Koran Jakarta | October 22 2018
No Comments

Perketat Lagi Pelaksanaan Uji Kir

Perketat Lagi Pelaksanaan Uji Kir

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Dunia transportasi darat, khususnya kendaraan bus, kembali memakan korban. Tak tanggung-tanggung, kali ini dua bus yang mengangkut rombongan wisata mengalami kecelakaan hingga menyebabkan korban tewas di wilayah berbeda di Sukabumi, Jawa Barat, pada Sabtu (8/9).

Kecelakaan pertama menimpa bus milik Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) 1010-00, yang terjun ke jurang amat dalam di Tanjakan Cisarakan, Kampung Cisarakan, Desa Buniwangi, Kelurahan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, hingga menyebabkan puluhan luka-luka dan satu orang tewas. Sedangkan kecelakaan kedua terjadi di jalan alternatif Cikidang, Desa Bantarselang, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, yang menyebabkan 21 tewas dari 37 penumpang.

Kita pasti prihatin dengan kecelakaan bus hingga menyebabkan korban tewas. Apalagi, sebagian besar penumpang bus itu hendak menikmati liburan di daerah wisata. Bisa dibayangkan, suasana hati yang semula riang gembira berubah drastis menjadi sedih berselimut duka.

Musibah yang menimpa dua bus wisata tersebut sudah seharusnya tidak terjadi apabila aparat terkait melakukan pengawasan ketat. Sebab, berdasarkan pengakuan penumpang yang selamat dan temuan sementara polisi, bus yang mengalami kecelakaan di Cikidang tampaknya tak layak jalan.

Diperoleh informasi, bus tersebut sempat mengalami mogok yang disebabkan selang solarnya bocor. Lebih dari itu, ternyata bus tersebut tidak melakukan pengujian kendaraan atau uji kir selama dua tahun. Karena tidak mempunyai uji kir membuat bus tidak terjamin aspek keselamatan atau laik jalannya.

Pada kasus kecelakaan bus wisata, sebaiknya para pengguna tidak mengandalkan aparat Kementerian Perhubungan dan polisi saja. Alangkah baiknya, sebelum menyewa bus diperhatikan terlebih dulu kondisi perusahaan bus, apakah berpengalaman menyewakan bus dan mempunyai sumber daya manusia yang kompeten?

Terkadang, sebagian masyarakat penyewa bus cenderung mencari biaya murah semata tanpa memperhatikan faktor keselamatan. Padahal, sebagai konsumen harus kritis atas kondisi bus yang akan digunakan, semisal memperhatikan kelengkapan surat-surat kendaraan, awak bus, hingga kondisi bus. Bahkan, jika di tengah jalan mengalami masalah sudah selayaknya komplain kepada perusahaan bus tersebut.

Kita berharap aparat terkait kembali meningkatkan pengawasan kepada perusahaan bus. Paling tidak, ada kebijakan inspeksi mendadak ke perusahaan-perusahaan bus. Jadi, pengawasan dilakukan tidak hanya di waktu jelang hari raya

Lebaran saja, tapi berkala. Malah, jika perlu diumumkan perusahaan bus yang layak sesuai ketentuan perundangan transportasi darat.
Aparat di jalan juga harus lebih jeli lagi. Jangan sampai jenis kendaraan yang tak sesuai aturan bisa melintas di jalan yang tidak sesuai berat jenis. Alangkah lebih baiknya mencegah daripada terjadi kecelakaan.

Bersamaan dengan peristiwa bus maut ini, sudah seharusnya aparat terkait menggerakan lagi uji kir. Harus ada operasi pemeriksaan kendaraan umum di tengah jalan, terutama tentang kelengkapan kendaraan dan surat-suratnya.

Terpenting lagi tentang kondisi awak bus. Perusahaan-perusahaan bus mesti memiliki standardisasi supir bus dan memberikan penghargaan upah yang layak. Sebab, di tangan supirlah nasib penumpang bus. Jika ada perusahaan bus yang tidak memperhatikan awak bus, sudah selayaknya diberikan sanksi.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment