Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Layanan Perpustakaan

Perpusnas Expo Dorong Peningkatan Minat Baca

Perpusnas Expo Dorong Peningkatan Minat Baca

Foto : ISTIMEWA
"TALKSHOW" PENULIS | Dari kiri, moderator Suradi, pejabat Perpusnas, Titiek Kismiati, novelis Kanti W Janis, dan penulis Nasir Tamara, usai mengisi talkshow tentang penulis dan perpustakaan, di Gedung Perpustakaan Nasional, Rabu (2/9).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Perpustakaan Nasional yang kini memiliki gedung baru setinggi 27 lantai itu merupakan gedung per­pustakaan tertinggi di dunia terus menggelar kegiatan un­tuk memberikan sarana bagi masyarakat dan akses infor­masi yang melimpah menge­nai kepustakaan dan ilmu pe­ngetahuan. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan sejak 12 hingga 15 September ini ada­lah Perpusnas Expo.

“Salah satu kegiatan untuk meningkatkan kunjungan pe­mustaka (mereka yang meman­faatkan layanan perpustakaan) adalah dengan Perpusnas Expo yang bertepatan dengan ‘Hari Kunjungan Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca’ yang telah ditetapkan oleh Presiden Soeharto pada 14 September 1995,” ujar Kepala Pusat Jasa Perpustakaan, Titiek Kismiyati, saat membuka Perpus Expo, kemarin.

Titiek menjelaskan, untuk memasyarakatkan dan menso­sialisasikan pembudayaan keg­emaran mebaca masyarakat, menjadi tanggungjawab ber­sama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Dalam acara Perpusnas Expo digelar berbagai aca­ra, mulai pameran yang me­nampikan stan berbagai per­pustakaan milik pemerintah dan swasta, pameran, bazar, beragam lomba, workshop, dan talkshow bertema “Penulis dan Perpustakaan di Era Revolusi Industri 4.0” yang menampil­kan narasumber Ketua umum organisasi penulis Satupena, Dr. Nasir Tamara, novelis Kanti W Janis, dan Titiek Kismiyati. Acara ini dipandu penulis dan jurnalis, Suradi dari Koran Ja­karta.

Dalam takshow, Nasir Ta­mara dan Kanti W Janis men­ceritakan bagaimana proses kreatif mereka untuk meng­hasilkan karya-karya bermutu yang bermanfaat buat pem­baca dengan memanfaatkan perpustakaan.

Kanti W Janis menceritakan bagaimana dia harus mem­pelajari kondisi sosial dan bu­daya Bali untuk menulis novel­nya yang berjudul “Saraswati”.

Sebaliknya, Nasir Tarama yang dikenal dengan bukunya “Revolusi Islam Iran” juga me­nilai perpustakaan ibarat laut­an ilmu yang ketika masuk, kita akan betah berlama-lama. sur/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment