Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments
Pertemuan Menteri G20

Platform Informasi Adaptasi Diluncurkan

Platform Informasi Adaptasi Diluncurkan

Foto : ISTIMEWA
bergandengan l Menteri LHK, Siti Nurbaya (ketiga dari kiri) bergandengan tangan dengan Menteri Lingkungan Jepang dan Thailand serta pejabat terkait, usai acara peluncuran Asia Pacific Climate Change Adaptation Information Platform (AP-PLAT), di Karuizawa, Jepang, Minggu (16/6).
A   A   A   Pengaturan Font

Karuizawa, Jepang- In­donesia bersama dengan Jepang dan Thailand melaksanakan se­lebrasi atas dikembangkannya Asia Pacific Climate Change Ad­aptation Information Platform (AP-PLAT), sebuah wahana per­tukaran pengetahuan, teknolo­gi dan kebijakan upaya adaptasi perubahan iklim di negara-ne­gara Asia Pasifik.

Acara tersebut dilakasana­kan di sela-sela G20 Ministerial Meeting on Energy Transitions and Global Environment for Sustainable Growth yang ber­langsung di Kota Karuizawa, Prefektur Nagano, Japan pada 15 - 16 Juni 2019.

Menteri Lingkungan Hi­dup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya selaku Ketua delega­si Indonesia untuk bidang ling­kungan, pada sambutannya menyatakan bahwa upaya glo­bal dan regional dalam mena­ngani perubahan iklim harus terus ditingkatkan mengingat tantangan yang dihadapi sa­ngat besar sedangkan sumber daya yang dimiliki masing-ma­sing negara masih terbatas.

“Dalam meningkatkan dan memperluas upaya adaptasi, diperlukan dukungan teknolo­gi, investasi yang berkelanjut­an serta dukungan penelitian dan inovasi yang dapat diap­likasikan. Untuk itu kita perlu bekerjasama, saling tukar pe­ngetahuan dan teknologi serta tentunya investasi yang men­dukung ketahanan ekosistem,” tegas Siti Nurbaya.

Menteri Siti lebih lanjut me­ngatakan, peran masyarakat, pemerintah daerah dan LSM serta peran swasta untuk upaya adaptasi juga perlu disinergi­kan. Dalam hal ini Indonesia, dengan dikoordinasikan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional te­lah menyusun Rencana Ak­si Nasional untuk Adaptasi Pe­rubahan Iklim (RAN-API).

Selanjutnya, untuk memper­cepat pelaksanaan RAN-API, terutama dalam merumuskan program adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal, Kemen­terian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mempra­karsai pengembangan Sistem Informasi Indeks Kerentanan Perubahan Iklim (SIDIK) yang merupakan alat untuk mema­hami faktor-faktor yang menye­babkan kerentanan sehingga dapat digunakan untuk meng­identifikasi dan memprioritas­kan jenis tindakan adaptasi un­tuk wilayah tertentu.

SIDIK tersebut dirancang sebagai alat yang mudah di­gunakan bagi pemerintah na­sional dan daerah untuk me­nilai kerentanan daerah hingga tingkat desa.

Untuk memandu pengem­bangan tindakan adapta­si, KLHK telah menetapkan Peraturan Menteri LHK No­mor P.33/2016 tentang Pedo­man Pengembangan Tindakan Adaptasi Perubahan Iklim. Dari pendekatan bottom-up, Peme­rintah telah mengembangkan program aksi adaptasi-mitiga­si di tingkat lokasi yang disebut PROKLIM (Program Kampung Iklim). Sejak 2013, ada sekitar 1.500 Kampung Iklim terdaftar di Sistem Registrasi Nasional.

Sebagai negara kepulauan, dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia rentan terha­dap dampak perubahan iklim, oleh karena itu, Indonesia menghargai setiap upaya untuk memperkuat kapasitas adapta­si, termasuk memperkuat basis ilmiah perubahan iklim untuk proses pengambilan keputus­an yang lebih baik.  sur/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment