Koran Jakarta | July 21 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi 2019 I IMF: Awan Badai Bayangi Perekonomian Dunia

Perlu Antisipasi Ancaman Krisis Keuangan Global

Perlu Antisipasi Ancaman Krisis Keuangan Global

Foto : Sumber: WEO Oktober 2018; IMF – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font
Utang pemerintah yang tinggi akan menghambat kapasitas untuk memotong pajak dan meningkatkan belanja guna mendorong ekonomi.

 

JAKARTA – Indonesia harus mengantisipasi peringatan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menge­nai ancaman bakal terjadinya krisis keuangan global. Sebab, jika pernyataan IMF itu benar-benar terjadi maka perekonomian nasional ba­kal terdampak, terutama pada pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan ekspor akibat per­lambatan pertumbuhan global.

Ketua Pusat Kajian Ekonomi Kerakyatan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Mu­nawar Ismail, mengatakan pemerintah harus serius menanggapi peringatan IMF itu, meng­ingat belakangan ini Indonesia telah terpapar dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Sen­tral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.

“Bila perekonomian global bergejolak, dam­paknya akan sampai di kita juga. Ini terutama bisa terlihat dari melemahnya kurs rupiah. Apalagi, AS diprediksi masih akan menaikkan bunga acuan pada tahun depan,” ujar dia, ke­tika dihubungi, Selasa (11/12).

Pelemahan rupiah terjadi karena dana glo­bal keluar dari pasar Indonesia atau capital outflow, untuk beralih ke pasar yang dinilai le­bih aman dan memberikan keuntungan lebih menarik terutama AS.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Maxensius Tri Sambodo, menambahkan gejolak global di­khawatirkan akan berpengaruh pada kinerja ekspor Indonesia.

“Karena kalau ekonomi global melambat, daya beli masyarakat luar semakin berkurang. Itu artinya ekspor kita akan terganggu. Dam­pak tersebut bisa ditekan jika kita bisa ambil celah ke pasar ekspor lain yang non-tradision­al,” kata dia.

Mengenai peringatan IMF, Wakil Direktur Pelaksana IMF, David Lipton, mengemuka­kan bahwa awan badai sedang berkumpul dan membayangi perekonomian global. Menu­rut dia, pemerintah dan bank sentral di dunia mungkin tidak cukup siap untuk menghadapi badai tersebut.

Lipton menilai bahwa pencegahan krisis be­lum lengkap selama lebih dari satu dekade se­jak krisis sistem perbankan global yang terakhir pada 2008. “Kita mesti mengatasinya, ‘perbaiki atap saat mentari bersinar’. Namun, seperti ke­banyakan dari Anda, Saya melihat awan badai berkumpul, dan membayangi proses pence­gahan krisis yang belum lengkap,” ungkap dia, seperti dikutip dari laman The Guardian, Selasa.

Perlu Kerja Sama

Menurut Lipton, secara individu satu negara tidak memiliki cukup amunisi untuk mengatasi krisis mendatang, maka perlu kerja sama dari semua negara untuk menangani isu yang bisa memantik krisis tersebut.

Dia juga memperingatkan bahwa kete­gangan global dapat menekan para pembuat kebijakan dan mendorong mereka ke situasi yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

“Bank-bank sentral sepertinya akan mene­rapkan sejumlah langkah yang semakin tidak biasa pada akhirnya, namun dengan efektivi­tas yang tidak pasti. Kami harus merasa cemas akan potensi kebijakan moneter dalam men­gantisipasi krisis,” kata Lipton.

IMF dalam laporan World Economic Out­look (WEO) edisi Oktober 2018, menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia men­jadi 3,7 persen pada tahun ini dan 2019, dari perkiraan sebesar 3,9 persen yang dirilis April lalu. (Lihat infografis)

Terkait kebijakan moneter itu, Lipton mera­gukan kemampuan The Fed dan bank sentral negara lain untuk memangkas suku bunga guna mendorong ekonomi dalam mengatasi perlambatan global. Dia pun memperingatkan bahwa utang pemerintah yang mencapai level tinggi akan menghambat kapasitas mereka un­tuk memotong pajak dan meningkatkan be­lanja.

Saat berbicara pada forum Bloomberg di London, wakil dari Christine Lagarde itu meng­ungkapkan IMF mengalami kekurangan sum­berdaya atau keuangan saat krisis yang terakhir, sebelum akhirnya dibantu pemerintah negara di dunia sebesar satu triliun dollar AS. “Pelaja­ran dari krisis lalu adalah IMF menanganinya dalam kondisi kekurangan sumberdaya. Ke de­pan, kami mesti berupaya menghindari situasi seperti itu,” tukas Lipton.

Menanggapi hal tersebut, Munawar menga­takan peringatan IMF mesti disikapi pemerin­tah secara hati-hati.

“Jangan melakukan kegiatan yang terlalu ekspansif. Kurangi impor yang masif untuk menjaga perekonomian. Neraca perdagangan dan neraca pembayaran harus dijaga, karena kalau keduanya terus-menerus defisit akan menciptakan krisis bagi negara kita,” ujar dia. AFP/SB/ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment