Koran Jakarta | April 26 2019
No Comments
Perdagangan Global I Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diturunkan

Perlu Antisipasi Perang Dagang Bakal Berlanjut

Perlu Antisipasi Perang Dagang Bakal Berlanjut

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Apabila tidak bisa menaikkan ekspor, Indonesia harus mampu mengerem pertumbuhan impor.

 

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai “gencatan senjata” perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok tidak bersifat permanen. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi negara di dunia, khususnya yang mengandalkan perdagangan internasional, akan melambat dalam dua tahun mendatang.

Bahkan, ekonomi Indonesia juga akan terkena dampak tidak langsung dari meningkatnya ketegangan perdagangan tersebut. Untuk itu, pemerintah mesti segera mengantisipasi dengan memperkuat fundamental ekonomi, dengan target utama mengurangi impor dan memacu kinerja ekspor.

Ekonom CORE, Piter Abdullah, mengatakan sebenarnya pemerintah bisa melakukan beberapa hal sambil menunggu dua Raksasa Ekonomi Dunia tersebut bersepakat, yaitu memperkuat diri. Artinya, Indonesia tidak boleh terlalu bergantung pada global. “Selama kita masih rentan. Masih bergantung pada kondisi global, apa pun yang diputuskan negara besar, seperti AS dan Tiongkok, kita hanya menerima akibatnya, tidak bisa berperan aktif di situ,” kata dia, di Jakarta, Kamis (6/12).

Hal senada dikemukakan ekonom Sampoerna University, Wahyoe Soedarmono. Menurut dia, dari sisi tantangan eksternal, faktor utama yang harus diwaspadai adalah risiko geopolitik akibat tekanan perdagangan antara AS dan Tiongkok serta negara maju lainnya. “Kondisi eksternal telah berdampak pada defisit neraca transaksi berjalan yang terus meningkat dan telah mencapai 3,37 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) pada kuartal III-2018.

Ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Kondisi ini hampir sama dengan tahun 2013–2014,” papar dia. Piter menambahkan yang harus dilakukan Indonesia saat ini adalah mengerem pertumbuhan impor. “Kalau kita tidak bisa menaikkan ekspor, yang bisa kita lakukan adalah mengerem pertumbuhan impor,” kata dia.

Menurut dia, banyak hal yang harus dilakukan pemerintah untuk menekan pertumbuhan impor, salah satunya memperbaiki struktur industri. “Yang kedua, impor itu untuk barang industri dan konsumsi. Dan, barang konsumsi itu harus dipikirkan. Yang sudah dilakukan, seperti kewajiban B20 harus dievaluasi kembali. Tidak cukup itu,” tukas Piter.

Dia mengakui di tengah-tengah perlambatan ekonomi global yang disebabkan oleh perang dagang, upaya mendorong ekspor memang sulit dilakukan. Sebab secara teori, perang dagang akan menutup potensi atau menurunkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang terlibat perang dagang.

 

Proyeksi Pertumbuhan

 

Sementara itu, lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan dari 5,1 persen menjadi 5 persen.

Dalam laporan “Global Economic Outlook”, Fitch mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi lantaran menilai Indonesia masih rentan dengan sentimen eksternal. Ini terlihat dari pertumbuhan impor yang lebih kencang dibandingkan ekspornya. “Sektor eksternal berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kami perkirakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan akan turun ke 5 persen,” jelas Fitch. Selain itu, koreksi pertumbuhan ekonomi itu juga disebabkan pasar finansial Indonesia kian mengetat akibat kenaikan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (7DRRR) yang merespons pengetatan likuiditas di AS.

Fitch menambahkan kebijakan pembatasan impor dengan menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) impor beberapa waktu lalu juga diperkirakan akan menambah beban keuangan pelaku usaha. Hal ini tentu akan berdampak pada ekspansi dunia usaha. Pasalnya, jika ongkos pembiayaan meningkat, maka beban belanja modal juga ikut terkerek.

Senada dengan Fitch, lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara berkembang akan relatif melambat pada 2019. Hal itu disebabkan berbagai gejolak yang melanda perekonomian global, seperti perang dagang antara AS dan Tiongkok, dan siklus kenaikan suku bunga Bank Sentral AS.

Analis senior di Moody’s Investor Service, Joy Rankothge, mengatakan ia tidak yakin kesepakatan gencatan senjata yang dicapai ASTiongkok akhir pekan lalu akan bersifat permanen. Oleh karena itu, ekonomi dunia masih perlu waspada. 

 

ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment