Koran Jakarta | October 14 2019
No Comments
Pers dan Demokrasi | Tantangan Pers Kini Semakin Berat di Tengah Persaingan Politik

Pers Pilar Demokrasi yang Sehat

Pers Pilar Demokrasi yang Sehat

Foto : KORAN JAKARTA/M FACHRI
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD.
A   A   A   Pengaturan Font
Perjalanan demokrasi Indonesia yang semakin maju dan berkualitas, tak terlepas dari peran pers. Dengan kebebasan pers itulah demokrasi menemukan bentuknya saat ini.

 

BOGOR – Pers tidak sekedar mengabarkan berita dan informasi. Tapi sebagai pilar keempat demokrasi, pers punya tanggung jawab juga ikut menegakkan konstitusi. Karena itu pers harus sehat. Sebab jika pers sehat, demokrasi pun ikut sehat.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, mengatakan itu saat jadi narasumber dalam acara sosialisasi hak-hak kontitusi warga negara di Pusat Pendidikan Konstitusi dan Pancasila, Cisarua, Bogor, Selasa (27/2).

Menurut Mahfud, pers punya peran besar dalam membuka kran demokrasi di negeri. Bahkan demokrasi yang sekarang sedang dinikmati salah satunya karena andil pers. Tanpa pers, mungkin tak ada demokrasi.

“Peran pers sehat inilah yang membuat bangsa mampu berdemokrasi seperti sekarang ini. Begitu penting perannya pers ini, saudara punya tegas besar. Menegakkan konstitusi dalam bernegara,” katanya.

Lebih lanjut Mahfud mengatakan, di antara pilar demokrasi lainnya, pers adalah pilar paling sehat. Sebab, pilar lainnya, seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif, mulai dihinggapi berbagai penyakit yang membuat integritas serta citranya tercoreng. Banyak yang kemudian terjerat korupsi. Jadi langganan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Legislatif contohnya, mungkin pilar demokrasi yang paling parah. Citranya melorot di mata publik karena berbagai kasus culas yang terjadi, mulai dari korupsi dan kolusi. Begitu juga dengan yudikatif, pilar demokrasi lainnya.

“Lebih parah lagi. Perkara di pengadilan. Makanya saya menganjurkan kalau punya masalah jangan ke Pengadilan, nanti diperas sampai habis oleh mafia pengadilan, saya lebih menyarankan saudara tidak berperkara,” kata Mahfud.

Tapi pers pun, bukan berarti tak ada tantangan, maka Mahfud. Bahkan tantangannya berat dihadapan pada belitan kepentingan politik, yang acapkali itu masuk ke dapur redaksi. Walau begitu Mahfud masih percaya pada pers. Kepentingan pemilik modal, seringkali membuat media bersangkutan tidak berimbang.

Ungkap Kebenaran

Sebelumnya, Wakil Ketua MK, Anwar Usman, sempat menuturkan kisah seorang wartawan asal Mesir yang menurutnya sangat pemberani. Ia wartawan, sekaligus aktivis. Kata Anwar, umur wartawan itu sudah cukup sepuh, ketika reformasi bergulir di Mesir. Wartawan itu namanya Nawal El Sadawi. Ia tak sekadar seorang wartawan yang mengungkap kebenaran dalam tulisannya.

Tapi juga ia turun di berbagai arena demonstrasi untuk menjatuhkan rezim otoriter yang berkuasa saat itu, Presiden Husni Mubarak. “Tapi ada semboyan beliau, sebuah ungkapan beliau yang luar biasa. ketika itu. Apa pun saya lawan, kecuali maut. Luar biasa. Begitulah wartawan mestinya,” kata Anwar.

Jadi kata Anwar, jangan takut mengungkap kebenaran. Dan jangan menutupi sebuah fakta. Agama mengajarkan, katakan yang benar, jika telah datang yang benar. Apabila kebenaran itu datang melalui tulisan, maka akan muncul juga kebatilan. Dan sesungguhnya kebatilan itu pasti akan hancur. ags/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment