Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments

Perjuangan Kartini Menentang Budaya Diskriminatif

Perjuangan Kartini Menentang Budaya Diskriminatif
A   A   A   Pengaturan Font

Judul buku : Celoteh RA Kartini
Penyunting : Ahmad Nurcholish
Penerbit : Elex Media Computindo
Cetakan : Maret 2018
Tebal : xxii + 246 halaman
ISBN : 978–602- 04-5598-3

Kartini tidak menentang kaum laki-laki yang saat itu sangat dominan mengatur roda feodalistik. Yang dia tentang adalah budaya diskriminatif yang dibentuk beragam ideologi dan kepentingan di mana ia dipertahankan secara turun-menurun hingga menjadi kemapanan.

Semangat Kartini diinspirasi kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, Bupati Jepara, yang merombak paradigma pendidikan konvensional dengan mengakomodasi pendidikan Eropa untuk anak-anaknya. Terobosan itu mendulang kritik dan tuduhan sebagai antek Belanda.

Namun, dia terus berjalan di rel pendiriannya, tanpa hirau kritikan dan dakwaan tersebut. Kakeknya telah memberinya jalan pendidikan dan akses buku, majalah, dan surat kabar dengan konten yang sangat luas tentang pendidikan Eropa, budaya, dan perkembangan teknologinya.

Berkat itu semua, Kartini bisa mengetahui bahwa budaya Jawa masih feodal, tidak rasional dan diskriminatif terhadap kaum perempuan. “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya,” kata Kartini (hlm 5).

Belanda juga berperan dalam budaya diskriminatif ini dengan memberikan aturan bahwa bupati hanya boleh menikah dengan wanita bangsawan. Dengan melanggengkan stratifikasi ini, Belanda menanamkan mindset bahwa rakyat adalah antitesis kaum bangsawan. Aturan bagi rakyat jelata terhadap kaum bangsawan sangat tegas: patuh dan hormat.

Jangankan kepada Belanda. Kepada bupati yang ditunjuk Belanda, rakyat sudah tidak berdaya. Ini yang membuat Kartini tidak habis pikir saat melihat Ngasirah, ibu kandungnya, harus berjalan jongkok, menyembah-nyembah dan memanggilnya ndoro.

Ngasirah adalah putri rakyat biasa. Dinikahi ayah Kartini, Adipati Ario Sosroningrat, sebelum menjabat Bupati. Ketika diangkat Bupati, sesuai aturan, harus menikah lagi dengan perempuan bangsawan. Ketika Kartini mengatakan “panggil saya Kartini” tanpa embel- embel ndoro, Raden Ajeng atau Raden Ayu, saat itu dia memaklumat pemberontakan terhadap tradisi feodalistik.

Kartini sangat mencintai suaminya, Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, walau telah menjadikannya istri ketiga. Kartini benci poligami, tapi tidak kepada benci orang yang berpoligami.

Mereka sekadar korban budaya dan ideologi yang salah. Kartini justru sangat bangga pada suaminya. Karena bantuan Bupati Rembang ini, dia bisa membuka sekolah perempuan, cita-cita besar yang sudah lama dia impikan.

Beda halnya dengan budaya poligami yang dilegitimasi ajaran Islam, dia gencar mengkritik. Kritikannya sangat tajam dan merambat kepada tradisi pembelajaran Alquran yang menurutnya aneh karena hanya diajari baca, tanpa diajari artinya.

Kepada Stella, salah satu temannya di Eropa, lewat surat dia berkata bahwa membaca Alquran tanpa tahu artinya sama halnya dengan orang yang tidak mengerti bahasa Inggris membaca buku tebal berbahasa Inggris (hlm 178-180).

Dia tidak pernah mengkritik laki-laki secara gender, yang justru dia kritisi segala ketimpangan dalam aspek pendidikan, sosial-budaya dan ajaran agama.

Buku ini merangkum ratusan kutipan pemikiran kritis Kartini tersebut. Pembaca dengan mudah menangkap inti pemikiran Kartini walau akan kesulitan mencari akar persoalan kemunculan pemikiran tersebut.

Biasanya, pemikiran yang lepas dari konteks akan menghadirkan tafsir yang “liar” dan dipasang secara suka-suka untuk persoalan yang mungkin berbeda konteks dengan lahirnya pemikiran tersebut.  Peresensi Lailatul Qodariyah, Alumna Universitas Trunojoyo Madura, Jawa Timur

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment