Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Perketat Syarat Desainer Interior Asing

Perketat Syarat Desainer Interior Asing

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kontraktor interior asing kebanyakan berasal dari Eropa dan Korea. Kebanyakan mereka mengerjakan interior perusahaan multinasional.

Desainer interior asing mulai menjajaki pasar interior dalam negeri. Meski pemerintah masih membatasi ruang gerak asing namun keberadaan mereka tidak dapat dipandang sebelah mata. Lea Aziz, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia Pusat mengatakan bahwa desainer interior asing mulai menjejaki pasar dalam negeri.

“Lumayan banyak, terutama dari Malaysia,” ujar Lea ketika ditemui di Tangerang, Kamis (6/9). Sedangkan, kontraktor interior kebanyakan berasal dari Eropa dan Korea.

Kebanyakan mereka mengerjakan interior perusahaan asing. Hal ini disebabkan karena perusahaan asing lebih mempercayai desain interior dilakukan oleh tenaga asing. Sedikit menguntungkannya, sejumlah proyek di dalam negeri terutama proyek pemerintah masih mensyaratkan menggunakan tenaga ahli lokal. Seperti, pembangunan airport yang menggunakan arsitektur dan desainer interiornya dari dalam negeri.

Meski begitu, Lea mengharapkan pemerintah lebih luas dalam melindungi tenaga kerja dalam negeri di tengah persaingan global. Salah satu contohnya di Vietnam, pemerintah negara tersebut memberikan persyaratan ketat untuk desainer interior asing yangakan mengerjakan proyek di negaranya.

Beberapa persyaratannya, para desainer interior diminta untuk memiliki berbagai kemampuan keahlian, jumlah uang tertentu di rekening bank serta perusahaan yang mengerjakan minimal berusia 10 tahun.

”Karena peraturan pemerintah di sana luar biasa, hal inilah yang harus dilakukan PU (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat),” ujar dia yang pernah mengerjakan proyek di Vietnam.

Di sisi lain, terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan menghantam sejumlah industri interior. Hal tersebut tidak lain karena sebagai besar bahan baku produk interior masih impor, seperti bahan baku untuk cat, plitur, sintetis atau bahan baku lampu.

Lea berharap merosotnya nilai tukar rupiah tidak dimanfaatkan untuk memproduksi barang ekspor. Momentum tersebut justru digunakan untuk membeli barang produksi dalam negeri.

“Jangan kayak dulu, orang seneng ekspor daripada beli barang produksi negeri sendiri,” ujar dia. Pasalnya, dia mulai mencermati sejumlah produsen interior Korea banyak melakukan kerja sama dengan pengrajin di Jepara untuk mendapatkan tenaga kerja murah. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment