Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Polemik Pohon Ditebang

Pilihan Tabebuya Gantikan Beringin Dipertanyakan

Pilihan Tabebuya Gantikan Beringin Dipertanyakan

Foto : ISTIMEWA
Nirwono Joga, Pengamat Tata Kota
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Suku dinas (Su­din) Kehutanan DKI, Jakarta Pusat, berencana untuk mena­nam pohon tabebuya di sepan­jang trotoar Jalan Raya Cikini, Jakarta Pusat. Pohon tersebut menggantikan pohon angsana dan beringin yang sudah dite­bang pihak Pemerintah Pro­vinsi DKI Jakarta, sejak bebe­rapa hari lalu.

“Kami berencana untuk menanam pohon tabebuya di kawasan Cikini dan menggan­tikan pohon beringin dan ang­sana yang sudah ditebang,” kata Kepala Suku Dinas Kehutanan Jakarta Pusat, Mila Ananda saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (7/11).

Sementara itu, saat dikonfir­masi, Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mengatakan pemilihan pohon tabebuya yang dipilih Suku Dinas Kehutanan DKI Ja­karta hanya mengikuti tren saja.

“Pemilihan pohon tabe­buya, lebih karena mengikuti tren saja, serta ketersediaan di pasa­ran,” ujar Nir­wono.

Disamping itu, Nirwono menilai jenis pohon beringin merupa­kan jenis pohon besar dan kuat hingga ratusan tahun. Se­dangkan pohon angsana hanya mampu bertahan 50-75 tahun. Itu juga menurutnya tergantung perawatan dari intasi terkait.

Asal Pilih

“Pohon besar seperti beri­ngin bisa ratusan tahun usian­ya, sementara angsana bisa lebih dari 50-75 tahun,” kata Nirwono.

Menurut Nirwono, po­hon tabebuya merupa­kan jenis pohon kecil dan fungsi ekologis antara pohon ang­sana-beringin dengan tabe­buya jelas berbeda.

“Bandingkan dengan tabe­buya (kategori pohon kecil) beringin dan angsana, memi­liki fungsi ekologis lebih baik. Misal, daya serap gas polutan, keteduhan, dan iklim mikro, produksi oksigen (daunnya le­bih lebat dan tajuk lebih lebar), serta berusia lama ratusan ta­hun,” dia menambahkan.

Untuk itu, Nirwono menu­turkan Pemprov DKI Jakarta tak serius merawat pohon-pohon. khususnya Dinas Kehutanan dan Pertamanan DKI.

“Dinas Pertamanan dan Ke­hutanan tidak serius merawat pohon. Harusnya pohon masih bisa diselamatkan atau dirawat (kalau sakit, keropos, dan lain-lain),” kata Nirwono.

Diakui Nirwono, alangkah lebih ditanam pohon-pohon besar maka daya serap air un­tuk disimpan ke dalam tanah akan lebih baik.

“Kalau semakin banyak pohon-pohon besar semakin bagus untuk menahan angin. Sekaligus membantu mengu­rangi air yang terbuang. Belum lagi, fungsi sebagai habitat sat­wa liar, penanda kawasan, dan lain-lain,” sambungnya.

Saat ini, Pemprov DKI be­lum memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang pohon sebagai acuan perencanaan penataan dan pemeliharaan pohon. Nir­wono berharap peraturan terse­but sebaiknya harus dibahas bersama dengan pihak terkait jangan asal tanam. jon/P-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment