Koran Jakarta | September 23 2018
No Comments
Sengketa LTS I AU Prancis Juga Persiapkan Latihan Militer Besar-Besaran di Asia Tenggara

Prancis Tingkatkan Kehadiran Militer di Indo-Pasifik

Prancis Tingkatkan Kehadiran Militer di Indo-Pasifik

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Prancis siap untuk meningkatkan kehadiran militer di kawasan sengketa LTS. Sikap itu diperlihatkan Prancis karena merupakan mereka satu-satunya negara Eropa yang siap menantang Tiongkok selain Amerika Serikat.

 

PARIS – Prancis siap untuk meningkatkan kehadiran militer di kawasan Indo-Pasifik, termasuk mengirimkan kapal-kapal perang untuk berlayar di Laut Tiongkok Selatan (LTS) dan berencana mengelar latihan dengan pesawat udara militer untuk menandingi peningkatan militer Tiongkok di perairan sengketa.

Pernyataan Prancis itu disampaikan pada Selasa (12/6) setelah pada pengujung Mei lalu negara Eropa itu mengirimkan kapal penyerang Dixmude dan sebuat kapal perang fregat untuk berlayar melalui kawasan sengketa di Kepulauan Spratly dan sekitar pulau buatan Tiongkok untuk menantang klaim Beijing atas keseluruhan kawasan perairan LTS yang kaya akan sumber daya alam itu.

“Dalam patroli kami juga dilakukan pelintasan ke pulau-pulau kecil untuk misi intelijen dengan semua perangkat sensor yang kami miliki yang dilakukan dalam perairan internasional,” kata komandan Dixmude, Jean Porcher.

Saat melakukan pelayaran melintasi LTS, kapal perang Dixmude mendapat “pengawalan” sejumlah kapal fregat dan korvet Tiongkok. “Kami tetap melakukan hubungan radio dengan kapal perang Tiongkok yang mengabari keberadaan kami hingga kami meninggalkan perairan itu,” imbuh Porcher.

Sejauh ini Amerika Serikat (AS) yang memimpin dalam menentang Tiongkok atas klaim teritorial di LTS yang diperebutkan sejumlah negara-negara Asia seperti Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei, dan Taiwan.

Selain Prancis, dari negara Eropa yang pernah mengirim kapal perang ke LTS adalah Inggris yang setahunnya mengirim 3 hingga 5 kali misi pelayaran ke kawasan perairan sengketa di Asia itu.

Selain mengirim kapal perang, pada Agustus mendatang, pesawat militer Prancis akan menggelar latihan perang besar-besaran di Asia tenggara yang disebut-sebut sebagai salah satu strategi kehadiran militer Prancis di kawasan Indo-Pasifik dimana terdapat sekitar 1,5 warga negaranya yang menetap di kawasan tersebut.

Saat ini Prancis memiliki lima wilayah kekuasaan di Pasifik termasuk yang ada di Kaledonia Baru dan Polinesia Prancis. Keberadaan warga negara ini menegaskan alasan Prancis untuk memberikan perlindungan atas kepentingannya di kawasan Pasifik.

Tiga unit jet tempur Rafale, sebuah pesawat transport militer A400M dan sebuah pesawat tanker C135, akan terbang dari Australia ke India. Konvoi pesawat militer Prancis itu akan melakukan sejumlah perhentian selama misi penerbangan jarak jauh itu.

Operasi militer maritim dan udara itu digelar setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron, melakukan kunjungan ke Australia pada Mei lalu. Saat berada di Negeri Kanguru, Macron menyatakan perlunya proteksi di wilayah Indo-Pasifik dari hegemoni Tiongkok.

“Prancis akan jadi negara Uni Eropa (UE) terakhir yang memiliki wilayah negara di Pasifik setelah Inggris keluar dari UE, namun kami tak ingin menentang Tiongkok,” kata Presiden Macron.

Walau begitu Macron menyatakan pada Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, bahwa diperlukan sebuah poros Indo-Pasifik yang kuat yang bisa menjamin kebebasan bernavigasi di kawasan LTS.

 

Partisipasi Eropa

Prancis sudah mulai menentang ekspansi Tiongkok sebelum Macron menjabat sebagai presiden. Sejak 2014, kapal perang Prancis secara rutin berlayar melintasi LTS sebagai misi untuk menegakkan aturan maritim internasional.

Pada 2016, Menteri Pertahanan Prancis, Jean-Yves Le Drian (sekarang menjabat sebagai Menlu Prancis), menyerukan Angkatan Laut dari negara-negara Eropa lainnya agar mau menggelar secara rutin kehadiran militer di LTS. 

 

AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment