Koran Jakarta | June 20 2019
No Comments

Pesan Kebangsaan Idul Fitri

Pesan Kebangsaan Idul Fitri

Foto : koran jakarta/ones
Manusia yang jalinan hubungannya dengan orang lain terganggu, pasti juga akan mengalami kegelisahan. Hidupnya tidak akan bisa tenang. Manusia yang menyakiti orang lain, mendendam, atau melakukan dosa, berarti telah mengotori fitrah kemanusiaannya.
A   A   A   Pengaturan Font
Oleh M Mushthafa

 

Idul Fitri memi­liki makna spiri­tual yang bersifat individual dan sosial. Pada tingkat perorangan, Idul Fitri adalah perayaan kemba­linya seseorang ke fitrah ke­manusiaan yang suci setelah melalui tempaan puasa satu bulan penuh. Melalui olah ro­hani pengendalian diri selama bulan puasa, pribadi yang ber­hasil akan meraih kemenang­an dengan kembali ke status asal penciptaan seperti terlahir suci.

Pemahaman tentang makna spiritual Idul Fitri secara sosial dapat berangkat dari pema­haman fitrah individual manu­sia. Menurut M Quraish Shihab, penamaan manusia dengan kata al-insan dalam bahasa Arab yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia di­ambil dari kata uns yang berarti senang atau harmonis. Artinya, manusia memiliki fitrah men­dasar untuk menjalin hubung­an baik yang bersifat harmonis dengan sesama.

Manusia yang jalinan hu­bungannya dengan orang lain terganggu pasti juga akan mengalami kegelisahan. Hidupnya tidak akan bisa te­nang. Manusia yang menyakiti orang lain, mendendam, atau melakukan dosa, berarti telah mengotori fitrah kemanusiaan­nya.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, di antara pesan Idul Fitri yang penting digarisbawahi, do­rongan untuk menjaga dan memperkuat jalinan harmoni antarmanusia. Berbagai feno­mena kehidupan kebangsaan dalam beberapa tahun terak­hir menunjukkan, ancaman terhadap harmoni kebangsaan tidak pernah usai. Memang be­nar di balik keragaman bangsa juga tersimpan potensi bekerja sama menuju bangsa yang unggul. Namun, tidak sedikit pula gejala yang menunjukkan bahwa harmoni itu dapat ter­ganggu.

Salah satu pengganggu yang semakin mengkhawatirkan, persebaran hoaks karena in­tensitasnya semakin mening­kat dan dampaknya semakin meluas mulai dari lokal hingga nasional. Menurut Kementeri­an Komunikasi dan Informa­tika, dalam empat bulan pertama tahun 2019, perse­baran hoaks media sosial terus meningkat. Kemen­kominfo mencatat ada 175 hoaks di bulan Janu­ari 2019. Kemudian, 353 (Februari), 453 (Maret), dan 486 (April).

Hoaks yang mengancam harmoni kebangsaan ini ter­utama berkaitan dengan isu politik. Identifikasi Kemen­koninfo, periode Agustus 2018 hingga April 2019, dari 1.731 hoaks, 620 di antaranya masuk dalam kategori politik dan 210 masuk kategori pemerin­tahan.

Hoaks di bidang politik terkait pe­milu yang baru usai digelar. Dampak perse­barannya mem­buat masyarakat terbelah ke da­lam kubu-kubu politik yang te­rus membangun narasi dishar­moni yang tidak sehat. Beberapa dampaknya bah­kan berupa tindak kekerasan seperti Mapol­sek Tambelangan di Ka­bupaten Sampang pada 22 Mei lalu akibat hoaks yang ditelan mentah-mentah.

Narasi disharmoni terus terbangun terutama di me­dia sosial, disusun oleh kaum awam yang memang ku­rang berpendidikan hingga dilakukan oleh mereka yang secara formal sudah cukup terdidik. Nara­si disharmoni dan an­caman perpecahan sangat mengganggu kehidupan berbang­sa dan bernegara karena jalan untuk membangun dan me­ningkatkan mutu kehidupan masyarakat akan terhambat. Nalar dan emosi warga banyak dikotori informasi sesat, se­hingga ruang kerja sama untuk berbuat kebajikan menyempit.

Secara teknis, hoaks dapat diatasi dengan klarifikasi dan peningkatan literasi. Kemen­kominfo sendiri tak hanya ber­henti mengidentifikasi hoaks di internet, tapi juga memverifika­si dan memvalidasi, sehingga diharapkan dapat memulihkan keadaan. Selain Kemenkom­info, banyak komunitas yang juga gigih mengidentifikasi dan mengklarifikasi hoaks.

Harmoni kebangsaan yang terancam hoaks dapat juga dilawan dengan mem­perkuat makna spiritual Idul Fitri khususnya dalam konteks fitrah harmoni manusia seba­gai makhluk sosial. Dengan merayakan Idul Fitri, umat Is­lam khususnya didorong men­jernihkan sikap batin dalam memandang dan berinteraksi dengan orang lain.

Dalam literatur dan tasawuf, umat Islam sering diingatkan tentang bahaya prasangka, dengki, dan dendam. Dalam sebuah hadis, Nabi Muham­mad Saw mengingatkan agar kita berhati-hati dengan pras­angka karena bisa serupa be­rita bohong. Dalam hadis yang lain dikatakan, jika di benak terlintas prasangka buruk ten­tang orang lain, jangan mela­yani dan melanjutkannya de­ngan tindakan lain.

Hoaks tentang “polisi Tiong­kok” dalam aksi demo yang berlanjut rusuh pada 21–22 Mei lalu dapat menjadi cermin dan pelajaran tentang tindakan ceroboh dan grusa-grusu yang dipupuk oleh prasangka. Pe­laku tanpa menyadari dapat mengganggu harmoni dan mengancam keutuhan bangsa.

Sikap dengki juga tak kalah berbahaya. Imam Syafi’i (w 820) mengingatkan, setiap per­musuhan sejatinya dapat diha­rapkan bisa membaik, kecuali yang didasari sikap dengki. Si­kap dengki mengotori pikiran seseorang, sehingga menutup pintu nalar dan hati yang jernih.

Maaf dan Cinta

Prasangka dan dengki men­gotori hati, sehingga meng­ganggu fitrah harmoni sebagai modal pokok dalam memba­ngun kehidupan berbangsa dan bernegara. Idul Fitri meng­ajarkan agar umat terus belajar mencapai tingkat ketulusan maaf yang sejati. Maaf adalah wujud kesadaran bahwa den­dam, kebencian, dan kema­rahan hanyalah penghalang kebebasan yang justru memer­angkap kita di ruang ego yang sempit dan pengap.

Orang yang mampu mem­beri maaf dapat menahan diri dari upaya membalas dendam. Menurut ajaran Islam sebagai­mana tertuang dalam Surah An Nahl ayat 125, membalas dengan setimpal itu diizinkan. Akan tetapi, memaafkan itu jauh lebih baik. Jalaluddin Ra­khmat menerangkan, memaaf­kan itu lebih baik. Menurutnya, manusia cenderung membalas lebih buruk, sehingga terjer­embap ke perilaku zalim.

Dalam kehidupan sosial, maaf di sini tentu saja tidak berarti kita menafikan nilai dan dampak perilaku buruk, zalim, dan tidak adil. Perbuatan bu­ruk tetap harus diadili. Namun, maaf di sini lebih sebagai sebu­ah sikap batin dalam melihat dan membuka jalinan dengan orang lain. Sebab, tertutupnya pintu maaf juga berarti tertu­tupnya kemungkinan jalinan harmoni dan kerja sama de­ngan orang lain.

Pada lapisan makna yang terdalam, memaafkan adalah ungkapan cinta. Memberi maaf dengan tulus merupakan ung­kapan cinta pada orang yang dimaafkan. Ini tingkat terting­gi sikap batin memaafkan. Jika terus dipupuk akan menjadi kekuatan besar dalam merawat harmoni kebangsaan.

Umat Islam yang sudah menjalani puasa harus berbe­sar hati bahwa dirinya sudah berhasil melewati jihad dan latihan batin menaklukkan berbagai bentuk nafsu sepan­jang bulan. Inilah yang perlu terus dijaga. Sebab di antara pesan kebangsaan Idul Fitri yang cukup kontekstual saat ini adalah panggilan untuk senantiasa menjaga fitrah har­moni kemanusiaan sebagai dasar bagi upaya untuk terus menebarkan kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Penulis Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment