Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Pendidikan Kejuruan - Kampus Polman Sediakan Beasiswa Sepertiga Mahasiswa Baru

Politeknik Harus Antisipasi Krisis Tenaga Pengajar

Politeknik Harus Antisipasi Krisis Tenaga Pengajar

Foto : Koran Jakarta /aloysius widiyat maka
TULISKAN KESAN - Dari kiri: Menristekdikti M Nasir, Presdir PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto, Menperin Airlangga Hartarto berbincang usai membubuhkan tanda tangan dan menuliskan kesanpesan setelah acara Groundbreaking Kampus Politeknik Manufaktur Astra, di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (10/5).
A   A   A   Pengaturan Font
Kondisi politeknik mengalami stagnasi. Padahal posisinya sangat penting untuk menghasilkan lulusan yang siap berkerja dengan level supervisor atau manajer ke atas.

Bekasi – Pemerintah terus mendorong politeknik vokasi, baik dalam proses peningkatan kualitas, maupun penambahan daya tampung atau kapasitas. Dengan demikian, jumlah lulusan produktif yang siap kerja terus meningkat. Penegasan tersebut disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M Nasir, dalam acara Groundbreaking Kampus Politeknik Manufaktur (Polman) Astra, di kawasan Delta Silikon 2, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (10/5).

Dalam kesempatan itu, Nasir minta politeknik tidak hanya menghasilkan lulusan untuk memenuhi kebutuhan industri yang siap kerja, tetapi juga harus bisa meluluskan tenaga pendidik. Maka harus dibuat lulusan S2. Sebab dia khawatir ke depan akan kekurangan tenaga pendidik politeknik.

“Nanti, politeknik tidak hanya memproduksi calon pegawai, tapi juga bisa menyiapkan tenaga guru dan dosen. Politeknik biasanya sampai D3. Kalau untuk jadi guru SMK harus S1 dengan menjadi sarjana terapan. Bagaimana untuk menyiapkan dosen di politeknik? Politeknik juga harus menyiapkan untuk S2 terapan,” jelas Nasir dalam acara yang juga dihadiri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto tersebut.

Nasir menilai, sejauh ini perkembangan industri sangat cepat. Lapangan-lapangan kerja jenis baru terus bertambah. Kondisi tersebut, menurutnya, berbanding terbalik dengan perguruan tinggi yang lambat menyesuaikan diri dengan industri, sehingga lulusannya tidak sedikit yang tidak menjawab kebutuhan industri.

Hal tersebut juga berpengaruh pada kondisi tenaga pendidik. Menurutnya, karena perguruan tinggi (PT) tidak menyesuaikan dengan industri, kualifikasi lulusan yang khusus untuk menjadi tenaga pendidik juga tidak sesuai kebutuhan industri.

“Syarat dosen harus S2. Ternyata yang terjadi di lapangan kualifikasinya tidak sama dengan kebutuhan industri dan di politeknik. Bahkan, kualifikasinya lebih rendah dari tenaga ahli yang berpengalaman,” tutur Nasir.

Nasir mengimbau PT bekerja sama dengan para pegawai di dunia industri untuk mengimbangkan proses pengajaran. Ke depan, 50 persen dari akademisi dan 50 persen lagi bisa dari industri yang latar belakangnya tidak dari S2. Bisa S1 atau D4, tapi pengalamannya sama dengan S2. Untuk itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan membuat Recognice Trial Learning (RTL).

“Ini yang harus kita lakukan supaya ke depan lebih baik,” ujar Nasir. Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, menambahkan, kondisi politeknik mengalami stagnasi. Padahal, posisi politeknik sangat penting untuk menghasilkan lulusan yang siap berkerja dengan level supervisor atau manajer ke atas.

Airlangga menjelaskan, stagnasi merupakan tantangan politeknik, terutama para dosen dan instruktur yang mengajar di politeknik. Dia menyebut, Kementerian Perindustrian dan Kemenristekdikti sudah mulai bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

 

Berikan Beasiswa

 

Sementara itu, Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto, mengatakan, PT Astra International kini memiliki sembilan yayasan. Salah satunya Yayasan Bina Ilmu yang membawahi Polman Astra. “Kami memberi beasiswa kepada sepertiga mahasiswa baru di Polman,” kata Prijono.

Beasiswa ini, lanjutnya, untuk memperingan orangtua para mahasiswa. Pendidikan Polman banyak mengadopsi ‘kurikulum’ pendidikan vokasi Jerman yang telah melahirkan lulusan berkualitas tinggi yang mampu menjadi UKM unggul.

Jerman hanya memiliki tiga juta UKM, sedang Indonesia 59 juta. “Namun, ekspor Jerman 10 kali lipat Indonesia karena UKM-nya amat berkualitas,” tambah Prijono. 

 

ruf/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment