Koran Jakarta | November 19 2019
No Comments
Perang Dagang

Petani Kedelai North Dakota Kehilangan Pasar Utama Tiongkok

Petani Kedelai North Dakota Kehilangan Pasar Utama Tiongkok

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

NORTH DAKOTA – Wilayah North Dakota, Amerika Serikat (AS), selama ini menjadi pemasok utama kebutuhan kedelai Tiongkok. Ekspor keledai dari North Dakota ke Tiongkok bahkan lebih besar daripada permintaan untuk negara bagian AS lainnya. Industri di ujung barat laut sabuk pertanian AS itu berada di dekat pelabuhan Pasifik, dan telah menghabiskan biaya jutaan dollar untuk keperluan penyimpanan biji-bijian.

Sentra pertanian juga terus meningkatkan volume tanam sebesar lima kali lipat dalam 20 tahun. Di saat importir kedelai utama dunia menjauhi pasar AS, para petani North Dakota dalam musim tanam kedua tahun ini menjadi kelimpungan karena kehilangan pasar utama yang telah mereka bina selama dua dekade.

Keadaan itu menggambarkan adanya dampak yang tidak merata akibat perang dagang di seluruh AS. Meskipun tarif Tiongkok juga menyasar banyak negara bagian seperti North Dakota, yang merupakan basis utama pendukung Presiden Donald Trump 2016, wilayah yang terletak lebih jauh ke selatan dan timur itu masih dapat mengalihkan kelebihan produksi mereka ke pasar lain seperti Meksiko dan Eropa.

Dengan kehilangan pembeli sekitar 70 persen kedelai negara bagian itu, North Dakota telah kehilangan sumber pendapatan pokok. Pertanian adalah industri terbesar di North Dakota, melebihi sektor energi dan mewakili sekitar 25 persen dari ekonomi wilayah tersebut. “North Dakota mungkin telah menerima pukulan lebih besar daripada wilayah lain, dari situasi perdagangan dengan Tiongkok,” kata CEO Dewan Ekspor Kedelai AS, Jim Sutter.

Dalam survei kondisi kredit pertanian kuartal kedua bulan ini, Federal Reserve Bank of Minneapolis mengatakan sebanyak 74 persen responden di North Dakota melaporkan pendapatan bersih pertanian mereka turun.

Tiongkok telah menutup pintu bagi semua pembelian pertanian AS pada 5 Agustus, setelah Trump meningkatkan perselisihan dengan ancaman tarif tambahan pada impor Tiongkok bernilai 300 miliar dollar AS, berlaku mulai 1 September. 

 

AFP/SB/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment