Petani Maroko Kencangkan Ikat Pinggang Jelang Idul Adha | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments

Petani Maroko Kencangkan Ikat Pinggang Jelang Idul Adha

Petani Maroko Kencangkan Ikat Pinggang Jelang Idul Adha

Foto : AFP/FADEL SENNA
Beli Kurban - Seorang warga Maroko membeli hewan kurban di sebuah pasar di Kota Skhirat, pada Minggu (26/7) lalu. Para petani Maroko mengandalkan penjualan hewan kurban jelang perayaan Idul Adha tahun ini setelah wabah virus korona dan kemarau panjang membuat mereka kesulitan mendapatkan pendapatan.
A   A   A   Pengaturan Font

Hamid, seorang petani dari Maroko, amat berharap bisa mendapat keuntungan dengan menjual domba untuk hewan kurban pada perayaan Idul Fitri kali ini. Harapan Hamid, keuntungan dari menjual hewan kurban bisa untuk menutupi kerugian akibat musim kemarau dan dampak dari kelumpuhan ekonomi terkait dengan pandemi virus korona.

Namun semua keinginan itu kini semakin sulit digapai oleh Hamid, apalagi otoritas di negara Afrika Utara itu telah menerapkan larangan bepergian secara mendadak sepekan lalu seiring semakin melonjaknya kasus infeksi Covid-19 yang menyulitkan jual-beli hewan kurban.

Walau wilayah pedesaan di Maroko kasus infeksi virus korona amat jarang dibandingkan dengan di perkotaan, namun dampak ekonomi dari krisis wabah virus korona ini telah menghantam ke segala sektor dan tak mengenal batas.

“Kami telah menurunkan harga hewan kurban sebagai antisipasi anjloknya permintaan,” ucap Hamid, 54 tahun, yang setiap tahunnya pergi ke pasar hewan kurban untuk memasok ternak peliharaannya. “Yang terpenting saat ini yaitu mendapatkan uang setelah beberapa bulan kesulitan saat kami tak mendapatkan pendapatan sama sekali,” imbuh dia saat ditemui pada Minggu (26/7).

Menurut sebuah studi yang dilakukan Komisi Tinggi untuk Perencanaan yang bertugas menyusun data statistik di Maroko, melaporkan penurunan pendapatan yang menimpa 70 persen populasi di pedesaan dan sebanyak 77 persen petani pendapatannya menurun tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Penutupan wilayah yang diberlakukan selama sekitar 10 pekan sejak pertengahan Maret lalu, semakin menyulitkan petani yang sebelumnya harus menghadapi musim kemarau amat parah yang melanda negara yang amat tergantung pada sektor pertanian itu.

“Di masa sulit seperti sekarang ini, banyak petani mengharapkan pendapatan dari menjual hewan kurban untuk menambal kerugian dan membayar utang piutang,” ucap Abdellatif, petani berusia 34 tahun.

Perayaan Idul Adha tetap diperingati untuk tahun ini di Maroko. Namun masjid-masjid dilarang menggelar salat Id bersama secara massal dan adanya larangan bepergian telah membatasi tradisi kumpul keluarga selama musim liburan hari raya ini.

Abdellatif, yang saat ditemui sedang duduk di sebuah mobil pikap yang membawa domba kurban yang terparkir di pasar Kota Skhirat tak jauh dari Ibu Kota Rabat, mengatakan jika tak ada perayaan hari raya kurban kali ini, maka akan jadi malapetaka bagi dirinya.

“Peringatan ini amat penting di wilayah pedesaan terutama saat terjadi masa krisis saat ini. Larangan (peringatan hari raya kurban) akan jadi malapetaka juga bagi kawasan pedesaan,” ucap dia.

Menurut catatan data dari Kementerian Pertanian Maroko, pada tahun lalu total transaksi hewan kurban selama peringatan Idul Adha mencapai 12 miliar dirham (sekitar 1,3 miliar dollar AS).

 

Larangan Bepergian

Kekhawatiran muncul setelah media massa lokal dalam beberapa pekan terakhir menuliskan bahwa perayaan hari raya kurban bisa memperparah krisis kesehatan yang diakibatkan oleh berkumpulnya keluarga.

Walau begitu, otoritas di Maroko tak melarang kumpul keluarga, namun mewajibkan protokol kesehatan seperti mengenakan masker dan jaga jarak sosial serta pelanggaran atas protokol itu diancam dengan denda. Namun aturan kesehatan itu sulit diterapkan di pasar dimana banyak pembeli dan penjual tak mengenakan masker.

Maroko pada Sabtu (25/7) pekan lalu mencatatkan 811 kasus baru infeksi Covid-19 dan tambahan 633 kasus baru lagi pada Minggu lalu. Total kasus Covid-19 sendiri telah melampaui angka 20 ribu dan lebih dari 300 angka kematian.

Pemberlakuan larangan bepergian di 8 kota yang mulai diberlakukan pada akhir pekan telah membuat kekacauan di jalan raya dan stasiun kereta karena ada banyak warga yang nekat hendak pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Adha bersama keluarga besar mereka. AFP/I-1

 

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment