Koran Jakarta | October 14 2019
No Comments
Kesepakatan Brexit

PM May Kembali Ajukan Dua Opsi

PM May Kembali Ajukan Dua Opsi

Foto : AFP/ MARK DUFFY / UK PARLIAMENT
DIALOG DENGAN PARLEMEN - Perdana Menteri Inggris, Theresa May menghadiri rapat kerja mingguan di parlemen, London, Rabu (3/4) lalu. May kembali menyiapkan dua opsi brexit untuk disetujui parlemen.
A   A   A   Pengaturan Font

LONDON – Perdana Men­teri (PM) Inggris, Theresa May, mengatakan pemerintah In­ggris saat ini punya pilihan terkait kebijakan keluar dari Uni Eropa atau yang dikenal sebagai Brexit. Opsi itu terdiri dari dua pilihan, yakni keluar dari Uni Eropa dengan kese­pakatan, atau sebaliknya tetap menjadi bagian dari komunitas negara-negara Eropa tersebut.

Hal itu dikatakan May dalam upayanya menemukan kata kompromi dengan opo­sisi Partai Buruh.

“Karena Parlemen telah memperjelas hal itu akan menghentikan Inggris pergi tanpa kesepakatan, kami sekarang memiliki pilihan yang jelas, meninggalkan Uni Ero­pa dengan kesepakatan atau tidak keluar sama sekali,” kata May di London, Sabtu (13/4).

May menjelaskan bahwa semakin lama keputusan ti­dak diambil terkait hal ini, maka semakin besar pula risikonya, yakni bahwa Inggris sama sekali tidak akan bisa keluar dari Uni Eropa. “Sema­kin lama ini terjadi, semakin besar risiko Inggris tidak per­nah pergi sama sekali.”

Sebelumnya, PM There­sa May meminta Uni Eropa mengundur proses bagi negaranya keluar dari blok terse­but alias Brexit hingga 30 Juni mendatang.

May mengatakan bahwa penundaan ini sangat penting agar Inggris dapat memas­tikan negaranya keluar dengan cara paling baik setelah menjadi anggota Uni Eropa selama 46 tahun.

Permintaan pengunduran jadwal Inggris keluar dari Uni Eropa itu mendapat beragam respons dari negara-negara Eropa. Salah satunya Prancis.

Menteri Luar Negeri Pran­cis, Jean-Yves Le Drian, mengatakan bahwa kini sudah waktunya krisis penarikan diri Inggris dari Uni Eropa atau Brexit harus berakhir. Dia me­nyebut persoalan Brexit tidak dapat terus-menerus mendo­minasi diskusi Uni Eropa.

“Sudah saatnya situasi ini [harus] berakhir,” kata Jean-Yves kepada wartawan di sela-sela pertemuan G7 di Dinard, Prancis utara, Sabtu (6/4).

Jean-Yves meminta pihak pemerintah dan Parlemen Inggris perlu memahami bah­wa Uni Eropa tak dapat terus-menerus hanya memikirkan dan membahas persoalan yang menjadi urusan dalam negeri Inggris. AFP/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment