Koran Jakarta | November 17 2018
No Comments
Pemberdayaan Masyarakat - Pembangunan Maritim Sudah Menuju Arah yang Benar

Perkuat UMKM untuk Membangun Ekonomi Kerakyatan

Perkuat UMKM untuk Membangun Ekonomi Kerakyatan

Foto : istimewa
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pada acara penerimaan penghargaan gelar warga kehormatan “Dau Mening” yang berarti ‘Matahari yang Cerah’ dari masyarakat adat Suku Dayak Kenyah, Kerukunan Tebengang Lung, di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), pekan lalu. Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Ekonomi kreatif bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat dan memperbanyak UMKM. Dengan memperkuat UMKM dapat membangun ekonomi kerakyatan.

 

 SAMARINDA - Menteri Ke­lautan dan Perikanan, Susi Pu­djiastuti mengatakan sektor perikanan, pariwisata, dan per­tanian dapat dijadikan sebagai lahan ekonomi kreatif yang bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat dan mem­perbanyak dan memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Mene­ngah (UMKM). Dengan mem­perkuat UMKM dapat memba­ngun ekonomi kerakyatan.

“Dengan dukungan kepada masyarakat di sektor perikan­an dan pariwista, saya yakin UMKM akan bertarung dengan kuat sehingga mampu mem­bangun ekonomi kerakyatan,” kata Menteri Susi saat mene­rima penghargaan gelar war­ga kehormatan “Dau Mening” yang berarti ‘Matahari yang Cerah’ dari masyarakat adat Suku Dayak Kenyah, Keruku­nan Tebengang Lung, di Sa­marinda, Kalimantan Timur (Kaltim), pekan lalu.

Gelar kehormatan tersebut diberikan saat Menteri Susi di­undang untuk membuka aca­ra kerukunan keluarga besar Pumung Bangen nang Pekenu’ (Pesta Kegembiraan dan Ra­mah Tamah) Tebengang Lung 2018. Dalam pernyataan tertulis yang diterima Koran Jakarta, ke­marin, Menteri Susi sangat ber­terima kasih atas pemberian ge­lar kehormatan dan penerimaan warga Dayak terhadapnya.

Pertumbuhan ekonomi Ka­ltim pun akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain dan gini ratio (ketimpangan sosial) akan semakin kecil. Susi yakin potensi pariwisata kelaut­an di Kaltim ini sangat luar bia­sa serta udang, terutama udang tambak dari Kaltim dari dulu terkenal kualitasnya sebagai sa­lah satu yang terbaik di dunia karena warnanya yang hitam.

“Monodon (udang windu) jenis original asli Indonesia. Kalau itu diteruskan akan jauh lebih baik daripada pertamba­kan vaname, karena bagaima­napun juga, vaname ini bu­kanlah udang asli Indonesia. Selain itu sudah banyak penya­kit (udang vaname) yang mulai muncul,” terangnya.

Harus Diperhatikan

Menteri Susi mengingat­kan keberlanjutan tetap harus diperhatikan. Ia pun menyada­ri, pertambakan akan menim­bulkan persoalan-persoalan baru, berupa degradasi kualitas dan produktivitas lingkungan. Oleh karena itu, keseimbangan wilayah tambak dan mangrove harus tetap diperhatikan.

“Jadi kita belajar dari yang sudah-sudah, perlu kese­imbangan antara pembuatan wilayah tambak dan wilayah mangrove. Itu harus dilakukan karena mangrove diperlukan untuk membersihkan air, men­jadi filter dari racun-racun, dan menjadi tempat hidupnya plankton-plankton yang dibu­tuhkan udang itu sendiri dalam pertumbuhannya,” lanjut Susi.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Susi mengatakan akan membantu pengembangan usaha kelautan dan perikanan yang dibutuhkan masyarakat, misalnya dengan restocking ikan alam/endemik di perair­an/sungai, budidaya ikan air tawar, bahkan pengembangan sentra kuliner perikanan jika dibutuhkan.

Menteri Susi meyakini pem­bangunan maritim sudah me­nuju arah yang benar. Terbukti dengan telah lebih dari 10.000 kapal asing keluar dari perairan Indonesia, dan 488 kapal pe­laku illegal fishing telah diteng­gelamkan. Hal ini telah berim­bas pada peningkatan ekspor.

eko/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment