Koran Jakarta | May 27 2018
No Comments
Kelompok Radikal - Densus 88 Antiteror Sudah Mengetahui Aliran Uang Teroris

PPATK Deteksi Dana Teroris Masuk ke Indonesia

PPATK Deteksi Dana Teroris Masuk ke Indonesia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Hasil pemantauan aliran uang masuk dari luar negeri, PPATK menemukan indikasi kalau ada dana dari jaringan teroris di Irak dan Suriah telah masuk ke Indonesia.

JAKARTA - Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan indikasi kalau ada dana dari jaringan teroris di Irak dan Suriah telah masuk ke Indonesia. Masuknya dana yang diduga dari kelom­pok Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) tersebut telah dila­porkan ke Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

“Kalau dia (jaringan teroris) menggunakan sistem keuang­an (pasti terdeteksi) karena kita memiliki sistem untuk mendeteksi uang masuk dari dan ke luar negeri,” kata Kepala PPATK, Kiagus Ahmad Ba­daruddin, saat ditemui Koran Jakarta, seusai penandatan­ganan MoU antara PPATK dan Bawaslu, di Gedung PPATK, Jakarta, Selasa (13/2).

Menurut Kiagus, PPATK juga dapat mendeteksi uang untuk penggunaan aksi-aksi teror tersebut, setelah meneliti laporan-laporan transaksi ke­uangan dari dan ke luar neg­eri. Hal itu terjadi karena pihak pengirim uang maupun lem­baga jasa keuangan membuat laporan-laporan transaksi ke­uangan dari dan ke luar negeri.

Ditanya apakah PPATK telah mendapati adanya aliran uang dari jaringan teroris di Suriah dan Irak masuk ke Indonesia, Kiagus mengatakan sudah ada. “Beberapa waktu yang lalu ada. Semuanya sudah disampaikan ke Densus. Koordinasi kami cukup baik dengan Densus,” ujar Kiagus.

Harus Ada Izin

Ketika didesak bagaimana kalau pelaku teror membawa uang tunai dari luar negeri ke Indonesia, menurut Kiagus, itu harus ada izin. Kalau bawa uang di atas 100 juta rupiah harus ada izin, tetapi kalau di bawah 100 juta tidak perlu izin dan cukup deklarasi saja.

Kalau untuk ranah itu, yang berwenang nanti Ditjen Bea dan Cukai. “Kalau dia mem­bawa lebih dari itu, dan tidak mendeklarasikan, maka dia akan kena denda. PPATK akan melihat hal itu dan akan kami tindaklanjuti,” tukas Kiagus.

Sebelumnya, PPATK telah merilis bahwa kelompok atau perseorangan di Australia menjadi penyumbang dana terbesar untuk jaringan tero­ris dan foreign terrorist fighter di Indonesia. Total dana yang dialirkan berjumlah 88,5 mil­iar rupiah. Dana tersebut be­rasal dari 97 kali transaksi, baik perseorangan maupun kelompok.

Selain dari Australia, kel­ompok atau perseorangan di Brunei Darussalam juga me­nempati peringkat kedua pe­nyumbang dana terorisme. Diperkirakan ada 2,6 miliar rupiah yang dialirkan ke Indo­nesia. Selain dari kedua negara tersebut, kelompok atau perse­orangan di Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, dan Thailand juga diketahui ikut mengalirkan dana untuk jarin­gan teroris di Indonesia.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Te­rorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius, meminta kam­pus dan seluruh warganya ak­tif mencegah radikalisme di lingkungannya. Kalau ada yang terpapar paham radikal, bisa diingatkan.

Suhardi mengatakan seiring dengan kemajuan teknologi in­formasi memang semakin sulit untuk memantau penyebaran sekaligus orang-orang yang terpapar radikalisme. Penye­baran paham radikal tak lagi harus tatap muka.

“Ruang-ruang itu menjadi sarana yang luar biasa, de­ngan kemampuan teknologi informasi digital itu jadi sangat cepat dan sangat sulit memon­itornya. Kalau dulu kita gam­pang melihat secara fisik, tapi sekarang kalau orang diam dan yang dibukanya konten-konten semacam itu (radikal) gimana. Kita juga mesti aktif,” ujar Su­hardi. n eko/tgh/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment