Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments

Pesan Luhur di Balik Simbol Salib

Pesan Luhur di Balik Simbol Salib
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik
Penulis : Mgr Andrianus Sunarko, OFM
Penerbit : Obor
Cetakan : 2017
Tebal : 229 halaman
ISBN : 978–979-565-800-9

Tulisan tertua yang membicara­kan tentang makna salib adalah surat-surat Paulus, terutama yang berkaitan dengan berita tentang kematian Yesus di salib. Kematian di sini memperoleh makna Kristologi yang positif karena Yesus berperan sebagai Penyelamat, Pembebasan, dan Penebus. Yesus sebagai Mesias yang disalibkan diyakini merupakan puncak pelayanan mesianik-Nya.

Dalam Kristologi salib, Paulus me­mandang Kristus sebagai Adam baru. Kristus telah ditentukan Allah menjadi jalan perdamaian karena iman dalam darah-Nya. Melalui kurban pencura­han darah Kristus, Allah sendiri yang menghapus dosa umat dan memba­talkan hukuman. Dalam ibadat Israel, kurban mewakili dosa-dosa dari orang yang mempersembahkan kurban.

“Kristus yang tanpa dosa oleh Allah dijadikan dosa karena kita. Perbedaan penting antara kurban penghapusan dosa pada umumnya dan Kristus sebagai kurban, prakarsa datang dari Allah dan bukan dari pendosa,” kata Paulus (hlm 130).

Paulus menjelaskan sejumlah kiasan tentang makna kematian Yesus di salib. Dia menjadi kutuk karena dosa manusia. Keadaan manusia di bawah kuasa dosa digambarkan se­bagai keadaan yang terkutuk. Kristus yang menanggung kutuk dan mengi­dentifikasikan diri dengan orang yang tidak taat. Identifikasi itu memungkin­kan manusia luput dari kematian se­bagai hukuman dan menerima berkat Abraham dan janji Roh Kudus.

Peristiwa itu juga digambarkan se­bagai penebusan, sebagaimana orang membayar uang tebusan guna mem­bebaskan seorang kerabat dari perbu­dakan. Demikian juga Kristus disalib demi membayar uang tebusan untuk membebaskan manusia. Ia juga meru­pakan kiasan perdamaian. Kiasan ini mengandaikan keadaan permusuhan antara manusia dan Allah, lalu Allah mendamaikan ciptaan dengan diri- Nya lewat darah salib Kristus.

Menurut Injil Yohanes, hanya da­lam terang kebangkitan, salib dapat menjadi bukti dan tanda nyata kehen­dak kasih Allah yang tak tergoyahkan oleh apa pun. Karena itu, ayat-ayat yang berbicara tentang keharusan penderitaan Yesus sebaiknya dipa­hami bahwa wafat Yesus di salib me­mang merupakan rencana awal dan kehendak Allah sendiri.

Dengan kata lain, kehendak Allah bukanlah agar Yesus Kristus dibunuh di salib. Kehendak Allah, agar Yesus Kristus mengisi peristiwa penderitaan dan wafat di salib dengan sikap positif kasih pada Allah dan sesama, bahkan musuh. Dengan demikian Dia menjadi inspirasi tindakan menyelamatkan du­nia dan manusia. Dalam menempuh jalan salib tersebut, Yesus perlahan-la­han ditinggalkan sendirian. Para imam agung bangsanya sendiri menghukum Dia dan menyerahkan- Nya pada kuasa asing.

Orang-orang Romawi menyalip­kan Dia sebagai musuh kerajaan dan memandang-Nya sebagai musuh ke­manusiaan. Murid-murid-Nya sendiri meninggalkan Dia. Yesus ditinggalkan sendirian, tetapi tetap teguh pada soli­daritas kepada seluruh umat manusia. “Kematian dihayati dan dipahami Ye­sus sebagai ungkapan terjauh dari pe­layanan bagi datangnya kerajaan Allah di dunia. Wafat-Nya dihayati sebagai wafat bagi banyak orang,” (hlm 46).

Bagi Karl Rahner, makna peristiwa salib dan wafat Yesus terletak da­lam Yesus tidak hanya secara pasif menderita kematian. Dia menghay­atinya sebagai perwujudan tertinggi dari kebebasan- Nya untuk setia dan menyerahkan diri kepada Allah Bapa. Yesus satu-satunya manusia yang se­cara sempurna menerima pemberian dari Allah dan itu terjadi justru pada saat Ia menyongsong kematian. Di situ Ia sepenuhnya menyerahkan diri ke dalam kegelapan misteri Allah yang tersembunyi (hlm 139).

Begitulah Yesus mewujudkan karya penyelamatan Allah, dengan mewujudkan hidup-Nya sebagai ma­nusia. Dia memberi contoh sebagai manusia yang mencintai sesama dan menyerahkan diri pada Allah. Dalam kerangka pencarian manusia modern akan makna hidup dan merealisasikan diri, hidup Yesus Kristus bisa menjadi jawaban. Diresensi Yudi Prayitno, Guru SDN Saronggi, Sumenep

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment