Perkantoran, Klaster Baru Covid-19 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Perkantoran, Klaster Baru Covid-19

Perkantoran, Klaster Baru Covid-19

Foto : ANTARA/Muhammad Zulfikar.
Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah. Hingga 28 Juli 2020 ditemukan 90 klaster perkantoran di DKI Jakarta sudah terpapar Covid-19 dengan total 459 kasus.
A   A   A   Pengaturan Font

Saat pemerintah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), aktivitas masyarakat di berbagai sektor mulai menggeliat. Beberapa kantor mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Tapi, di balik aktivitas masyarakat yang mulai mengeliat tersebut, kini muncul klaster baru Covid-19 di area perkantoran.

Kantor yang tercatat menjadi klaster baru penularan Covid-19, antara lain pabrik PT Unilever Indonesia di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kemudian perusahaan Hitachi di Karawang, Jawa Barat. Terakhir, kantor Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Kantor RRI terpaksa diliburkan selama 14 hari, terhitung mulai 22 Juli sampai 4 Agustus 2020.

Di DKI Jakarta, terdapat 440 karyawan yang tersebar di 68 perkantoran, yang terpapar Covid-19. Dari 440 karyawan tersebut, 132 karyawan di antaranya di Kementerian, dan sisanya di kantor-kantor daerah dan nasional di Jakarta. Tidak hanya itu, sebanyak 4 perusahaan swasta di DKI Jakarta juga dilaporkan ada pegawainya yang positif Covid-19. Kasus Covid-19 di 4 perusahaan tersebut muncul selama masa PSBB transisi.

Bila ada perkantoran yang karyawannya terpapar Covid-19, maka kantor itu akan ditutup selama 3 hari untuk disterilkan. Karyawan yang terkena Covid-19 diminta mengisolasi diri selama 14 hari.

Ledakan klaster baru di perkantoran dan sejumlah tempat lainnya itu terjadi lantaran masyarakat kurang menyadari dan kurang memahami makna pelonggaran PSBB. Pelonggaran PSBB itu bukan berarti risiko penularan Covid-19 telah menurun. Pelonggaran PSBB yang dilakukan pemerintah bertujuan agar aktivitas perekonomian tetap jalan dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan.

Penyebaran Covid-19 di area perkantoran bukan karena airborne, melainkan lebih kepada perilaku karyawan yang tidak taat protokol kesehatan. Padahal penyebaran Covid-19 di ruangan tertutup seperti kantor dan rumah sakit sangat mudah terjadi. Di rumah sakit rujukan yang menerapkan protokol kesehatan sangat ketat sekalipun masih terjadi penularan. 

Faktor utama penularan di perkantoran bukan karena lingkungan kantor, tetapi lebih pada aspek perilaku karyawan. Seseorang yang sudah saling mengenal satu sama lainnya, ketika bertemu sudah seperti keluarga sendiri, layaknya mereka di rumah. Penularan di perkantoran terjadi bukan pada saat bekerja, tetapi cenderung di saat jam istirahat. Saat istirahat, makan bareng, ngobrol, tapi tidak pakai masker dan tidak jaga jarak. Mereka tidak khawatir karena merasa saling kenal dan merasa dalam keadaaan sehat. Padahal saat ini 60 persen orang yang positif Covid-19 cenderung tanpa gejala.

Tidak ada salahnya bila kita belajar dari negara lain, seperti Tiongkok, Vietnam, Korea Selatan, dan Selandia Baru. Pemerintah negara-negara itu memberlakukan aturan yang ketat dan bertindak cepat bila ditemukan klaster baru. Harus diingat, mengubah perilaku masyarakat itu sangat sulit. Karena itu, perlu pengawasan yang ketat. Yang tidak pakai masker, beri hukuman. Mereka yang berkumpul atau bergerombol harus dibubarkan, apalagi bila tidak mempedulikan protokol kesehatan.

Jika kantor, restoran, dan bioskop akan dibuka harus memenuhi syarat yang banyak dan berat, misalnya ruangan harus dibersihkan sebelum dipakai, kalau memungkinkan pasang neon ultra violet. Cukup di pasang satu jam, namun harus dimatikan begitu orang masuk. Itu amat mengurangi jumlah virus. Kemudian, kantor juga harus menyiapkan air, sabun cuci tangan. Masker yang dipakai saat naik kendaraan umum sebaiknya diganti yang baru saat masuk ke kantor. Selain masker, kalau kita yakin resiko tinggi harus tambah face shield.

Kita berharap semua pihak bersikap waspada dan patuh terhadap protokol kesehatan. Para pekerja di kantor tetap mengenakan masker dan menjaga jarak fisik, serta selalu mencuci tangan sebelum dan usai beraktivitas di kantor. Mari saling mengingatkan dan menegur bila ada orang yang tidak menerapkan protokol Covid-19 di tempat umum. Satgas Covid-19 di seluruh daerah diharapkan turut mendisiplinkan kantor dan lembaga agar menjalankan kebijakan sif sehingga tak ada penumpukan orang saat jam kerja. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment