Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments
Konferensi Nikkei

PM Mahathir Usulkan Mata Uang Bersama

PM Mahathir Usulkan Mata Uang Bersama

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

TOKYO - Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, pada Kamis (30/5) mengusul­kan ide mata uang bersama untuk Asia Timur yang diukur berdasarkan patokan emas. Ide ini dikemukakan PM Mahathir setelah ia menilai perdagangan mata uang yang ada di kawasan ini manipulatif.

Usulan itu diutarakan PM Malaysia saat berbicara pada Konferensi Internasional ke-25 tentang Masa Depan Asia (Konferensi Nikkei). Dalam paparannya, Mahathir meng­klaim bahwa mata uang wila­yah berdasarkan emas akan le­bih stabil.

Mahathir mengatakan bah­wa dengan mematok mata uang baru berdasarkan harga emas itu memiliki keunggulan berupa dapat digunakan untuk mengevaluasi kegiatan impor dan ekspor di antara negara-negara Asia Timur.

“Kita bisa melakukan pe­nyelesaian menggunakan ma­ta uang (baru) itu. Mata uang itu harus dipatok ke mata uang lokal sebagai nilai tukar, yang merupakan sesuatu yang dapat dikaitkan dengan kinerja nega­ra,” kata Mahathir.

“Dengan begitu kita tahu berapa banyak kita berutang, berapa banyak kita harus mem­bayar dalam mata uang khusus Asia Timur,” imbuh dia, sem­bari menyatakan bahwa mata uang baru ini juga dapat diper­luas ke negara-negara di luar Asia Timur.

PM Mahathir mencatat bah­wa pasar global sekarang ter­ikat dengan dollar AS, dan hal ini membuat mata uang rentan terhadap manipulasi.

“Hanya karena satu negara itu terkena, akan menginfeksi ke negara lain. Malaysia sangat stabil pada 1997 (selama krisis keuangan Asia). Tetapi karena masalah yang terjadi di Thai­land, mereka mengatakan ki­ta harus mematok mata uang Malaysia (terhadap dolar AS),” ujar PM Malaysia yang kini ber­usia 93 tahun itu.

“Apa yang terjadi? Peda­gang mata uang menjual ma­ta uang Malaysia dan nilai ma­ta uang Malaysia terdepresiasi,” tambah dia.

Disampaikan pula oleh Ma­hathir bahwa perdagangan ma­ta uang ini bukan sesuatu yang sehat karena ini bukan tentang kinerja (ekonomi) negara, teta­pi tentang manipulasi.

Ketika ditanya apakah ma­ta uang yen Jepang atau yuan Tiongkok dapat digunakan se­bagai mata uang bersama di kawasan itu, perdana menteri Malaysia itu menjawab, jika ki­ta mencoba untuk mempromo­sikan mata uang kita sendiri, a­kan ada konflik.

“Berusaha mempromosi­kan yen atau yuan bukanlah cara yang tepat,” ujar PM Ma­laysia itu.

“Tetapi jika kita memiliki mata uang bersama untuk Asia Timur, mata uang perdagangan bersama yang tidak digunakan di masing-masing negara teta­pi untuk tujuan penyelesaian perdagangan saja, maka akan ada stabilitas,” papar dia.

Kritik AS

Dalam Konferensi Nikkei ini, PM Mahathir juga mengemu­kakan pendapatnya yang me­nyatakan bahwa Amerika Seri­kat (AS), harus berhenti mela­beli negara lain. Pendapat ini dilontarkan setelah awal pekan ini, AS memasukkan Malay­sia dalam daftar pantauan mi­tra dagang untuk praktik mata uang, karena mengintervensi terhadap valuta asingnya.

Bank sentral Malaysia telah membantah klaim tersebut. Dalam sebuah pernyataan pa­da Rabu (29/5), dikatakan bah­wa ekonomi Malaysia tetap tangguh, didukung oleh funda­mental ekonomi yang kuat, ter­masuk fleksibilitas yang diberi­kan oleh nilai tukar mengam­bang dan keseimbangan eksternal yang kuat.

“Malaysia mendukung per­dagangan bebas dan adil, dan tidak melakukan praktik mata uang yang tidak adil,” kata Ma­hathir. “AS gemar memberi la­bel bahwa negara itu tidak baik dan mendikte negara-negara tentang cara menjalankan bis­nis mereka. Itu tidak demokra­tis dan bukan hak kekuatan tunggal untuk memutuskan. Ji­ka Anda ingin hidup di dunia yang bersatu, dunia yang stabil, kita harus membina kesepakat­an antara semua negara yang memiliki kepentingan dalam masalah ini,” tegas Mahathir.

Selain Malaysia, AS juga me­masukkan negara-negara lain dalam “label” daftar pantauan seperti Singapura, Tiongkok, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam.  ang/CNA/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment