Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Strategi Pembangunan - Produktivitas Sektor Riil Kunci Kemajuan Perekonomian

Pertanian dan Sektor Riil Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi

Pertanian dan Sektor Riil Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

>> Abaikan kemandirian pangan dan sektor riil, RI bisa masuk low income trap.

>> Produk nilai tambah dan pertanian minim dukungan pemerintah.

 

JAKARTA - Pembangunan sektor perta­nian pangan dan industri sektor riil dinilai merupakan lokomotif pertumbuhan eko­nomi nasional. Oleh karena itu, pemerintah mesti mendukung secara masif pengem­bangan kedua sektor tersebut sehingga bisa memacu pembangunan sektor-sektor lain­nya, seperti sektor jasa.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Masyhuri, mengatakan sebenarnya Indo­nesia dengan populasi 260 juta orang atau keempat terbesar di dunia merupakan ne­gara konsumen besar. Sayangnya, karena kesalahan strategi pembangunan, kini In­donesia kalah jauh dari Tiongkok, meski­pun pada tahun 1970-an sama-sama men­jadi negara miskin. (Lihat infografis)

“Kuncinya pada produktivitas sektor riil. Dan, yang terutama adalah membangun kemandirian pangan, kemudian bangun industri dasar yang kuat, beralih ke indus­tri nilai tambah kemudian membangun industri teknologi tinggi,” papar dia, ketika dihubungi, Senin (28/1).

Masyhuri menambahkan yang terpen­ting adalah dukungan masif atau 100 per­sen dari pemerintah dengan berbagai kebi­jakan, misalnya ada hambatan masuk atau barrier to entry untuk barang impor.

“Di Indonesia justru sebaliknya. Pemerin­tah malah membela importir yang memati­kan industri dan pertanian nasional. Bahkan, dalam e-commerce pun, lebih dari 90 persen berupa barang impor,” ungkap dia.

Padahal, pertanian pangan dan sektor riil ibaratnya adalah jantung ekonomi nega­ra, yang memompa darah ke seluruh tubuh. “Kalau kita hanya ditransfusi darah terus atau bergantung impor, kapan bisa man­diri,” tukas dia.

Masyhuri pun mengingatkan jika peme­rintah tidak membela kemandirian pangan dan sektor riil, maka lama-lama Indonesia akan terjebak dalam stagnasi pertumbuhan, bahkan bisa terjadi pertumbuhan negatif. “Ini berkorelasi dengan masuk pada low income trap, bukan lagi middle income trap,” tegas dia.

Menurut dia, konsep bergantung impor sudah jalan sejak puluhan tahun, tapi te­rus dibiarkan. Kelemahan Indonesia adalah mengabaikan pembangunan kemandirian pangan dan sektor riil. Pemerintah cende­rung memacu konsumsi dan sektor jasa untuk pertumbuhan. Padahal, semestinya konsumsi dan jasa itu dampak positif dari pertumbuhan.

“Ibaratnya, konsumsi dan jasa adalah gerobak. Kudanya, pertanian pangan dan sektor riil. Jadi, kuda mesti di depan untuk menarik gerobak. Tidak bisa dibalik, gak mungkin gerobak narik kuda,” jelas Masyhuri.

Transformasi Struktural

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Ma’ruf, menge­mukakan transformasi struktural perekono­mian Indonesia mesti dimulai dari sektor pertanian yang kokoh, kemudian memba­ngun industri sektor riil dengan memper­kuat industri dasar, baru kemudian menuju pengembangan sektor jasa.

“Kita industri dasar saja gak punya, ja­ngan mimpi bisa langsung ke revolusi industri 4.0. Industri dasar gak bisa berta­han dengan baja impor,” imbuh dia.

Dia menambahkan, produk nilai tambah dan pertanian minim dukungan pemerintah, dikalahkan oleh impor sehingga Indonesia cuma menjadi target industri perakitan.

Di sisi lain, Ma’ruf menegaskan bahwa sektor jasa bisa berkembang jika pendapat­an dari sektor riil berkembang. Sebab, pe­ngembangan sektor riil menghasilkan efek pengganda atau multiplier effect sehingga ada peningkatan kualitas hidup.

“Sektor jasa tak bisa berkembang tan­pa pertumbuhan sektor riil sebagai fondasi ekonomi dan sumber utama pertumbuhan. Tak ada fondasi ekonomi yang kuat jika kon­sumsi dari impor, bukan dari produksi na­sional,” papar dia.

Begitu pula dengan sektor properti. Me­nurut Ma’ruf, sektor itu tidak mungkin berkembang jika sektor riil dan pertanian pertanian tidak berkembang. “Masyarakat mau bayar cicilan KPR dari mana? Mesti­nya dari sektor riil dan sektor pangan yang dihasilkan dari tanah kita sendiri. Tanpa itu, gak ada daya beli untuk kembangkan sektor lain, seperti jasa. Seluruh infrastruktur ber­kembang jika sektor riil tumbuh,” papar dia. YK/SB/ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment