Koran Jakarta | September 24 2018
No Comments
Antisipasi Krisis - Kurangi Kebergantungan Ekspor pada Komoditas Primer

Perluas Pasar Ekspor untuk Hadang Dampak Perang Dagang

Perluas Pasar Ekspor untuk Hadang Dampak Perang Dagang

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
>>Dampak tak langsung perang dagang, Indonesia akan dibanjiri barang dari Tiongkok.

>>Indonesia mesti perkuat industri manufaktur nasional demi memacu kinerja ekspor.

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Sejumlah kalangan mengemukakan guna menghadang dampak buruk perang dagang global maka Indonesia harus memacu pembangunan industri manufaktur dan memperluas negara tujuan ekspor. Sebab, industri manufaktur dinilai merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional yang berkelanjutan.

Pertumbuhan manufaktur berpotensi menghasilkan efek berantai yang berdampak luas mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga ekspor. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Ari Kuncoro, mengatakan untuk menghadang dampak perang dagang ini kuncinya adalah pembangunan manufaktur dan perluasan pasar ekspor.

Sebab, kalau sektor manufaktur bisa mengalihkan ekspor bahan baku baja ke tempat lain, selain AS maka ekspor Indonesia tetap terjaga. “Namun, yang dikhawatirkan jika Tiongkok mengalihkan pasar ekspor besar-besaran dari AS ke Indonesia. Itu berarti industri logam dasar kita bisa kena juga,” jelas dia, di Jakarta, Senin (12/3).

Ari menambahkan, sambil melihat perkembangan perang dagang, Indonesia harus mengeksplorasi pasar baru, terutama ke Timur Tengah, Uzbekistan, Kirgistan, Afrika, dan Asia. “Mereka itu lagi kaya. Jadi jangan hanya komoditas, tapi manufaktur kita bisa dijual ke negara lain,” papar dia.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, Kamis lalu, secara resmi menandatangani bea tarif impor baja dan aluminium di tengah meningkatnya penolakan dari kelompok bisnis dan mitra dagang di seluruh dunia. AS akan mengenakan tarif 25 persen untuk baja impor dan 10 persen untuk aluminium, hal itu berpotensi memicu perang dagang karena munculnya aksi balasan dari mitra dagang AS.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, mengingatkan Indonesia perlu memperkuat keanekaragaman negara tujuan ekspor untuk meninimalkan efek perang dagang yang ingin diciptakan negara adikuasa tersebut.

“Jadi, kuncinya bagi Indonesia bisa navigating to the trade war, terutama ya kita harus mendiversifikasikan tujuan ekspor, baik komoditas maupun tujuan. Jadi, jangan hanya terpaku pada barang-barang yang ada,” ucap Bambang, pekan lalu. Menurut Bambang, Indonesia pun rentan mengalami imbasnya.

Pasalnya nilai ekspor besi dan baja Indonesia pada 2017 mencapai 3,82 miliar dollar AS. Dari jumlah itu, sekitar 120,28 juta dollar AS disumbang dari pasar AS. Ekonom CORE, M Faisal, mengatakan dampak tersier dari perang dagang ini adalah membanjirnya barang-barang Tiongkok ke Indonesia.

Di satu sisi, ini sangat menguntungkan karena Indonesia yang tengah membangun infrastruktur akan mendapatkan barang yang lebih murah. Namun, bagi industri hulu bakal dapat saingan. “Jadi akan merugikan industri hulu Indonesia,” kata dia.

 

Perkuat Manufaktur

 

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengimbau pemerintah untuk memperkuat industri manufaktur demi menggenjot kinerja ekspor nasional. Ketua Umum Kadin, Rosan Perkasa Roeslani, menilai Indonesia harus memiliki industri manufaktur yang kuat kalau ingin meningkatkan pertumbuhan nilai ekspor.

Jika tidak, Indonesia akan semakin tertinggal dengan negara lain. Semua kementerian terkait, menurut Rosan, harus terintegrasi untuk meningkatkan ekspor Indonesia. “Indonesia harus punya industri yang kuat. Industri apa? Industri manufaktur. Kalau tidak, yah pasti akan ketinggalan dan makin tersalip dengan negara lainnya,” ujar dia, belum lama ini.

Saat ini, Indonesia dinilai mengalami stagnasi industri, bahkan deindustrialisasi. Sebab, kontribusi manufaktur produk domestik bruto (PDB) terus menurun. (lihat infografis) Rosan menambahkan nilai ekspor Indonesia rendah karena kebergantungan pada komoditas. “Kalau dilihat kenapa sih itu (ekspor) kalah, produk ekspor Indonesia hampir 80 persen komoditas,” tutur dia.

Menurut Ari, meski hanya terkena dampak tersier, bukan berarti Indonesia cukup hanya dengan berpangku tangan dan menunggu apa yang bakal terjadi di depan mata. Indonesia harus memperkuat diplomasi ekonomi secara bilateral dengan AS. 

 

ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment