Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments
Strategi Pembangunan - Pacu Industri Manufaktur demi Pertumbuhan Berkualitas

Pertumbuhan Sulit Melaju Kencang

Pertumbuhan Sulit Melaju Kencang

Foto : Sumber: Badan Pusat Statistik – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font
Investasi merupakan salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi agar terbebas dari middle income trap.

 

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indone­sia dinilai masih sulit untuk melaju kencang dan mampu beranjak dari kisaran lima persen, dalam waktu dekat ini. Sebab, salah satu mo­tor utama pertumbuhan tinggi, yakni investasi yang memadai, masih sulit untuk dipenuhi.

Ekonom Indef, Nawir Messi, mengemuka­kan Indonesia masih terlalu sulit menggapai pertumbuhan ekonomi di kisaran 6–7 persen, menyusul capaian pertumbuhan dalam bebe­rapa tahun terakhir.

Menurut dia, berdasarkan pola pertumbuh­an ekonomi yang terjadi, Indonesia mengalami pola pertumbuhan ekonomi yang moderat. “Bahkan yang diumumkan BPS (Badan Pusat Statistik) tidak menunjukkan kecenderungan naik. Jadi, kalau untuk ke 6–7 persen rasanya terlalu jauh,” tegas dia, di Jakarta, Kamis (7/2).

BPS, Rabu (6/2), mengumumkan pertum­buhan ekonomi Indonesia pada 2018 sebesar 5,17 persen. Meskipun pertumbuhan itu tercatat merupakan yang tertinggi dalam lima tahun ter­akhir, namun capaian tersebut masih jauh di ba­wah target APBN yang sebesar 5,4 persen.

Nawir menambahkan Indonesia membu­tuhkan pertumbuhan sekitar 7,3 persen per tahun untuk bisa naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi dan lolos dari jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle income trap. “Motor-motor pertumbuhan un­tuk terbebas dari middle income trap itu di as­pek investasi,” ungkap dia.

Guna mencapai pertumbuhan di atas 7 persen maka dibutuhkan tambahan investasi sebesar 1,481 triliun rupiah atau tumbuh 43,03 persen di­bandingkan pada 2018. “Ini tantangan besar saat kita harapkan pertumbuhan ekonomi bisa 7 per­sen tapi investasi justru turun,” papar dia.

Berdasarkan kalkulasi Nawir, bila pertum­buhan ekonomi 2019 ditargetkan sebesar 7,5 persen, dengan angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sama dengan 2018 yang sebesar 6,3 persen, maka investasi harus men­capai 4.925,9 triliun rupiah atau bertambah se­besar 1.481 triliun rupiah dari realisasi investasi di 2018. Angka ini berarti tumbuh 43,03 persen dibandingkan tahun lalu. ICOR dapat diartikan sebagai banyaknya kebutuhan investasi yang di­perlukan untuk mendapatkan satu unit output.

“Dari kecenderungan yang ada, bila tingkat pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 persen, de­ngan sekarang kita tumbuh 5,17 persen, maka dibutuhkan lonjakan investasi 14,42 persen. Untuk investasi tumbuh 43 persen, ini peker­jaan yang sangat berat,” tukas Nawir.

Oleh karena itu, dia mengharapkan peme­rintah melakukan berbagai perubahan untuk mengatasi hambatan investasi di Tanah Air. Nawir pun menyoroti faktor tenaga kerja yang saat ini dianggap sebagai salah satu pengham­bat pertumbuhan investasi.

“Sudah saatnya untuk melihat kembali apa­kah rezim ketenagakerjaan saat ini masih me­narik investor atau tidak. Jangan sampai sistem ketenagakerjaan ini menjadi penghalang bagi investasi khususnya investor asing,” jelas dia.

Selain itu, imbuh dia, berbagai masalah se­perti tingkat korupsi, kemudahan dalam bi­rokrasi, regulasi, hingga koordinasi antara pe­merintah pusat dan daerah pun harus diatasi agar bisa menarik investasi.

Profil Pertumbuhan

Sementara itu, ekonom senior, Faisal Basri, memaparkan sama seperti tahun-tahun sebe­lumnya, penopang utama pertumbuhan 2018 adalah sektor jasa atau sektor non-tradable. Dari 14 sektor jasa, 11 di antaranya tumbuh di atas per­tumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Kon­disi ini tidak berubah dibandingkan pada 2014.

Sebaliknya, lanjut dia, ketiga sektor pengha­sil barang (tradable) tumbuh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Sektor industri manu­faktur yang merupakan penyumbang terbesar bagi PDB terus melanjutnya penurunan peran­nya, dari 20,52 persen pada 2016 menjadi 20,16 persen pada 2017 dan turun lagi ke aras di ba­wah 20 persen tahun 2018.

“Tiada pilihan lain, kecuali mengakselerasi­kan industri manufaktur untuk membuat per­tumbuhan ekonomi lebih berkualitas,” tutur dia, seperti dikutip dari blog pribadinya.

Dari sisi pengeluaran, lanjut dia, pertum­buhan konsumsi rumah tangga meningkat cu­kup signifikan dari 4,94 persen pada 2017 men­jadi 5,05 persen pada 2018. “Faktor inilah yang menjadi kunci pertumbuhan PDB bisa lebih tinggi tahun lalu, mengingat sumbangan kon­sumsi rumah tangga lebih dari separuh PDB,” papar Faisal. ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment