Koran Jakarta | July 22 2017
No Comments
Magic Flute

Pesona Wayang dan Gamelan Kontemporer di AS

Pesona Wayang dan Gamelan Kontemporer di AS

Foto : Kemlu RI
A   A   A   Pengaturan Font

Keunikan dan keindahan seni budaya wayang kulit dan gamelan Jawa berhasil memukau ratusan pengunjung dari segala umur di Boston, Amerika Serikat (AS).

Pagelaran bertajuk Magic Flute yang diselenggarakan Museum Arkeologi dan Etnologi Peabody milik Harvard University (HU) dan didukung Indonesian Community of New England, Inc. (ICONE, Inc.) ini mampu menarik minat para pencinta seni, pemerhati budaya serta khalayak umum dari berbagai kalangan masyarakat AS maupun Indonesia di Boston dan sekitarnya.

Pagelaran ini merupakan bagian dari eksibisi All the World Is Here, yang salah satu pamerannya bertemakan The Magic of Java, untuk memperingati HUT Museum Arkeologi dan Etnologi Peabody, HU yang ke-150. Selama lebih kurang dua jam, pengunjung disuguhi pertunjukan orkestra gamelan Jawa kontemporer yang dibawakan 14 mahasiswa pasca sarjana dari HU dan Longy School of Music.

Pagelaran ini dipimpin Jody Diamond, Artist in Residence di Department of Music, HU dan Theater Director, Mitchell Polonsky.

Diiringi lantunan orkestra gamelan, karakter pewayangan seperti Garuda, Buta Enom, Sita, Prabu Susarma dan Durga tampil menawan dan energik dalam sandiwara wayang kontemporer Magic Flute yang dibawakan dengan sangat menarik oleh dalang Marc Hoffman, seniman wayang dari negara bagian Maryland yang telah belajar pewayangan bertahun-tahun di Solo, Indonesia. Jody Diamond, yang juga Direktur dari American Gamelan Institute mengatakan, pagelaran ini bermula dari ketertarikan mahasiswa pasca sarjana jurusan musik HU, Hayley Fenn. Hayley tertarik akan tradisi marionette Jerman yang menampilkan sandiwara boneka (puppets act) diiringi komposisi musik dari mahakarya komposer legendaris dunia Mozart berjudul Magic Flute.

“Hayley dan saya lalu berkeinginan untuk menciptakan pagelaran musik kontemporer serupa dengan mengangkat keunikan wayang kulit Jawa diiringi gamelan Jawa,” papar Jody.

Olla Chas, Co-founder and President dari organisasi nirlaba yang menaungi beragam kegiatan kemasyarakatan Indonesia-Amerika ICONE, Inc mengatakan, sebagai masyarakat Indonesia yang bermukim di AS, ia merasa bangga dapat menjadi bagian dari kegiatan seni dan budaya Indonesia seperti ini.

Peran besar institusi pendidikan bergengsi dunia seperti HU dalam menggelar wayang kulit dan gamelan Jawa membuktikan bahwa kebudayaan Indonesia sudah semakin mendunia dan mendapat perhatian khusus dari masyarakat AS.

“Jika orang luar saja memiliki ketertarikan tinggi kepada seni budaya kita, sudah selayaknya kita orang Indonesia bisa lebih bangga dan mempunyai kemauan lebih untuk melestarikan dan menampilkan keanekaragaman budaya Indonesia di manapun kita berada. Ke depannya diharapkan akan semakin banyak lagi kolaborasi serupa yang dapat mengangkat seni budaya Indonesia lainnya,” tambah Olla.

Selain pertunjukan wayang kulit dan gamelan, eksibisi yang mengangkat keunikan sebuah desa di Jawa dan pernah ditampilkan di Chicago World’s Fair juga dipertunjukkan di galeri museum tersebut.

Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat langsung mencoba memainkan wayang- wayang kulit dan menikmati kopikopi lezat khas Indonesia dari Sumatera dan Bali. Ant/pur/R-1

Diplomasi Wayang Kulit

Wayang kulit adalah kesenian unik Indonesia yang disenangi masyarakat dewasa maupun anak-anak, yang kemudian menjalar ke luar negeri dan kini popular di masyarakat Amerika Serikat.

Beberapa pertunjukan wayang kulit pernah digelar antara lain di Delaware, New York, Connecticut, sampai California. Betapa seriusnya mereka menonton dan mendengarkan inti cerita wayang tersebut, kagum terhadap sang dalang yang bertutur, bernyanyi, melucu dalam bahasa Inggris.

Kegiatan memperkenalkan kesenian dan kebudayaan Indonesia di luar negeri, merupakan diplomasi Indonesia yang disalurkan melalui kesenian dan kebudayaan, dan pergelaran wayang kulit ini merupakan salah satu senjatanya.

Javanese Shadow Puppet Play, terutama gamelan sangat popular di AS, dan ini dimanfaatkan KBRI Washington DC dengan memberikan pemakaian “The Indonesian Embassy Javanese Gamelan Ensemble” dipimpin oleh Muryanto, ahli kesenian Jawa, staf Atase Pendidikan dan Kebudayaan.

Pelajaran gamelan diberikan kepada grup-grup pelajar Sekolah Menengah Atas di Washington DC, para mahasiswa, masyarakat AS dan universitas. Muryanto tanpa letih selalu memenuhi permintaan dari universitas di luar Washington DC dalam mengajarkan gamelan.

Melalui kesenian Indonesia ini, berarti tanpa kita sadari telah tersalur dengan baik, hubungan diplomasi kita dengan negara yang bersangkutan. Kiranya banyak jalur yang bisa dipergunakan untuk berdiplomasi di luar negeri, dan banyak cara pula untuk melaksanakannya. VoA/pur/R-1

Pemberdayaan Masyarakat Diaspora

Pada kesempatan berbeda, satu bulan sebelum event Magic Flute, sambutan dan tepuk tangan meriah memenuhi Ruang Presiden dan Ruang Pancasila KBRI Washington DC di wilayah DuPont Circle yang populer di DC sebagai venue pagelaran, mengakhiri gelar pertunjukan wayang kulit yang dilaksanakan selama dua jam penuh.

Acara tersebut menampilkan Wayang Kulit Hanoman Duta (Hanoman the Messenger) oleh dalang Ki Midiyanto, Master of Shadow Pupet dari UC Berkeley AS, dihadiri sekitar 200 spenonton, dengan mayoritas orang bule yang berada diwilayah DC, Maryland dan Virginia (DMV).

Gelaran wayang kulit ini diadakan untuk memperingati HUT ke-12, Sanggar Santi Budaya (SSB), sebagai kelompok kesenian nonprofit yang bertujuan melestarikan seni budaya Indonesia melalui pengajaran, promosi tarian dan musik tradisional.

Selain menampilkan wayang kulit, ditampilkan pula Gamelan Ensemble dari Javanese Group of Indonesian Diplomat Children dan Wilson High School Washington DC Gamelan Group, yang membawakan lagu Dolanan Gambang Suling, Aja Dipleroki, Ayo Praon, Pambagya, Gugur Gunung dan Kumandhang, secara apik.

“Masyarakat Indonesia di AS yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, senantiasa berupaya melestarikan kekayaan seni budaya Indonesia di perantauan, dengan mendekatkan kekayaan Nusantara yang bersifat adiluhung itu kepada publik AS, termasuk kepada kalangan Second Generation diaspora Indonesia setempat,” ungkap Isweni Ishak Bakri, Ketua Panitia.

Sedangkan Sidharto R. Suryodipuro, Deputy Chief of Mission, menyampaikan bahwa KBRI Washington DC selalu mendukung upaya pelestarian, pengembangan dan promosi seni budaya Indonesia di AS, khususnya di wilayah DMV, melalui pemberdayaan kelompok masyarakat atau diaspora Indonesia setempat, sekaligus sebagai bagian dari realisasi memperkuat hubungan bilateral kedua negara. VoA/pur/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment