Perokok Lima Kali Berisiko Terpapar Korona | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2020
No Comments
Pandemi Global I Sembilan Daerah Memiliki Kasus Aktif Lebih dari 1.000

Perokok Lima Kali Berisiko Terpapar Korona

Perokok Lima Kali Berisiko Terpapar Korona

Foto : Sumber: Covid19.go.id
A   A   A   Pengaturan Font
Kebiasaan seorang perokok memegang rokok secara berulang-ulang berpotensi sebagai transmisi penularan Covid-19.

 

JAKARTA – Perokok lebih berisiko terjangkit virus Co­vid-19 dua hingga lima kali lebih besar dari orang yang ti­dak merokok.

“Itu bisa dilihat bahwa dalam studi-studi yang ada terlihat bahwa seorang pero­kok itu terjadi infeksi Covid-19 hampir dua sampai lima kali yang lebih tinggi,” kata Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, di Graha BNPB, Ja­karta, Rabu (12/8).

Agus menjelaskan em­pat penyebab yang membuat perokok lebih berisiko terjang­kit Covid-19. Pertama, karena pada perokok terdapat resep­tor AC2 lebih banyak dibanding bukan perokok. “Kita ke­tahui reseptor AC2 ini adalah tempat duduknya virus SARS Cov-2 di saluran napas atau­pun organ-organ lain,” ujar dia.

Kemudian, penyebab kedua, merokok bisa menurunk­an imunitas tubuh, terutama di bagian saluran pernapasan. Padahal sistem kekebalan sangat berperan penting untuk menghambat terjadinya infeksi virus dan bakteri.

“Ketika seseorang perokok kemudian terjadi infeksi, maka migrasi dari pada sel-sel imu­nitas itu akan menurun. Dan fungsinya juga menurun aki­batnya ketika terinfeksi akan terjadilah kondisi yang lebih luas dan cenderung menjadi lebih berat termasuk pada Co­vid,” lanjut dia.

Penyebab ketiga adalah ko­morbisitas atau penyakit pe­nyerta. Kebanyakan penderita Covid-19 memiliki komorbid.

“Jadi hampir penyakit pe­nyakit komorbid ini lebih banyak ditemukan pada seorang perokok. Akibatnya, tentu ketika seorang perokok memiliki ko­morbid akhirnya memudahkan risiko terjadi Covid,” ungkap dia.

Sementara itu, penyebab terakhir adalah kebiasaan seorang perokok memegang rokok secara berulang-ulang. Menurut dia, hal itu bisa ber­potensi sebagai transmisi penularan Covid-19, meng­ingat tangan yang digunakan untuk merokok belum tentu dalam kondisi bersih.

“Itulah yang menjelaskan kenapa seorang perokok me­ningkatkan risiko terinfeksi Covid-19. Dan meningkatkan risiko terjadinya inhalasi atau meng­hirup virus itu melalui transmisi lewat tangan,” ucap dia.

Menurunkan Imunitas

Agus juga mengingatkan, asap rokok bisa menurunkan imunitas yang sangat diper­lukan tubuh untuk mencegah berbagai macam infeksi, ter­masuk virus korona (Covid-19). “Bahwa seorang perokok, asap rokok itu sudah terbukti dapat menurunkan sistem imunitas. Sistem imunitas atau sistem kekebalan tubuh, terutama pada imunitas saluran napas,” kata Agus.

Agus mengatakan bahan dalam asap rokok terbukti mengganggu proses migrasi berbagai sel-sel imunitas tu­buh ketika melawan infeksi. Hal itu juga sudah banyak dibahas dalam berbagai ma­cam jurnal penelitian. “Aki­batnya, ketika terinfeksi akan terjadilah kondisi yang lebih luas dan cenderung menjadi lebih berat termasuk pada Co­vid-19,” ujar dia.

Penularan Covid-19 terus terjadi hingga saat ini. Pada Se­lasa (12/8/2020), tercatat kasus positif bertambah 1.942 orang. DKI Jakarta menjadi provinsi terbanyak kasus positifnya dengan jumlah tambahan pasien positif Covid-19 sebanyak 529 orang.

Berikutnya, Jawa Timur dengan penambahan 303 kasus, Jawa Tengah dengan penamba­han 179 kasus, serta Jawa Barat dan Sumatera Utara masing-masing dengan penambahan 109 kasus.

Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, mengatakan ada sembilan daerah yang saat ini masih memiliki kasus aktif Covid-19 lebih dari 1.000. Lima kota di DKI Jakarta masuk kategori tersebut.

“Ada sembilan kabupaten/kota yang menyumbangkan kasus aktif lebih dari 1.000 ka­sus,” ujar Dewi dalam talkshow yang ditayangkan YouTube BNPB, Rabu.

“Ini setara dengan 1,75 persen. Ini paling berbahaya dan harus kita beri perhatian ekstra,” tutur dia.

Kesembilan daerah itu, yak­ni Kota Surabaya (1.283 kasus), Jakarta Timur (1.305 kasus), Jakarta Selatan (1.309 kasus), Kota Medan (1.377 kasus), Kota Makassar (1.511 kasus), Kota Semarang (1.681 kasus), Jakarta Utara (1.775 kasus) dan Jakarta Pusat (2.213 kasus).

Dewi menuturkan mayori­tas daerah tersebut merupakan kawasan perkotaan dengan mobilitas masyarakatnya yang tinggi. n jon/Ant/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment