarta | December 16 2017
No Comments
Persatuan Nasional

Presiden Ajak NU Bahas Atasi Ujaran Kebencian

Presiden Ajak NU Bahas Atasi Ujaran Kebencian

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA. - Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, membahas masalah menguatnya Islam radikal dan isu intoleransi. Hal tersebut dibahas saat Presiden Jokowi menjamu makan siang KH Said Aqil di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/1).

Dikatakan Kiai Said, dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi mengajak NU bergandengan tangan untuk mengatasi maraknya ujaran kebencian (hate speech). “Indikasi fenomena menguatnya Islam radikal menjadi agenda kita bersama. Bagaimana memperkuat kembali dengan terus memperkuat Islam moderat,” katanya seusai bertemu Presiden.

KH Said menuturkan bahwa dunia saat ini melihat umat Islam di Indonesia sebagai umat yang moderat dan toleran. Namun, akhir-akhir ini hal itu mulai mengendur akibat gejala intoleransi yang mulai menguat.

“Sekarang, bagaimana upaya intoleran ini dapat kita atasi dan kembali ke Indonesia yang toleran, Indonesia yang damai, yang beradab, dan bermartabat. Islam culture bukan Islam yang doktrin, Islam ramah,” tuturnya.

Agar bisa terlaksana, lanjut Kiai Said, diperlukan pelibatan para kiai dalam membimbing masyarakat agar bisa kembali ke Islam moderat dan toleran. “Untuk jangka pendek, peran kiai NU harus digalakkan dalam membimbing masyarakat misalnya jadi guru. Untuk jangka panjang ya kurikulum,” ucap Kiai Said.

Kiai Said menambahkan, para kiai NU itu pada hakikatnya senang memberikan pengajaran berupa ceramah kebaikan kepada masyarakat. “Jadi, Kiai NU itu diminta atau tidak diminta harus menyuarakan akhlakul karimah. Isi ceramah yang rukun bukan yang konflik.

Diperintah maupun tidak (pasti) akan menyuarakan itu, saya jamin,” tutup Kiai Said. Saat makan siang dengan Presiden, Kiai Said Aqil mengenakan baju batik lengan panjang dengan dasar kekuningan. Dia datang ke Istana sekitar pukul 11.50 WIB dan diterima Presiden sekitar pukul 13.15 WIB.

Ketua PBNU ini langsung disambut Presiden dan diajak ke ruang tengah yang tersedia meja bundar yang sudah dihidangkan sejumlah menu makanan. Acara makan siang ini berlangsung sekitar satu jam. Usai makan siang, Presiden langsung memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden dan Said Aqil meninggalkan Istana Merdeka.

Jaga NKRI

Di tempat terpisah, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), KH Hasyim Muzadi, yang kini sedang dirawat di RS Lavalette meminta Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI I Made Sukadana, untuk menjaga dan bersama-sama memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Beliau berpesan kepada TNI agar bersama-sama memperjuangkan kesatuan NKRI.

Kami juga diberi amanah untuk belajar bersama kepada para kiai dan ulama untuk mengatasi setiap permasalahan yang muncul,” kata Made Sukadana seusai menjenguk mantan Ketua Umum PBNU. Selain menjaga kesatuan bangsa, lanjutnya, KH Hasyim juga berpesan untuk memahami landasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar sebagai landasan negara.

“Kami mendengar kesedihan beliau yang merasa berjalan dan berjuang sendirian dalam mempersatukan bangsa,” ucapnya. Berjuang sendirian dalam artian melihat kondisi negara sekarang ini yang bermunculan dengan permasalahan pemecahan persatuan bangsa. “Menurut beliau, sekarang banyak pejabat, politisi, dan pengusaha yang mementingkan kepentingannya sendiri. Beliau merasa sedih melihat kondisi yang menimpa bangsa saat ini,” urainya. fdl/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment