Pilih Komoditas untuk Lokomotif Pertanian Nasional | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Kebijakan Pangan I Potensi Keragaman Pangan Tak Dikembangkan

Pilih Komoditas untuk Lokomotif Pertanian Nasional

Pilih Komoditas untuk Lokomotif Pertanian Nasional

Foto : istimewa
JANGKUNG HANDOYO MULYO
A   A   A   Pengaturan Font
RI miliki potensi pertanian pangan yang tidak terkalahkan di seluruh dunia, tapi tidak pernah memiliki lokomotif yang kuat.

 

JAKARTA – Indonesia mesti memilih komo­ditas pertanian yang bisa menjadi lokomotif utama penggerak pertanian nasional. Hal ini dinilai sebagai salah satu strategi mengejar ketertinggalan produktivitas pertanian diban­dingkan dengan negara tetangga, seperti Thai­land dan Malaysia.

Pakar pertanian UGM, Jangkung Handoyo Mulyo, mengatakan hal itu saat dihubungi, Kamis (23/1). Menurut dia, prestasi Thailand di bidang agrobisnis sudah tidak perlu diper­tanyakan lagi. Malaysia terlepas dari angka-angka produktivitas yang meningkat, durian musang king menjadi brand durian nomor 1 yang menggeser popularitas durian montong milik Thailand yang be­lum lama merajai brand durian.

“Padahal, semua itu plasma nutfahnya dari Indonesia. Kita mi­liki potensi pertanian pangan yang tidak bisa dikalahkan siapa pun di seluruh dunia, tapi tidak pernah memiliki lokomotif yang kuat,” te­gas Jangkung.

Untuk itu, lanjut dia, pemerin­tah mesti memilih komoditas yang menjadi penggerak utama atau primemover yang berteknologi tinggi sehingga generasi muda tertarik untuk bergabung.

Menurut Jangkung, problem utama perta­nian di Tanah Air adalah secara budaya masih dianggap terbelakang. Makanya, anggapan itu harus dibalik secepat-cepatnya dengan peran teknologi tinggi dan branding yang sangat kuat.

“Kalau nanti sudah terlihat untung dan ber­gengsi, pasti ramai-ramai semua stakeholder dan juga anak muda akan berbondong-bon­dong ke sana dan mengerahkan energi dan pikirannya secara maksimal,” tandas Jangkung.

Dia memaparkan pangan lokal seperti sing­kong bisa menjadi panganan bergengsi di ta­ngan Thailand dan Jepang. Indonesia memiliki pangan lokal yang luar biasa beragam, namun tak satu pun yang bisa diandalkan sebagai penggerak utama pertanian pangan nasional. “Singkong, sagu, aneka ragam pangan kita itu luar biasa. Tapi jalan di tempat,” kata Jangkung.

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Dwijono Hadi Darwanto, menilai per­tumbuhan produksi dan minimnya insentif di dunia pertanian Indonesia menunjukkan kega­galan pemerintah dalam mengurai hambatan atau bottleneck dalam sektor pertanian.

Menurut Dwijono, dunia pertanian Indo­nesia sangat rumit. Ini terutama ditandai oleh mismatch antara laju pertumbuhan penduduk dan kemampuan menyediakan pangan yang terus menurun. Pertumbuhan penduduk se­kitar 1,5 persen setahun, ke­butuhan pangan meningkat kira-kira 3 persen setahun.

“Rumit sekali pertanian kita karena masalah pangan tidak lepas dari pertambahan penduduk yang tinggi, tetapi keragaman pangan tidak per­nah terealisir sehingga impor makin tinggi,” jelas dia.

Pengelolaan Air

Pengamat pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Surabaya, Zainal Abi­din, mengatakan strategi yang harus dikembangkan pemerintah dalam membangun pertanian adalah dengan me­ningkatkan manajemen sumber daya air.

Selain itu, perlu dijaga keseimbangan harga komoditas, sebagai bentuk komitmen peme­rintah mendukung petani.

“Untuk meningkatkan produksi, dengan ketidakpastian iklim ini maka membutuhkan sumber daya air. Di sisi lain, manajemen sum­ber daya air masih lemah, ini jadi tantangan utama sekarang dan di masa depan,” jelas dia.

Makanya, lanjut Zainal, investasi sarana dan prasarana pertanian sangat perlu dikembang­kan dengan membuat waduk dan bendungan. Di satu sisi untuk mencegah banjir, di sisi lain menjaga stok air di musim kemarau dan me­numbuhkan mata air.

Selain itu, kata dia, gerakan rehabilitasi la­han dan hutan menjadi sangat penting karena berkaitan dengan manajemen sumber daya air, jadi tidak hanya mengendalikan air, tapi juga mengatasi persoalan banjir. YK/SB/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment